IHSG Anjlok 1,88% Jadi 5.980, Kembali ke Level Era Covid-19 pada 2021

Nur Hana Putri Nabila
22 Mei 2026, 09:18
ihsg,
Katadata/Nur Hana Putri Nabila
IHSG
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 1,88% ke level 5.980 pada perdagangan saham pagi ini, Jumat (22/5), pukul 09.02 WIB. Levelnya kembali ke periode Pandemi Covid-19 pada 2021, ketika indeks di kisaran 5000-an.

Volume saham yang diperdagangkan 1,95 miliar, dengan nilai transaksi Rp 925,74 miliar dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 10.361 triliun.

Penurunan itu membuat IHSG kembali ke level yang terakhir terlihat saat pandemi Covid-19 pada 2021 yang bertengger di level 5.000-an. Terpantau IHSG sudah anjlok 30% sepanjang year to date (ytd) dan merosot 19,95% dalam sebulan terakhir. 

Padahal level IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.

Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan IHSG saat ini berada pada bagian wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam. Ia menyebut cermati area koreksi berikutnya akan ke rentang 5.899–5.999.

“Batas support IHSG di 5.996–5.899 dan resistance 6.318–6.459,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (22/5). 

IHSG Anjlok meski Bursa Saham Asia Menguat

Berbeda dengan pasar Indonesia, bursa global justru bergerak positif. Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup mencetak rekor pada perdagangan Kamis (21/5) di tengah fluktuasi harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan baru setelah naik 276,31 poin atau 0,55% ke level 50.285,66. Sementara itu, S&P 500 naik 0,17% menjadi 7.445,72 dan Nasdaq Composite menguat 0,09% ke 26.293,10.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap arah kebijakan domestik. Ia menilai, meskipun bursa Asia dan Wall Street menguat, investor masih menahan diri karena sejumlah faktor dalam negeri yang membuat risk appetite terhadap Indonesia belum pulih.

Menurut dia, ada beberapa kebijakan dan isu domestik menjadi perhatian utama pasar. Pertama, kekhawatiran terkait kondisi fiskal dan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). 

Ia menjelaskan, pasar mulai mengantisipasi potensi pelebaran beban fiskal akibat berbagai program besar pemerintah yang membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar. 

Menurut dia, investor khawatir kenaikan kebutuhan pembiayaan tersebut akan mendorong kenaikan penerbitan utang sehingga menekan nilai tukar rupiah dan likuiditas di pasar keuangan.

Kedua, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini. Elandry melihat pelaku pasar masih menunggu kejelasan final mengenai strategi utama pemerintahan Prabowo, terutama terkait agenda industrialisasi, peran BUMN, program hilirisasi, skema subsidi, hingga rencana pembentukan lembaga atau badan baru yang akan memengaruhi arah kebijakan ekonomi ke depan.

“Pasar biasanya tidak suka uncertainty, sehingga muncul sikap wait and see,” ucap Elandry ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (21/5). 

Ketiga, isu intervensi dan meningkatnya peran negara dalam sektor usaha. Elandry menyebut rencana pembentukan badan ekspor komoditas, penguatan peran BUMN, hingga berbagai wacana pengelolaan sektor strategis membuat investor kembali menilai ulang prospek margin emiten terutama di sektor tambang dan komoditas. 

Keempat, tekanan terhadap rupiah dan respons kebijakan. Ia menegaskan bahwa setiap pelemahan rupiah menjadi perhatian pasar, yang pada saat yang sama menuntut adanya respons kebijakan yang kuat dan konsisten dari pemerintah maupun Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.

“Kalau rupiah dianggap rentan, asing biasanya memilih mengurangi posisi di obligasi maupun saham Indonesia,” kata Elandry.

Kelima, daya beli masyarakat dan melambatnya konsumsi masyarakat. Elandry menyebut pasar mulai menangkap adanya indikasi pelemahan konsumsi di kelompok kelas menengah pada sejumlah sektor. 

Kondisi ini membuat saham-saham consumer dan ritel menjadi lebih sensitif karena pelaku pasar mengantisipasi potensi melambatnya pertumbuhan laba.

Keenam, arus keluar dana asing. Ia menjelaskan investor asing saat ini cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang. IHSG pun menjadi lebih rentan terkoreksi meskipun sentimen global sedang positif.

Elandry menilai persoalan utama IHSG saat ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor global. Penurunan ini lebih disebabkan oleh tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan domestik serta prospek stabilitas makroekonomi ke depan.

“Pasar ingin kepastian bahwa pertumbuhan tetap dijaga tanpa mengorbankan disiplin fiskal dan stabilitas rupiah,” Elandry menambahkan. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...