Rupiah Berpeluang Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Tekan Dolar
Mata uang rupiah mengawali perdagangan akhir pekan ini dengan pergerakan yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini Jumat (3/7). Merujuk dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.950 per dolar AS menguat 0,25% atau 45 poin.
Pantauan Katadata, hingga pukul 09.15 rupiah kian menguat di level Rp 17.946 per dolar AS naik 0,27% atau 49 poin. Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di Rp 17.995 per dolar AS, melemah 0,25% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya Rp 17.952 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang lebih rendah dari ekspektasi pasar, meski penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas akibat sentimen investor asing terhadap pasar domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, dolar AS kehilangan tenaga setelah data tenaga kerja menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja, sehingga mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih lemah dari perkiraan. Namun penguatan akan terbatas mengingat sentimen investor asing terhadap pasar domestik masih belum pulih," ujar Lukman.
Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900-Rp 18.000 per dolar AS. Sejalan dengan itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan rupiah berpotensi mencatat apresiasi tipis hingga ke level Rp 17.980 per dolar AS.
Sama seperti Lukman, menurut Fikri sentimen utama berasal dari data Non-Farm Payrolls AS periode Juni 2026 yang hanya mencatat penambahan 57 ribu lapangan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.
Meski demikian, tingkat pengangguran AS justru turun menjadi 4,2%, sehingga pelaku pasar masih akan mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Selain faktor dari Amerika Serikat, rupiah juga mendapat dukungan dari membaiknya sentimen di kawasan Asia-Pasifik. Aktivitas manufaktur dan sektor jasa di Australia maupun Jepang menunjukkan perbaikan.
