Rugi OASA Menyusut 28,5% pada 2025, tapi Pendapatan Turun Separuh
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) kembali mencatatkan kinerja negatif sepanjang 2025. Emiten yang bergerak di sektor energi hijau dan pengelolaan limbah itu membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp 45,37 miliar, meski angka tersebut membaik dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 63,51 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit, penurunan rugi OASA mencapai sekitar 28,5% secara tahunan. Perbaikan kinerja itu terutama ditopang oleh adanya keuntungan pada pos lain-lain bersih sebesar Rp 7,38 miliar pada 2025, berbalik dari kerugian lain-lain bersih sebesar Rp 31,29 miliar pada 2024.
Namun, dari sisi operasional, kinerja OASA masih menghadapi tekanan. Pendapatan usaha bersih perseroan turun signifikan menjadi Rp 32,58 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 66,78 miliar pada tahun sebelumnya. Artinya, pendapatan OASA terkoreksi sekitar 51,2% dalam setahun.
Penurunan pendapatan tersebut ikut menekan laba bruto perseroan. Laba bruto OASA turun menjadi Rp 5,41 miliar pada 2025 dari sebelumnya Rp 13,24 miliar. Kendati demikian, margin laba bruto relatif masih terjaga karena beban pokok pendapatan juga turun menjadi Rp 27,17 miliar dari Rp 53,53 miliar.
Tekanan terbesar masih berasal dari beban usaha. Sepanjang tahun lalu, OASA mencatat beban usaha sebesar Rp 49,08 miliar, meningkat dibandingkan Rp 46,67 miliar pada 2024. Kondisi ini membuat perseroan tetap mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp 40,22 miliar, meski membaik dibandingkan rugi sebelum pajak Rp 69,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi laba per saham, kerugian yang ditanggung pemegang saham juga mengalami perbaikan. Rugi per saham dasar OASA turun menjadi Rp 6,74 per saham pada 2025 dari Rp 9,89 per saham pada 2024. Kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan tercatat hampir Rp 42,79 miliar.
Meski masih merugi, kondisi neraca OASA menunjukkan beberapa perubahan positif. Total liabilitas perseroan turun menjadi Rp 63,51 miliar pada akhir 2025 dari Rp 133,12 miliar pada 2024. Penurunan terutama terlihat pada liabilitas jangka pendek yang turun menjadi Rp 49,01 miliar dari Rp 83,68 miliar.
Di sisi aset, total aset OASA tercatat sebesar Rp 621,57 miliar pada akhir 2025, menurun dibandingkan Rp 736,41 miliar pada 2024. Penurunan terbesar berasal dari aset tidak lancar yang turun menjadi Rp 496,91 miliar dari Rp 687,41 miliar.
Kas dan setara kas OASA meningkat menjadi Rp 23,62 miliar pada akhir 2025 dari Rp 4,31 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan kas tersebut didukung arus kas operasi positif sebesar Rp73,05 miliar.
Kendati demikian, arus kas operasi positif tersebut tidak sepenuhnya berasal dari peningkatan aktivitas bisnis utama. Dalam laporan arus kas, penerimaan dari pelanggan tercatat sebesar Rp 50,35 miliar, sementara terdapat penerimaan dari aktivitas operasional lain sebesar Rp 119,97 miliar.
Dari sisi strategi bisnis, OASA masih mengandalkan pengembangan bisnis energi hijau melalui sejumlah entitas anak. Perseroan memiliki beberapa anak usaha yang bergerak di bidang pengelolaan limbah, pemulihan material sampah, hingga pengembangan pembangkit energi berbasis sumber energi alternatif.
Dengan kondisi tersebut, tantangan utama OASA ke depan adalah membalikkan tren penurunan pendapatan sekaligus meningkatkan kontribusi bisnis inti agar mampu menghasilkan laba berkelanjutan. Investor perlu mencermati perkembangan proyek-proyek energi hijau perseroan, mengingat kinerja 2025 menunjukkan perbaikan rugi, tetapi belum diikuti pemulihan pendapatan usaha.
Masuk DPT Gelombang II Proyek WtE Danantara
Pada 22 Mei lalu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengumumkan 85 entitas yang masuk ke dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) gelombang kedua proyek waste to energy (WtE). Nama OASA juga masuk dalam DPT proyek yang digarap melalui Danantara Investment Management (DIM) itu.
Peserta yang lolos akan menjadi calon mitra kerja sama pengembangan dan pengelolaan Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) atau WtE di Indonesia. Selain OASA ada sejumlah emiten lain yang turut masuk dalam daftar itu. Mereka adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).
Hasil seleksi gelombang kedua itu merupakan kelanjutan dari seleksi tahap awal yang sebelumnya dilakukan di wilayah Bekasi Kota, Bogor Raya, dan Denpasar Raya. Jumlah peserta meningkat signifikan dari 24 entitas pada gelombang pertama menjadi 85 entitas pada tahap kedua. Peserta terdiri atas perusahaan dan konsorsium baru maupun peserta yang kembali mengikuti proses seleksi.
CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), Fadli Rahman mengatakan, peningkatan jumlah peserta baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan proyek PSEL memiliki daya tarik investasi yang kuat. “Kami terus berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh proses seleksi mitra PSEL dilakukan secara transparan dan kompetitif, sehingga menghasilkan mitra yang mampu mendukung pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkontribusi dalam penyelesaian darurat sampah di Indonesia,” kata Fadli dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (22/5).
Selanjutnya, DIM akan menerbitkan Terms of Reference (ToR) kepada peserta yang lolos seleksi DPT BUPP PSEL. Informasi mengenai jadwal dan prosedur tahap berikutnya akan disampaikan secara terpisah.
Berdasarkan daftar peserta yang lolos, emiten DAAZ tergabung dalam Konsorsium Daaz Jinjiang Green Energy yang beranggotakan PT Perkasa Eka Cipta Investama dan PT Jinjiang Environment Indonesia. DAAZ juga tercatat dalam Konsorsium ZNJJ Daaz Green Energy bersama PT Jinjiang Environment Indonesia dan PT Perkasa Eka Cipta Investama.
Berikutnya, MEDC masuk dalam Konsorsium Sinergi Mitra Citra yang terdiri dari Samsung E&A, China TianYing dan PT Medco Power Indonesia. Adapun BIPI tergabung dalam konsorium Grup Bakrie yaitu Konsorsium Mentari Citra Lestari yang terdiri atas PT Bakrie Power, PT Acritas Karya Persada, dan SUS Indonesia Holding Limited.
Sementara OASA tergabung dalam Konsorsium Grandblue Maharaksa bersama Grandblue dan PT Indoplas Dewata Energi.
