Anak Usaha Telkom (TLKM) Telkomsel Floating Loss hingga Rp 5 T di Saham GOTO
Investasi anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yakni Telkomsel di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih dalam posisi rugi sementara atau floating loss. Hal itu seiring harga saham GOTO yang bertengger di dasar auto reject bawah (ARB).
Pada perdagangan Rabu (3/6) saham GOTO ditutup dan masih bertengger di Rp 50 dengan antrean jual mencapai 184,49 juta lot. Saat ini Telkomsel menggenggam saham GOTO sebanyak 23,72 miliar lembar saham atau sekitar 1,99% di harga Rp 270 per saham.
Apabila dikalkulasikan, floating loss Telkomsel di saham GOTO sudah mencapai Rp 5,22 triliun. Meski secara pergerakan pasar saham GOTO saat ini berada di Rp 50 per saham, posisi itu belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan Telkom.
Dalam catatan laporan keuangan, investasi Telkomsel pada GOTO masih dinilai menggunakan metode nilai wajar (fair value) Level 1, dengan acuan harga pasar pada periode pelaporan. Pada 31 Desember 2025, nilai wajar saham GOTO yang digunakan Telkomsel tercatat sebesar Rp 64 per saham, sementara pada 31 Desember 2024 berada di level Rp 70 per saham.
Berdasarkan penilaian itu, Telkomsel membukukan kerugian yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar investasi masing-masing sebesar Rp 142 miliar pada 2025 dan Rp 380 miliar pada 2024. Kerugian ini dicatat dalam laporan laba rugi konsolidasian sebagai unrealized loss.
Awal Mula Investasi di GOTO
Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id, investasi Telkomsel berawal pada sekitar November 2020 lewat pembelian obligasi konversi (convertible bond) Gojek senilai US$ 150 juta. Aksi korporasi ini berlanjut dengan investasi US$ 300 juta pascamerger Gojek-Tokopedia pada 17 Mei 2021, yang akan disusul dengan pencatatan saham GoTo di bursa melalui initial public offering (IPO).
Investasi tahap dua ini dilakukan Telkomsel melalui pembelian langsung saham Gojek. Bersamaan dengan itu, seluruh obligasi dikonversi menjadi kepemilikan saham. Jika ditotal, maka investasi Telkomsel di Gojek mencapai US$ 450 juta (sekitar Rp 6,4 triliun).
Atas bantuan penasihat investasi BNP Paribas, kedua transaksi ini dilakukan di harga Rp 270 per saham. Dalam perkembangannya, valuasi Gojek pascamerger dengan Tokopedia melejit.
Dari semula di kisaran US$ 10 miliar, menjadi US$ 18 miliar, lalu menggembung menjadi US$ 30-40 miliar atau sekitar Rp 570 triliun. Hal ini dipicu oleh kabar sukses GoTo meraup dana pra-IPO pada November 2021 senilai total US$ 1,4 miliar. Salah satunya dari lembaga investasi Abu Dhabi (ADIA), Uni Emirat Arab, senilai US$ 400 juta.
Telkomsel sebagai salah satu investor GoTo tentu turut menikmati lonjakan valuasi saat itu. Harga GoTo dikalkulasi meningkat menjadi Rp 375 per saham. Dengan kenaikan ini, maka ada unrealized gain Rp 2,4 triliun yang dinikmati Telkomsel. Metodologi perhitungan valuasi ini pun sudah divalidasi oleh Ernst & Young selaku auditor eksternal Telkomsel.
Potensi untung inilah yang juga dicatatkan di laporan akhir tahun Telkom 2021. Masalahnya kemudian, harga saham dan valuasi perusahaan-perusahaan startup teknologi di dunia tertekan hebat. Termasuk penurunan drastis saham Bukalapak, yang juga salah satu unicorn Indonesia.
Ini membuat harga saham perdana GoTo pun hanya bisa dibanderol Rp 338 saat go public pada 11 April 2022. Angka ini juga yang menjadi benchmark pencatatan di laporan keuangan Telkom kuartal I 2022.
Serangan Bertubi-tubi
Tekanan bertubi-tubi menghantam saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) seiring gelombang aksi jual yang terus membayangi emiten teknologi itu.
Hal itu usai lembaga pemeringkat indeks global MSCI membekukan proses rebalancing terhadap saham GOTO karena saham emiten tersebut diperdagangkan di level minimum Rp 50 per saham alias gocap. MSCI menilai kondisi ini menimbulkan potensi masalah replikasi indeks akibat rendahnya likuiditas saham GOTO.
Dalam pengumuman resminya, MSCI menyatakan akan membekukan seluruh perubahan terkait saham GOTO dalam peninjauan indeks Mei 2026. Kebijakan itu mencakup perubahan jumlah saham atau number of shares (NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), faktor pembatas (constraint factors), hingga penambahan maupun penghapusan saham GOTO di indeks MSCI.
MSCI juga akan kembali meninjau likuiditas saham GOTO pada evaluasi indeks Agustus 2026. Jika pada saat itu GOTO tidak memenuhi persyaratan likuiditas, MSCI membuka peluang untuk mengeluarkan saham tersebut dari indeksnya.
Tak hanya MSCI tekanan juga datang dari lembaga pemeringkat FTSE Russell. Dalam pengumuman terbaru yang dirilis 1 Juni 2026, FTSE menyatakan GOTO akan dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index dan berlaku efektif pada pekan terakhir Juni 2026.
"Penghapusan tersebut efektif mulai 22 Juni 2026," tulis FTSE dalam pengumumannya, dikutip Selasa (2/6).
FTSE menjelaskan penghapusan tersebut karena keempat emiten kini tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut FTSE, papan tersebut merupakan segmen pasar yang tidak memenuhi kriteria kelayakan untuk masuk dalam FTSE Global Equity Index Series (GEIS).
Keputusan itu juga sejalan dengan kebijakan perlakuan indeks Indonesia (Indonesia Index Treatment) yang diterapkan dalam peninjauan indeks periode Juni 2026.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, GOTO menyatakan kinerja bisnisnya terus menunjukkan perbaikan. Pada kuartal pertama 2026, perseroan membukukan laba bersih kuartalan pertama sepanjang sejarah perusahaan sebesar Rp 171 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 26% secara tahunan menjadi Rp 5,3 triliun.
Perseroan juga mempertahankan proyeksi adjusted EBITDA grup sepanjang tahun 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Target tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 60% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Fundamental bisnis GoTo kuat dan Perseroan tetap fokus pada pertumbuhan yang disiplin dan menguntungkan, serta menciptakan nilai bagi seluruh pelanggan dan pemegang saham," ujar Head of Investor Relations GOTO Joel Ellis dalam keterangannya, Rabu (3/6).

