Metodologi Baru HSC Ubah Peta Investasi di Bursa, Investor Selektif Pilih Saham

Karunia Putri
16 Juli 2026, 08:05
Bursa Efek Indonesia
Katadata/ AI
Bursa Efek Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Peta investasi di pasar modal Indonesia akan berubah setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbarui metodologi penilaian daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Pembaruan tersebut dinilai akan mendorong investor lebih selektif dalam memilih saham.

HSC adalah daftar emiten di BEI yangs ebagian besar sahamnya terkonsesntrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.

Dalam metodologi baru itu, BEI menambahkan indikator price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Melalui indikator tersebut, bursa akan menyaring saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham itu masuk kategori HSC.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula nilai velocity-nya.

"Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).

Evaluasi menggunakan indikator price impact ratio akan dilakukan setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

Sementara itu, trigger factor yang selama ini digunakan dalam pengawasan tetap berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala.

Usai menggunakan metodologi baru tersebut, BEI menambah 37 saham ke dalam daftar HSC. Alhasil, jumlah saham yang masuk kategori HSC meningkat dari 14 menjadi 51 emiten.

HSC Jadi Pertimbangan Baru dalam Peta Investasi Investor

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, masuknya suatu saham ke dalam kategori HSC tentu akan memengaruhi persepsi investor. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada karakteristik masing-masing emiten.

Menurut Hendra, label HSC menjadi sinyal bahwa saham itu memiliki potensi volatilitas yang tinggi dibandingkan saham dengan kepemilikan yang lebih tersebar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati.

"Namun, HSC bukan berarti saham tersebut bermasalah atau tidak layak diinvestasikan. Bagi investor yang mengedepankan manajemen risiko, kategori HSC akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi, tetapi bukan satu-satunya faktor," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (16/7).

Dia menegaskan, fundamental perusahaan, prospek bisnis, valuasi, kualitas tata kelola serta likuiditas perdagangan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan investasi. Karena itu, saham dengan fundamental yang kuat diperkirakan tetap diminati meski masuk daftar HSC. Sebaliknya, saham yang fundamentalnya lemah berpotensi menghadapi tekanan sentimen lebih besar.

Hendra juga menilai status HSC tidak otomatis membuat harga saham turun ataupun naik. Dalam jangka pendek, volatilitas memang dapat meningkat karena sebagian investor mengurangi eksposur sebagai langkah antisipasi. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan harga tetap lebih ditentukan oleh kinerja fundamental dan prospek bisnis perusahaan.

"Investor hanya perlu menyesuaikan strategi investasi dengan mempertimbangkan potensi fluktuasi harga yang mungkin lebih tinggi," ujarnya.

Pembaruan Metodologi HSC Perkuat Kredibilitas Pasar Modal

Hendra menilai penyempurnaan metodologi HSC termasuk penambahan indikator price impact ratio merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengawasan pasar modal. Apalagi masukan yang diberikan pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).

Menurut dia, pendekatan baru tersebut membuat identifikasi saham dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi menjadi lebih akurat karena tidak hanya mempertimbangkan komposisi kepemilikan, tetapi juga hubungan antara perubahan harga dan aktivitas transaksi.

Hendra mengatakan kebijakan tersebut mencerminkan komitmen regulator pasar modal dalam memperkuat integritas pasar sehingga berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

Kendri demikian, Hendra mengingatkan, penyempurnaan metodologi HSC bukan satu-satunya faktor yang menentukan daya tarik Indonesia di mata investor global. Likuiditas pasar, kemudahan akses investasi, kepastian regulasi, perlindungan investor serta konsistensi reformasi pasar modal juga menjadi faktor penting.

"Pengetatan kriteria HSC merupakan langkah positif yang memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional di tingkat global," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah Elandry Pratama. Menurut dia, penyempurnaan metodologi HSC merupakan langkah positif untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengawasan pasar.

Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut berpotensi memicu volatilitas pada sejumlah saham akibat penyesuaian sentimen pasar. Namun, dalam jangka panjang, langkah itu diyakini dapat meningkatkan kepercayaan investor.

"HSC sebaiknya menjadi salah satu indikator risiko, sementara keputusan investasi tetap mengacu pada fundamental dan valuasi emiten," ujar Elandry.

Daftar Lengkap 51 Emiten yang Masuk HSC

Berikut 34 emiten baru yang masuk daftar HSC per 14 Juli:

No.Kode EmitenPerusahaanTerkonsentrasi (%)
1AGIIPT Samator Indo Gas Tbk97,75%
2ALIIPT Ancara Logistics Indonesia Tbk97,62%
3BBHIPT Allo Bank Indonesia Tbk92,71%
4BBSIPT Krom Bank Indonesia Tbk99,95%
5BELIPT Global Digital Niaga Tbk93,83%
6BINAPT Bank Ina Perdana Tbk94,79%
7BNIIPT Bank Maybank Indonesia Tbk99,14%
8BNLIPT Bank Permata Tbk99,92%
9*BRENPT Barito Renewables Energy Tbk97,31%
10BTPNPT Bank SMBC Indonesia Tbk99,78%
11BYANPT Bayan Resources Tbk98,50%
12CMNPPT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk96,64%
13CMNTPT Cemindo Gemilang Tbk99,41%
14DCIIPT DCI Indonesia Tbk99,96%
15*DGWGPT Delta Giri Wacana Tbk97,35%
16DNETPT Indoritel Makmur Internasional Tbk98,06%
17*DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk95,76%
18ELPIPT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk98,90%
19FAPAPT FAP Agri Tbk99,77%
20FILMPT MD Entertainment Tbk92,98%
21FITTPT Hotel Fitra International Tbk95,00%
22GEMSPT Golden Energy Mines Tbk99,24%
23*HATMPT Habco Trans Maritima Tbk96,09%
24IFSHPT Ifishdeco Tbk99,77%
25KINGPT Hoffmen Cleanindo Tbk98,40%
26KONIPT Perdana Bangun Pusaka Tbk95,08%
27LIFEPT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk99,21%
28MCOLPT Prima Andalan Mandiri Tbk98,62%
29MEGAPT Bank Mega Tbk95,68%
30*MGLVPT Panca Anugrah Wisesa Tbk95,94%
31*MGROPT Mahkota Group Tbk93,76%
32MKPIPT Metropolitan Kentjana Tbk97,02%
33MLPTPT Multipolar Technology Tbk99,42%
34MORAPT Ekamas Mora Republik Tbk95,65%
35MPROPT Maha Properti Indonesia Tbk99,99%
36PGUNPT Pradiksi Gunatama Tbk99,95%
37POLUPT Golden Flower Tbk99,94%
38PRAYPT Famon Awal Bros Sedaya Tbk99,84%
39RISEPT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk98,03%
40*RLCOPT Abadi Lestari Indonesia Tbk95,35%
41*ROCKPT Rockfields Properti Indonesia99,85%
42SATUPT Kota Satu Properti Tbk94,27%
43SILOPT Siloam International Hospitals Tbk96,70%
44SMARPT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk99,58%
45SOHOPT Soho Global Health Tbk99,93%
46*SOTSPT Satria Mega Kencana Tbk98,35%
47SRAJPT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk97,21%
48STTPPT Siantar Top Tbk94,95%
49*TCPIPT Transcoal Pacific Tbk94,10%
50*WBSAPT BSA Logistics Indonesia Tbk95,82%
51YUPIPT Yupi Indo Jelly Gum Tbk99,91%

*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...