IHSG Kembali Tertekan: Ditutup Turun ke Level 5.886, Analis Ungkap Penyebabnya 

Nur Hana Putri Nabila
11 Juni 2026, 16:05
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (11/6). IHSG tercatat melemah 16,34 poin atau 0,28% ke posisi 5.886.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.006.826 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,84 miliar lembar saham senilai Rp 17,37 triliun. Sebanyak 231 saham naik, 446 saham menurun dan 137 tidak bergerak nilainya.

Sebelumnya IHSG sempat mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (9/6) dan Rabu (10/6) setelah sebelumnya mengalami tekanan beruntun selama sepekan terakhir. IHSG bahkan ditutup menyentuh level 5.342 pada perdagangan Senin (8/6). 

Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Selain itu ia menyebut pelemahan juga terjadi karena faktor domestik. 

“Dari eksternal, pasar masih mencermati konflik geopolitik yang kembali memanas sehingga memicu sikap risk-off di sebagian investor,” ujar Elandry saat dihubungi oleh di Jakarta, Kamis.

Elandry menjelaskan, pelaku pasar juga cenderung wait and see sejumlah agenda penting global, terutama rapat FOMC The Fed pada 17 Juni 2026. Agenda terbaru itu disebut berpotensi memengaruhi arah suku bunga global dan pergerakan capital flow (arus dana) ke emerging market.

Sementara dari domestik, ia menyebut pelaku pasar juga merespons adanya isu rencana aksi demonstrasi besar. Rencana itu dinilai berpotensi menambah kehati-hatian investor dalam jangka pendek

“Masih ada anggapan bahwa berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dan otoritas untuk menjaga stabilitas rupiah belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar secara penuh, sehingga tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian investor,” ujar Elandry.

Selama dua pekan ke depan, Elandry menjelaskan pelaku pasar juga menantikan sejumlah agenda penting yang berpotensi meningkatkan volatility. Salah satunya , diantaranya MSCI Accessibility Review pada 18 Juni. Selain itu juga ada keputusan suku bungan BI dalam RDG BI pada 18–19 Juni.

“Serta MSCI Market Classification Review pada 23 Juni yang kembali akan menjadi sorotan investor asing terkait status pasar modal Indonesia,” ujar Elandry.

Elandry mengatakan untuk ke depan perlu melihat area support penting IHSG. Ia menyebut selama indeks masih mampu bertahan di atas area 6.000, koreksi saat ini masih dapat dikategorikan sebagai konsolidasi yang wajar setelah kenaikan sebelumnya.

“Namun, dalam jangka pendek volatilitas berpotensi tetap tinggi sampai pasar mendapatkan kejelasan dari berbagai agenda tersebut,” ujar Elandry.

Dari mancanegara Centcom mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald ​​​​​​Trump.Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harga", apabila terus menunda kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan akan membalas setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.

Selain itu, Trump mengklaim AS telah menjalankan misi rahasia untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global. Seiring dengan itu, komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis (11/6), termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...