Jelang Rebalancing MSCI, Daftar Saham Small Cap yang Rawan Kena Depak
Pengelola indeks global MSCI Inc akan mengumumkan hasil rebalancing indeks untuk periode Mei 2026 hari ini, Selasa (12/5) waktu New York. Dalam review kali ini, perlakuan terhadap saham Indonesia masih berbeda karena MSCI kembali memberlakukan pembatasan terhadap emiten RI.
Dalam pengumuman yang dirilis pada 21 April 2026, MSCI menyatakan tetap membekukan seluruh kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS). Dengan kebijakan tersebut, tidak ada saham Indonesia yang akan ditambahkan ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
MSCI juga tidak membuka ruang migrasi naik antarsegmen indeks untuk saham Indonesia, termasuk perpindahan dari kategori Small Cap ke Standard Index. Selain itu, lembaga indeks tersebut menegaskan akan menghapus sekuritas yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi.
Tak hanya itu, MSCI juga membuka kemungkinan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa lembaga tersebut masih menaruh perhatian besar terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.
Apabila berkaca pada review Februari 2026, absennya penambahan maupun migrasi naik antarsegmen bukan berarti tidak ada perubahan. Pada periode tersebut, MSCI tetap mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks Small Cap dan menurunkan beberapa emiten dari kategori Standard Cap ke Small Cap.
Saat ini, indeks MSCI Indonesia Small Cap terdiri dari 55 konstituen yang merepresentasikan sekitar 14% dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia. Sejumlah emiten dengan bobot terbesar di indeks ini antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Kemudian ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Di sisi lain, indeks utama MSCI Indonesia masih didominasi saham-saham perbankan jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi konstituen terbesar dengan bobot 22,14%, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 13,91% dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 11,18%.
Selanjutnya terdapat PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan bobot 9,50%, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 8,25%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 5,05%, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 3,79%.
Sorotan MSCI juga tertuju pada saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menegaskan pemberlakuan kebijakan khusus terhadap saham yang masuk kategori HSC. Meski demikian, hingga saat ini belum ada rincian lebih lanjut mengenai langkah lanjutan yang akan diterapkan terhadap emiten-emiten tersebut.
Saat ini terdapat dua saham dalam indeks MSCI Indonesia yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). MSCI juga menegaskan tidak akan memasukkan saham baru ke dalam indeks apabila tergolong dalam kategori HSC.
