Emiten Grup Prodia (PRDL) IPO di BEI, Sahamnya Langsung ARA 35%
Emiten penyedia alat kesehatan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi debut di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat aksi pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada Kamis (9/7). Perseroan menjadi emiten keenam yang melantai di BEI sepanjang 2026 ini.
Pada perdagangan perdananya, saham PRDL dibuka melesat 35% ke level Rp 162 dari harga penawaran. Pada pembukaan bursa pukul 9.00 WIB, volume perdagangan saham PRDL tercatat mencapai 323 dengan nilai transaksi Rp 5,23 juta. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 207 kali.
ARA merupakan batas kenaikan harga saham tertinggi yang diperbolehkan dalam satu hari perdagangan. Saat saham menyentuh ARA, sistem akan secara otomatis menolak pesanan untuk membeli atau menjual efek.
PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Perseroan mematok kisaran harga penawaran Rp 100-Rp 120 per saham. Dari kisaran itu, PRDL menetapkan harga IPO Rp 120 per saham.
Dengan harga tersebut, PRDL menghimpun dana segar mencapai Rp 62,74 miliar. Kemudian perseroan telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Direktur Utama PRDL Cristina Sandjaja mengatakan, perusahaan merupakan pionir reagen kimia. Perseroan saat ini memiliki lebih dari 1.083 SKU produk aktif yang menjangkau 38 provinsi. Jaringan tersebut mencakup sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota serta puluhan institusi kesehatan lainnya.
Dia memandang fundamental bisnis PRDL terus bertumbuh dengan prospek industri yang masih terbuka lebar. Seiring itu, perseroan memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional dan memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.
“Kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional,” kata Cristina dalam pergelaran IPO PRDL di Main Hall BEI, Kamis (9/7).
Profil Perusahaan
Perseroan bergerak di bidang industri alat kesehatan, khususnya produk in vitro diagnostics (IVD). Selain memproduksi alat kesehatan, PRDL juga menjalankan bisnis perdagangan alat laboratorium, alat farmasi dan alat kedokteran, jasa kalibrasi dan metrologi serta layanan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.
PRDL mengklaim memiliki pengalaman dalam pengadaan pemerintah. Pada 2023, perseroan memenangkan tender pengadaan reagen profil lipid senilai sekitar Rp 90 miliar. Sementara pada 2025, perseroan kembali memperoleh pengadaan untuk kebutuhan skrining penyakit kardiovaskular dan APRI Score untuk skrining kanker hati.
Saat ini PRDL telah melayani lebih dari 7.600 pelanggan yang terdiri atas rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium klinik milik pemerintah maupun swasta. Meski demikian, perseroan menilai ruang ekspansi masih terbuka karena lebih dari 47% fasilitas kesehatan dan sekitar 38% dinas kesehatan kabupaten/kota di Indonesia belum menjadi pelanggan.
Manajemen PRDL pun optimis dapat memanfaatkan pertumbuhan industri melalui pengalaman lebih dari satu dekade di bisnis IVD, kemitraan dengan perusahaan internasional, jaringan distribusi yang luas serta layanan purna jual yang mendukung operasional pelanggan.
Mengutip prospektus IPO PRDL, entitas induk dan entitas induk terakhir perusahaan adalah PT Prodia Utama. Sebelum IPO, Prodia Utama menggenggam sebanyak 622,20 juta saham PRDL atau setara dengan 51% sahamnya. Usai IPO, kepemilikan Prodia Utama berkurang menjadi 35,70%.
Grup Prodia Utama ini juga memiliki anak usaha yang telah tercatat di BEI yakni PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA). Dengan kata lain, PRDL merupakan sister holding dari PRDA. Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% per 2 Juni 2026, perusahaan konglomerat Prajogo Pangestu yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat menggenggam 13,89 juta atau setara 1,48% saham PRDA.
