Saham Multibagger Kehabisan Tenaga, DSSA - DCII Babak Belur Kala IHSG Tersungkur
Setelah lama melesat hingga to the moon, “saham langit” atau saham yang memiliki harga tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai kehabisan tenaga. Hal itu kala Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali ke zaman Covid-19 di level 6000-an.
IHSG ditutup turun 0,8% atau 52 poin ke 6.318 pada perdagangan Rabu (20/5). Level IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.
Kini, indeks makin menjauh dari level 9.000 dan kapitalisasi pasarnya telah menguap hingga Rp 5.028 triliun sejak level ATH itu. Di tengah penurunan itu saham yang biasa dikenal memberi banyak keuntungan atau multibagger seperti saham yang dimiliki konglomerat Otto Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan Grup Sinarmas milik konglomerat Franky Oesman Widjaja, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ikut menjadi pemberat. Pada Agustus hingga akhir 2025 saham DSSA dan DCII merupakan saham yang menjadi penopang utama kenaikan IHSG.
Apabila melihat secara year to date (ytd) saham DCII terkoreksi 1,13%, sempat di harga Rp 226.400. Sedangkan pada Agustus 2025 lalu, saham emiten data center itu menembus level tertinggi atau all time high (ATH) di Rp 359.900. Namun pada perdagangan Senin (18/5) saham DCII turun 2,59% ke Rp 197.750 dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 471,39 triliun. Dalam enam bulan terakhir, DCII sudah tersungkur 27,80%.
Tak hanya DCII, saham DSSA justru makin merana. Secara ytd sudah anjlok 78,22% dan babak belur 73,17% dalam sebulan terakhir dan kini harganya sudah jatuh di bawah Rp 1000. Pada perdagangan Senin (18/5) saham DSSA pun anjlok hingga auto reject bawah (ARB) 14,98% ke Rp 880 dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 169,52 triliun. Pada Rabu (20/5) harga saham DSSA sudah berada di Rp 770 dan turun 5,33% dalam satu hari.
Menilik jejak kejayaanya, harga DSSA sempat menembus level tertinggi di Rp 116.000 per saham pada awal Januari 2026. Bahkan pada Juli 2024 harga saham DSSA sempat menyentuh Rp 260 ribu per saham.
Kemudian usai stock split sahamnya kini tersungkur. Merujuk data BEI harga saham DSSA diperdagangkan pada harga di Rp 2.680 setelah stocksplit yang diperoleh dari penyetaraan untuk stock split 1:25 dari harga penutupan pasar pada Rabu (9/4) di Rp 67.000.
Aksi korporasi ini membuat saham DSSA di pasar menjadi lebih banyak dari sebelumnya 7,7 miliar lembar saham menjadi 192,6 miliar saham. Nilai nominal saham juga berubah dari Rp 25 per saham menjadi Rp 1 per saham. Meski begitu stock split tidak mempengaruhi bobot IHSG dengan kapitalisasi pasar DSSA berdasarkan data terakhir BEI berada di Rp 516 triliun atau setara 7% indeks.
