Potensi Merger, Ekspansi, hingga Prospek Bisnis Elnusa (ELSA)

Nur Hana Putri Nabila
29 April 2026, 16:47
Elnusa
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Logo PT Elnusa Tbk di acara IPA Convention and Exhibition (Convex) 2019 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (4/9/2019).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kabar penggabungan usaha atau merger antara dua anak usaha PT Pertamina, PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali berembus. Hal itu seiring dengan mencuatnya rencana konsolidasi BUMN melalui Danantara.

Riset UOB Kay Hian Sekuritas menyebutkan, potensi penggabungan antara Elnusa dan Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) masih dalam tahap peninjauan. Selain itu, UOB Kay Hian juga mengatakan, manajemen ELSA melihat kedua perusahaan memiliki kapabilitas yang saling melengkapi.

“Dengan ELSA berfokus pada perbaikan sumur dan layanan sumur, dan PDSI mengkhususkan diri dalam pengeboran eksplorasi,” tulis analis UOB Kay Hian, Benyamin dan Alden Gabriel dalam risetnya, dikutip Rabu (29/4). 

Rencana aksi korporasi sebelumnya sudah beredar sejak 2024. Namun saat itu Elnusa mengatakan akan mengutamakan optimalisasi kinerja dan keputusan terkait rencana merger atau akuisisi sepenuhnya berada di ranah holding, yakni PT Pertamina (Persero). 

Potensi Ekspansi ELSA

Lebih jauh analis UOB Kay Hian Sekuritas menilai Elnusa memiliki peluang ekspansi ke pengelolaan ladang minyak dan gas berbiaya rendah, khususnya ladang marginal. UOB Kay Hian menyebut ELSA berencana masuk ke bisnis manajemen ladang migas marginal demi mengamankan sumber pendapatan baru. 

Saat ini, bisnis hulu perseroan masih didominasi kontrak proyek jangka pendek dengan durasi sekitar satu tahun, sehingga belum memberikan pendapatan berulang (recurring income).

Dengan kapabilitas teknis yang dimiliki serta struktur biaya yang lebih efisien, kata Benyamin dan Alden, ELSA melihat peluang untuk mengoperasikan ladang marginal yang selama ini dinilai kurang ekonomis oleh operator besar.

Di sisi lain, perseroan juga berpotensi diuntungkan dari dorongan pemerintah untuk mencapai swasembada energi. Apalagi kenaikan risiko impor energi dan tekanan subsidi mendorong kebutuhan investasi yang lebih besar di sektor hulu domestik.

Sebagai penyedia solusi hulu terintegrasi, ELSA menawarkan berbagai layanan, mulai dari survei seismik, dukungan pengeboran, hingga peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR) dan intervensi sumur.

UOB Kay Huan juga menyebut aktivitas sektor hulu mulai menunjukkan pemulihan sejak akhir 2025 seiring proyek-proyek migas yang memasuki fase pelaksanaan.

“Dengan rebound harga minyak baru-baru ini diperkirakan semakin mendukung pengeluaran hulu dan menciptakan peluang kontrak baru bagi ELSA,” tulis analis UOB Kay Hian, Benyamin dan Alden Gabriel.

UOB Kay Hian Sekuritas juga melihat ELSA memiliki peluang pertumbuhan dari ekspansi proyek luar negeri. Perseroan telah beroperasi di sejumlah negara seperti Aljazair, Libya, India, hingga Malaysia.

Seiring menurunnya rasio cadangan minyak terhadap produksi di berbagai negara, kebutuhan investasi eksplorasi diperkirakan meningkat. UOB Kay Hian menyebut kondisi ini membuka peluang bagi ELSA untuk mengamankan kontrak baru di pasar internasional.

UOB Kay Hian merekomendasikan beli untuk saham ELSA dengan target harga di Rp 1.450. 

Kinerja Kuartal I 2026

Jika menilik kinerja perusahaan, ELSA mencatatkan pendapatan Rp 3,6 triliun dan laba bersih Rp 190 miliar pada kuartal pertama 2026, tumbuh 2% secara tahunan (YoY). Margin laba bersih meningkat menjadi 5,2%, sementara EBITDA naik 7% YoY menjadi Rp 423 miliar.

Kinerja ditopang arus kas operasi yang melonjak signifikan menjadi Rp 1,04 triliun atau tumbuh 267% YoY. Posisi kas juga menguat 15% YoY menjadi Rp 3,39 triliun.

Dari sisi bisnis, segmen distribusi dan logistik energi masih menjadi kontributor utama dengan porsi 64% dari total pendapatan, disusul jasa hulu migas terintegrasi sebesar 28% dan jasa penunjang migas 8%.

Sementara itu, total aset perseroan mencapai Rp 11,0 triliun hingga akhir Maret 2026, naik tipis 1% secara year-to-date (YtD), dengan ekuitas meningkat 4% menjadi Rp 5,5 triliun.

Direktur Keuangan Elnusa, Nelwin Aldriansyah menyampaikan, fokus utama perusahaan saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas kinerja.  

“Kami melihat kuartal pertama 2026 sebagai fondasi yang baik, terutama dari sisi arus kas dan efisiensi operasional. Ke depan, disiplin finansial dan selektivitas investasi menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...