Emiten Perkapalan IPCM Buka Suara soal Merger di BUMN hingga Kenaikan BBM

Karunia Putri
9 Juni 2026, 15:20
Emiten
IPCM
Ilustrasi aktivitas kapal PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) di pelabuhan domestik.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten di bawah Grup Pelabuhan Indonesia (Pelindo), PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), buka suara ihwal langkah Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) melakukan penyederhanaan (streamlining) dan restrukturisasi di sektor strategis. Sebagai perusahaan pelat merah, kebijakan itu akan berdampak pada perseroan.

Perseroan menegaskan, setiap aksi korporasi yang dilakukan, termasuk merger perintah dari BP BUMN, harus mampu memperkuat fundamental dan kinerja keuangan emiten perkapalan itu.

Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita mengatakan, saat ini perusahaan masih melakukan evaluasi bersama pemegang saham terkait berbagai opsi pengembangan bisnis, termasuk kemungkinan aksi korporasi di lingkungan Grup Pelindo.

Menurut dia, apabila nantinya terdapat rencana merger atau konsolidasi usaha, langkah tersebut harus mampu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Baik melalui peningkatan efisiensi operasional, daya saing, diversifikasi portofolio bisnis maupun penguatan kondisi keuangan.

"Yang paling utama adalah terciptanya sinergi keuangan. Aksi korporasi yang dilakukan harus menghasilkan struktur modal yang lebih baik, arus kas yang lebih kuat, dan membuat fundamental perusahaan semakin sehat," kata Shanti dalam paparan publik virtual IPCM, Selasa (9/6).

Dia menjelaskan, hingga saat ini proses tersebut masih berada pada tahap evaluasi. Keputusan akhir akan ditentukan oleh pemegang saham setelah seluruh kajian diselesaikan. Dia pun menegaskan, sebagai perusahaan terbuka, IPCM akan mematuhi seluruh ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku apabila terdapat keputusan terkait aksi korporasi.

"Yang terpenting bagi kami, setiap aksi korporasi harus didasarkan pada pertimbangan fundamental yang memberikan manfaat nyata bagi perusahaan, baik dari sisi efisiensi, daya saing, maupun kinerja keuangan," ujarnya.

Menurut Shanti, evaluasi tersebut juga menjadi bagian dari arahan yang saat ini dijalankan oleh berbagai perusahaan BUMN, tidak hanya di lingkungan Pelindo Grup.

Dampak Tren Kenaikan Harga BBM ke Operasional Perusahaan

Di sisi lain, IPCM juga mewaspadai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap biaya operasional perusahaan. Direktur IPCM Arief Hermawan mengatakan, BBM menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam bisnis jasa pemanduan dan penundaan kapal. Karena itu, kenaikan harga BBM berpotensi menekan margin usaha apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Kami telah menerapkan sejumlah langkah mitigasi yang terstruktur dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan kelayakan operasional,” kata dia.

Salah satunya melalui optimalisasi pola operasional armada dan peningkatan koordinasi antara perencana, pandu, serta awak kapal. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi waktu tunggu kapal dan meningkatkan utilisasi armada tanpa mengurangi kualitas layanan kepada pelanggan.

Selain itu, IPCM juga memperkuat pengawasan konsumsi BBM melalui sistem digital yang memungkinkan pemantauan penggunaan bahan bakar secara berkala dan dibandingkan dengan standar operasional masing-masing kapal.

Perseroan juga terus mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Beberapa inisiatif yang telah dijalankan antara lain penggunaan shore connection di sejumlah pelabuhan untuk mengurangi konsumsi BBM saat kapal bersandar serta pemasangan harbor generator pada sekitar 20 hingga 22 kapal tunda.

IPCM juga telah menerapkan teknologi baterai hibrida pada empat kapal pandu. Teknologi ini memungkinkan kapal menggunakan energi baterai saat dalam kondisi tidak beroperasi sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar.

Program tersebut akan diperluas dengan pemasangan sistem serupa pada dua kapal pandu tambahan pada tahun ini.

Menurut Arief, berbagai langkah tersebut tidak hanya bertujuan menekan biaya operasional, tetapi juga mendukung agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan perusahaan.

"Seluruh program efisiensi tetap mengutamakan aspek keselamatan, keandalan operasional, dan kualitas layanan sehingga tidak mengurangi standar pelayanan kepada pelanggan," katanya.

Perseroan juga menyiapkan strategi ekspansi untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Arief menyatakan IPCM telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 74 miliar tahun ini untuk pengadaan armada baru. 

Dia mengatakan, fokus bisnis utama IPCM tahun ini adalah penambahan armada guna memperkuat kapasitas operasional dan meningkatkan kesiapan perusahaan dalam menangkap peluang bisnis baru.

Dia menilai pengembangan armada diperlukan untuk menjaga keandalan layanan, meningkatkan fleksibilitas operasional, serta mendukung ekspansi ke berbagai wilayah dan segmen usaha yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi.

Selain memperkuat armada, IPCM juga melihat peluang pertumbuhan dari pengembangan sejumlah pelabuhan strategis yang berada di bawah Grup Pelindo. Perseroan menilai peningkatan kapasitas pelabuhan akan berdampak positif terhadap kebutuhan jasa pemanduan dan penundaan kapal yang menjadi bisnis inti perusahaan.

Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pengembangan New Priok Container Terminal (NPCT) 1 dan NPCT 2. Pelindo menargetkan kapasitas kedua terminal peti kemas tersebut meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan seiring penetapannya sebagai proyek strategis nasional.

Selain itu, peluang pertumbuhan juga berasal dari pengembangan Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat dan Pelabuhan Patimban di Jawa Barat yang diproyeksikan akan meningkatkan aktivitas logistik dan lalu lintas kapal.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...