Kata OJK soal Anggapan Pidato Prabowo Pengaruhi Pergerakan IHSG
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons anggapan yang berkembang di media sosial bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pemicu pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, meminta investor tetap rasional dalam menyikapi pergerakan IHSG. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial tidak selamanya bisa dijadikan sebagai satu-satunya acuan dalam menganalisis kinerja pasar modal.
Hasan menjelaskan, pergerakan harga saham-saham saat ini dipengaruhi banyak faktor di tengah kondisi pasar yang dinamis dan volatil.
“Tapi pada akhirnya tolong dicermati, setiap saham itu kan di balik nama 4 huruf (kode emiten) ada kegiatan operasi, ada kegiatan bisnis dari perusahaannya, jangan cuma sekadar ngeliat ticker kode yang 4 huruf itu,” kata Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6).
Dia menuturkan di balik kegiatan operasional perusahaan tercatat terdapat kewajiban keterbukaan informasi, termasuk publikasi laporan keuangan setiap kuartal. Menurutnya, laporan tersebut dapat menjadi acuan bagi investor untuk menilai valuasi perusahaan, apakah sudah murah atau mahal, dan melihat prospek usaha ke depan berdasarkan tren kinerjanya.
Selain itu, ia menyampaikan setiap aksi korporasi juga selalu disertai kewajiban keterbukaan informasi yang perlu dicermati lebih lanjut oleh investor. Ia menegaskan agar investor tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Kendati demikian, Hasan mengakui ada kreator konten di media sosial memberikan edukasi yang baik dengan analisis fundamental, teknikal, hingga membahas laporan keuangan emiten.
“Nah saya kira itu lebih bagus dijadikan acuan dibanding hal-hal yang sifatnya tidak rasional atau tidak ada kaitan langsung dengan saham-saham yang melakukan kegiatan operasional secara normal,” kata Hasan.
Sebelumnya, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pelaku pasar tidak bereaksi terhadap pidato presiden semata, melainkan terhadap substansi dan implikasi kebijakan yang disampaikan.
Menurutnya, investor lebih mencermati apakah kebijakan tersebut mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan menopang kinerja emiten di pasar modal.
“Ketika muncul ketidakpastian atau kebijakan yang jauh dari expetasi market sentiment cenderung melemah dan memicu volatilitas pasar,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Selasa (30/6).
