Wajah Baru SMKM Usai Akuisisi Dua Perusahaan Singapura Senilai Rp 1,76 Triliun
Perusahaan konstruksi tradisional PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM) bersiap bertransformasi menjadi perusahaan infrastruktur akuakultur dan ekosistem terintegrasi di tingkat nasional maupun regional.
Transformasi tersebut akan dilakukan melalui akuisisi dua perusahaan asal Singapura, yakni PanAsia Aquaculture Pte. Ltd. Group of Companies (PanAsia Group) dan LSO Organization Holdings Pte. Ltd. (LSO Holdings).
Aksi tersebut akan dimulai dengan penandatanganan Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi PanAsia Group dari Lim Shrimp Org Pte. Ltd. (LSO) dengan nilai transaksi sekitar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,76 triliun dengan kurs Rp 17.666 terhadap dolar AS.
“Sebagai bagian dari integrasi strategis ini, perseroan telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi PanAsia Aquaculture Pte. Ltd. Group of Companies (PanAsia Group) dari Lim Shrimp Org Pte.Ltd. (LSO) dengan nilai transaksi diperkirakan sebesar US$ 100 juta,” tulis manajemen dalam keterangan resmi dikutip Selasa (19/5).
Perseroan menargetkan transaksi tersebut rampung pada kuartal III 2026. Setelah itu, SMKM berencana melanjutkan penguatan rantai nilai ekosistemnya melalui akuisisi LSO Holdings senilai SGD 13 juta. Transaksi ini dijadwalkan selesai pada Juni 2027.
Manajemen menyebut langkah ini menjadi bagian dari transisi SMKM menuju pengembangan ekosistem hilir dan peningkatan kemampuan operasional berbasis teknologi.
Perseroan akan memanfaatkan pengalaman di sektor konstruksi infrastruktur untuk mendukung pengembangan operasi akuakultur terintegrasi dan pembangunan ekosistem infrastruktur regional di Indonesia maupun kawasan ASEAN.
PanAsia Group, di bawah kepemimpinan Chong Chee Hoong, telah mengimplementasikan teknologi smart aquaculture pada fasilitas budidaya udang seluas 37 hektare di Sumbawa dengan 40 kolam operasional. Fasilitas tersebut disebut telah menunjukkan kinerja berkelanjutan sejak 2018.
Operasi akuakultur ini secara konsisten mencatat tingkat kelangsungan hidup udang di atas 80%. Kinerja tersebut ditopang oleh sistem operasional yang disiplin dan penerapan teknologi akuakultur cerdas.
Keberhasilan ini juga diperkuat oleh performa operasi PanAsia di Malaysia Timur yang dinilai mampu mendukung strategi ekspansi regional dan memperkuat kehadiran operasional jangka panjang SMKM di kawasan ASEAN.
Melalui akuisisi PanAsia Group, SMKM juga akan mengelola aset strategis di Sabah, Malaysia Timur, seluas sekitar 49 hektare yang telah beroperasi sejak 1998.
Direktur PanAsia Group Chong Chee Hoong mengatakan transformasi ini merupakan sinergi strategis yang memadukan kapabilitas konstruksi SMKM dengan pengembangan infrastruktur akuakultur skala besar.
Menurut dia, perseroan tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga membangun ekosistem hilir yang mencakup fasilitas pengolahan hingga manajemen rantai pasok global.
“Kami tidak hanya mengelola aset produktif, kami secara progresif membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung oleh transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu ke hilir,” kata Chong.
Dia melanjutkan, perseroan tengah membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu hingga hilir.
Secara strategis, SMKM juga membidik pertumbuhan margin melalui sektor perdagangan dan pengolahan yang ditopang kemampuan pengembangan infrastruktur serta integrasi operasional PanAsia Group.
Dalam lima tahun ke depan, setelah penyelesaian proses reverse takeover (RTO), perseroan menargetkan pembangunan infrastruktur akuakultur regional terintegrasi dengan operasi yang terus berkembang, partisipasi di ekosistem hilirisasi, serta kemampuan operasional berbasis teknologi.
Di pasar saham, harga saham SMKM dibanderol Rp 95 per saham. Angka ini naik 3,30% dalam sepekan. Namun jika dilihat pergerakannya sejak awal tahun, harga saham SMKM merosot dalam 43,71%. Pada 8 Januari 2026 lalu, harga sahamnya tercatat berada di level tertinggi ytd senilai Rp 252, kemudian terjun bebas.
