Akrobat Dian Swastatika (DSSA) Kebut Diversifikasi Energi-Infrastruktur Digital
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengungkap strategi yang bakal dilakukan perusahaan untuk mendorong akselerasi kinerja di 2026. Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya menjelaskan arah strategi bisnis jangka panjang akan berfokus pada transisi hijau dan penguatan ekosistem digital.
Sepanjang 2025, perusahaan mengalami penyesuaian pendapatan konsolidasi sebesar 7,5% menjadi US$ 2.791 juta di tengah normalisasi harga batu bara. Sementara itu kontribusi segmen infrastruktur digital dan teknologi melonjak dari 4,8% pada tahun 2024 menjadi 7,6% terhadap total pendapatan.
Crisnan menyatakan realisasi kinerja tahun buku 2025 menunjukkan penguatan fundamental operasional di seluruh pilar bisnis utama Perseroan di tengah dinamika pasar komoditas global. Pada sektor pertambangan, DSSA mencatatkan volume produksi batu bara sebesar 57,2 juta ton atau tumbuh 7,7% YoY, dengan volume penjualan yang meningkat 4,4% YoY menjadi 56,7 juta ton.
Pertumbuhan signifikan terjadi di sektor infrastruktur digital dan teknologi yang membukukan kenaikan pendapatan sebesar 47% YoY. Hal ini sejalan dengan ekspansi jaringan yang menghasilkan lonjakan homepass sebesar 64,1% YoY hingga mencapai 10,5 juta homepass serta kenaikan jumlah subscribers sebesar 102,9% YoY menjadi 1,9 juta subscribers.
“Pada saat yang sama, pertumbuhan positif juga ditunjukkan oleh pilar bisnis non-pertambangan lainnya yang tetap mencatatkan kinerja volume penjualan stabil sekaligus memberikan kontribusi yang solid terhadap pendapatan konsolidasi Perseroan,” tulis Krisnan seperti dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Kamis (11/6).
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, perseroan telah merealisasikan sejumlah langkah transformatif besar. Salah satunya melalui implementasi prinsip berkelanjutan di hulu pertambangan.
PT Borneo Indobara (BIB) meluncurkan program elektrifikasi alat tambang terbesar di Indonesia. Inisiatif hijau ini telah memobilisasi sebanyak 176 unit kendaraan listrik dan hybrid hingga Mei 2026 sebagai bagian dari peta jalan strategis menuju pencapaian target emisi net zero pada periode 2028–2029.
Krisnan menjelaskan komitmen terhadap energi baru dan terbarukan (EBT) ini juga diperkuat melalui peresmian pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal. Selain itu jalinan kemitraan strategis bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia, entitas anak First Gen Corporation asal Filipina yang memperluas portofolio panas bumi Perseroan dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW di enam wilayah strategis Indonesia.
Di pilar infrastruktur digital dan teknologi, lompatan besar ditandai oleh aksi merger strategis antara PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic). Mora resmi berdiri secara hukum per 22 April 2026.
Penggabungan usaha ini melahirkan entitas baru yang sangat kompetitif dengan total jaringan kabel fiber optik yang membentang lebih dari 116.000 km. Pencapaian ini dinilai memperkuat posisi MoraRepublic sebagai pemain FTTH terbesar kedua di Indonesia.
Melengkapi ekosistem digital tersebut, DSSA juga bermitra dengan KIRA SG One Pte. Ltd. kini tengah mempercepat pembangunan Metro Data Center (SMX01) berstandar internasional di kawasan CBD Jakarta. Kapasitas itu memiliki kapasitas IT Load 18 MW dan ditargetkan siap beroperasi pada kuartal keempat tahun 2026.
"Fokus kami saat ini adalah mengakselerasi digitalisasi operasional guna memperkuat dan mengoptimalkan kinerja produksi di seluruh lini,” ujar Krisnan.
Di saat yang sama, dia mengatakan DSSA terus mengakselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan memperkokoh infrastruktur digital dan teknologi guna mendorong pertumbuhan yang lebih progresif.Dia menyebut langkah transformatif ini menjadi pilar utama Perseroan dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.
