Gerak Taktis Grup Sinarmas DSSA dan BSDE Rambah Bisnis AI, Bagaimana Prospeknya?

Karunia Putri
12 Mei 2026, 14:59
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten grup Sinarmas
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten grup Sinarmas
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dua entitas bisnis Grup Sinar Mas yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) memperluas ekspansi ke sektor teknologi melalui pengembangan pusat riset kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan robotik di BSD City.

Aksi ekspansi tersebut dilakukan lewat anak usaha DSSA yakni PT ASIX Indonesia Cerdas (ASIX) dengan membangun Pusat Riset Inovasi Teknologi serta Akademi AI dan Robotik serta sistem AI bernama LIBRA. PT ASIX Indonesia Cerdas sendiri merupakan joint lab antara China Mobile dan Sinar Mas.

Langkah ini menandai strategi baru Grup Sinar Mas dalam menggarap bisnis teknologi masa depan, seiring pesatnya perkembangan industri AI dan robotik secara global.

Berdasarkan laporan Technology and Innovation Report 2025 yang dirilis United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), nilai pasar teknologi frontier seperti AI dan robotik diproyeksikan melonjak lebih dari enam kali lipat dari US$ 2,5 triliun pada 2023 menjadi US$ 16,4 triliun pada 2033.

CEO Digital Tech Ecosystem & Development Sinar Mas Land Irawan Harahap mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam transformasi BSD City sebagai kawasan berbasis inovasi teknologi.

Menurut dia, pengembangan pusat riset tersebut sejalan dengan inisiatif perusahaan menjadikan BSD City sebagai pusat riset dan kecerdasan buatan melalui program mBrace atau Make BSD Research and AI Center of Excellence.

“Melalui kerja sama ini, BSD City membuka pintu lebih lebar bagi para inovator, peneliti, dan pelaku industri teknologi untuk bersama-sama membangun ekosistem teknologi berkelanjutan,” kata Irawan dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (12/5).

Melalui nota kesepahaman (MoU), DSSA dan BSDE sepakat mengembangkan pusat riset dan pengembangan atau research and development (R&D) yang akan difungsikan sebagai laboratorium inovasi dan inkubator teknologi.

Fasilitas tersebut juga akan digunakan untuk menjalankan program proof of concept (POC), penyelenggaraan product showcase serta pengembangan Akademi AI dan Robotik. 

CEO sekaligus Presiden Direktur ASIX Indonesia Andrie Tjioe mengatakan pusat riset ini diharapkan menjadi wadah lahirnya talenta digital baru di Indonesia. Andrie menyebut ASIX membawa kapabilitas teknologi dari ekosistem China Mobile yang dipadukan dengan pemahaman terhadap kebutuhan industri domestik.

Sebagai implementasi awal, prushaan menghadirkan Robot K9 ASIX yang akan digunakan untuk mendukung sistem keamanan di kawasan Biomedical Campus BSD City.

Dari sisi DSSA, CEO PT DSST Daya Mas Gemilang Marlo Budiman mengatakan pembangunan pusat riset ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha perusahaan ke sektor teknologi. Menurut dia, penguatan pilar teknologi akan memperkuat integrasi solusi AI dengan infrastruktur digital yang telah dimiliki perseroan.

“Langkah strategis ASIX ini dirancang untuk menciptakan keselarasan strategis di seluruh lini bisnis, terutama dalam mengintegrasikan solusi kecerdasan buatan dengan aset infrastruktur digital yang sudah ada,” kata Marlo.

Pusat riset tersebut berlokasi di D-HUB Special Economic Zone BSD City, yang terhubung dengan berbagai pusat bisnis dan komersial seperti The Breeze hingga Green Office Park. Kawasan ini juga berada di sekitar sejumlah institusi pendidikan internasional seperti Monash University hingga Jakarta Nanyang School.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem teknologi, ASIX juga meluncurkan asisten AI berbasis enterprise bernama LIBRA. AI itu dirancang untuk membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional.

Platform ini dilengkapi berbagai fitur seperti asisten AI, penerjemah dan peringkas dokumen, transkripsi rapat otomatis, generator gambar, hingga fitur subtitle dan dubbing multibahasa.

Andrie mengatakan LIBRA dikembangkan untuk mengurangi beban administratif, mempercepat pengambilan keputusan, serta meningkatkan produktivitas perusahaan.

Langkah Kuda Ekspansi DSSA di 2026 ke Sektor Data Center

Aksi ekspansi ke bisnis AI merupakan salah satu langkah DSSA memperluar bisnisnya di 2026. Meski masih mengandalkan bisnis batu bara, DSSA diam-diam membangun mesin pertumbuhan baru dari sektor digital dari jaringan fiber. Laju DSSA mengebut kinerja makin kencang seiring aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham (stock split) 1:25.

Seiring dengan aksi stock split, DSSA kini terus berkembang menjadi salah satu entitas dengan portofolio bisnis terdiversifikasi di Indonesia. Gurita bisnisnya membentang dari energi dan pertambangan, infrastruktur digital, hingga layanan teknologi dan platform konsumen.

Namun di balik agresivitas ekspansi ke digital, struktur pendapatan DSSA masih sangat bergantung pada batu bara. Secara struktur, DSSA terbagi dalam dua pilar besar, yakni Sinarmas Energy & Infrastructure serta Sinarmas Communication & Technology.

Pilar pertama mencakup tambang batu bara melalui Golden Energy Mines (GEMS), energi baru terbarukan (EBT), hingga sektor kimia. Sementara pilar kedua mengelola aset telekomunikasi dan digital, termasuk MyRepublic Indonesia serta konsolidasi kepemilikan di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Di sisi lain, meski MyRepublic Indonesia telah menjadi pemain FTTH terbesar kedua di Indonesia dengan lebih dari 1,5 juta pelanggan dan 8,7 juta homepass, pangsa pasar yang baru sekitar 11% menunjukkan ruang tumbuh yang besar sekaligus medan persaingan yang ketat. Selain itu, integrasi berbagai entitas, mulai dari telekomunikasi, data center, hingga AI, membutuhkan eksekusi yang presisi.

Meski batu bara masih menjadi fondasi jangka pendek, arah strategis DSSA mulai bergeser. Kontribusi energi fosil secara bertahap akan diseimbangkan dengan pertumbuhan bisnis digital dan EBT.

Mundur ke belakang, tahun 2025 menjadi periode penting dalam akselerasi DSSA. Di sisi digital, DSSA mempercepat pembangunan data center berbasis AI-ready di kawasan CBD Jakarta.

Aksi ini sekaligus memperluas jaringan edge data center di berbagai kota. Infrastruktur ini disiapkan untuk menangkap lonjakan kebutuhan cloud dan data residency domestik. Pergeseran ini terlihat dari penguatan infrastruktur digital, terutama melalui merger MyRepublic dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Aksi ini memperbesar skala jaringan sekaligus memperkuat posisi di pasar fixed broadband. 

Sebagai bagian dari ekspansi bisnis digital perseroan secara agresif menggarap peluang konektivitas melalui pengembangan jaringan fiber optik dan fixed wireless access (FWA),. Langkah ini untuk menyasar potensi pasar telekomunikasi domestik yang besar sekaligus menjembatani kesenjangan digital di wilayah yang belum terlayani.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...