United Tractors (UNTR) Tebar Dividen Jumbo Rp 1.096 per Saham, Cek Jadwalnya
Emiten Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR) bakal membagikan dividen sebesar Rp 1.096 per saham. Keputusan itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) yang diselenggarakan hari ini, Kamis (16/4).
Dalam RUPS itu pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih konsolidasi Rp 14,8 triliun, dengan sebagian dialokasikan sebagai dividen tunai. Perseroan menetapkan dividen sebesar Rp 1.663 per saham atau dengan total maksimal Rp 5,92 triliun.
Nilai tersebut telah memperhitungkan dividen interim sebesar Rp 567 per saham atau senilai Rp 2,06 triliun yang telah dibayarkan pada 24 Oktober 2025 lalu. Alhasil sisa dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham tercatat sebesar Rp 1.096 per saham.
Dividen yang telah ditetapkan selanjutnya akan diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham per 28 April 2026 pukul 16.00 WIB sebagai recording date.
“Dan akan dibayarkan kepada pemegang saham perseroan pada 18 Mei 2026,” tulis manajemen dalam RUPST di Jakarta, Kamis (16/4).
Sehubungan dengan program pembelian kembali saham (shares buyback) UNTR yang sedang berlangsung, jumlah total dividen tunai yang dibagikan akan bergantung pada jumlah total saham yang berhak menerima dividen berdasarkan Daftar Pemegang Saham Perseroan pada Recording Date Dividen.
Kinerja UNTR Sepanjang 2025
Di samping itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih Rp 14,81 triliun sepanjang 2025. Angka ini merosot 24,16% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya Rp 19,53 triliun.
Pelemahan laba terjadi imbas penurunan kontribusi segmen kontraktor penambangan akibat curah hujan tinggi serta turunnya kinerja segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi seiring harga jual batu bara yang lebih rendah. Penurunan ini sebagian tertahan oleh kenaikan harga emas.
Merujuk laporan kinerja UNTR hingga 31 Desember 2025, pendapatan bersih perseroan tercatat turun 2,32% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 134,42 triliun menjadi Rp 131,30 triliun. Pendapatan ini bersumber dari segmen kontraktor penambangan Rp 54,1 triliun yang turun 7% dan segmen mesin konstruksi melorot 2% menjadi Rp 36,6 triliun.
Kemudian segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang berkurang 7% menjadi Rp 24,2 triliun. Sementara itu, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mencatatkan pertumbuhan 41% menjadi Rp 14 triliun.
“Pendapatan bersih dari bisnis emas dan mineral lainnya meningkat 41% menjadi Rp 14 triliun, terutama disebabkan oleh penguatan harga jual emas,” tulis manajemen UNTR dalam keterangan resmi dikutip Jumat (27/2).
Berdasarkan catatan perusahaan, Dari sisi operasional, anak usaha di bisnis tambang emas yakni PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR) mencatatkan total penjualan setara emas 227 ribu ons, turun 2% dibandingkan 2024. PTAR membukukan penjualan setara emas 213 ribu ons atau turun 7%, sementara SJR mencatatkan 14 ribu ons.
Pada segmen mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu naik 2% menjadi 4.515 unit, didorong oleh peningkatan permintaan dari sektor kehutanan dan perkebunan. Dari total penjualan tersebut, sekitar 60% diserap sektor pertambangan, 14% perkebunan, 15% konstruksi, dan 11% kehutanan. Berdasarkan riset internal, pangsa pasar Komatsu mencapai 20%.
Penjualan produk Scania meningkat 7% menjadi 466 unit, sedangkan UD Trucks turun 34% menjadi 155 unit. Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 3% menjadi Rp11,3 triliun.
Selain itu, melalui anak usaha, UNTR telah merampungkan akuisisi 99,99% saham PT J Resources Nusantara (JRN), anak usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) pada Februari 2026. JRN merupakan pemegang saham perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam yang berlokasi di Sulawesi Utara.
“Pada bulan Februari 2026, Grup menyelesaikan 100% akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas yang berlokasi di Sulawesi Utara,” tulisnya.
