Status HSC Ancam Minat Investor Asing, Apa Risiko hingga Dampaknya ke IHSG?
Aturan baru Bursa Efek Indonesia terkait saham terkonsentrasi dengan kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dinilai berdampak pada bursa saham. Status HSC yang diberikan BEI kepada puluhan emiten memunculkan kekhawatiran baru.
Label tersebut dinilai dapat mengurangi daya tarik saham di mata investor asing akibat tingginya konsentrasi kepemilikan dan rendahnya likuiditas. Hal itu berpotensi akan berdampak pada pergerakan IHSG.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya mengatakan status HSC dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kualitas suatu emiten, terutama dari sisi likuiditas dan tata kelola perusahaan.
Menurut Hendry, saham HSC menjadi penanda bahwa emiten itu memiliki porsi free float terbatas sehingga lebih rentan harganya berfluktuasi akibat likuiditas yang terbatas. Kondisi itu berpotensi memengaruhi penilaian analis maupun pengelola dana atau fund manager terhadap profil likuiditas emiten.
Selain itu, Hendry menilai tingginya konsentrasi kepemilikan saham juga dapat berdampak pada posisi emiten dalam indeks acuan. Apalagi isu konsentrasi kepemilikan menjadi salah satu pertimbangan MSCI saat menyesuaikan komposisi indeksnya pada Mei 2026.
“Saham HSC berpotensi bobotnya dipangkas atau disesuaikan dalam indeks MSCI atau FTSE,” tulis Hendry dalam analisisnya, dikutip Jumat (17/7).
Hendry mengatakan status HSC berpotensi mengurangi minat investor institusi asing, khususnya passive fund berbasis indeks. Menurutnya, investor institusional internasional terbatas untuk melihat free float yang sesungguhnya sehingga lebih berhati-hati memasukkan saham berstatus HSC ke dalam portofolio.
Ia mengatakan tipisnya free float membuat bobot suatu saham dalam indeks menjadi kecil. Akibatnya, passive fund tidak dapat membeli saham tersebut dalam jumlah besar tanpa menggerakkan harganya.
Meski begitu Hendry menilai kebijakan HSC dalam jangka menengah justru bersifat pro terhadap investor institusi asing. Menurutnya, status HSC membuat informasi mengenai free float menjadi lebih transparan. Ia juga mengatakan MSCI menilai pengenalan kerangka HSC sebagai langkah ke arah yang benar.
“HSC dapat menekan minat asing pada 51 emiten terdampak (terutama passive fund) dalam jangka pendek, tetapi memperkuat kredibilitas pasar secara agregat, prasyarat penting agar dana asing kembali masuk,” ucap Hendry.
Risiko Masuk ke Saham HSC
Hendry pun mewanti-wanti sejumlah resiko yang perlu dipahami sebelum masuk ke saham HSC:
- Risiko likuiditas. Free float tipis membuat posisi besar lebih sulit dijual tanpa memengaruhi harga.
- Risiko volatilitas. Harga bisa bergerak tajam naik atau turun dengan volume kecil. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi secara historis lebih rentan pada pergerakan harga yang tidak selalu mencerminkan fundamental.
- Risiko tekanan jual struktural. Bila MSCI/FTSE menyesuaikan bobot, dapat muncul tekanan jual dari passive fund. Investor yang masuk belakangan berisiko menghadapi tekanan tersebut.
- Risiko valuasi. Menurut MSCI, keterbatasan transparansi kepemilikan dapat memengaruhi pembentukan harga yang wajar, sehingga harga pasar perlu digunakan secara lebih hati-hati sebagai acuan valuasi.
- Risiko pengawasan lanjutan. BEI menegaskan faktor pemicu pengawasan lain tetapditerapkan secara insidental, sehingga saham HSC berpeluang lebih besar mendapatnotasi khusus, pertanyaan UMA, atau tindakan pengawasan lain.
“Hold atau sell bagi yang sudah memegang? Tidak ada jawaban seragam, bergantung pada profil saham dan investor,” kata Hendry.
Hendry mengatakan investor cenderung hold saham HSC apabila fundamental emiten tetap solid, berorientasi investasi jangka panjang, dan memiliki porsi investasi yang relatif kecil terhadap likuiditas harian. Ia juga menyarankan investor untuk melihat apakah konsentrasi kepemilikan saham masih dalam batas wajar, misalnya dikuasai oleh induk usaha strategis.
“Untuk saham berkualitas dengan free float tipis namun bisnis riil yang kuat, status HSC lebih merupakan isu teknis indeksketimbang isu fundamental,” ucapnya.
Sebaliknya, Hendry menyarankan investor mempertimbangkan untuk mengurangi kepemilikan apabila investasi dilakukan semata-mata untuk spekulasi tanpa didukung fundamental yang kuat, harga saham telah naik tajam tanpa katalis yang jelas, atau likuiditas perdagangan sangat tipis. Menurut dia, investor perlu mengelola posisi selagi likuiditas masih memadai.
Bagaimana Efek ke IHSG?
Lebih lanjut, Hendry mengatakan dampak status HSC terhadap IHSG dalam jangka pendek cenderung netral hingga sedikit negatif. Menurut dia, free float yang tipis membuat bobot 51 emiten tersebut terhadap pergerakan IHSG relatif kecil. Ia menilai tekanan jual pada masing-masing saham tidak serta-merta menekan IHSG secara signifikan.
Ia juga mengatakan sentimen negatif dapat muncul dalam jangka pendek. Namun, sebagian besar tekanan struktural kemungkinan sudah tercermin dalam harga saham. Hal itu seiring IHSG yang terkoreksi hampir 30% sepanjang tahun ini dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk secara global.
Dalam jangka menengah, Hendry menilai status HSC berpotensi berdampak positif. Menurutnya kerangka HSC tersebut merupakan bagian dari agenda reformasi yang diminta MSCI. Semakin kredibel implementasinya, kata Hendry, semakin besar peluang Indonesia lolos dalam peninjauan MSCI pada November 2026 tanpa direklasifikasi menjadi frontier market.
Hendry mengatakan Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana mencapai US$ 13 miliar apabila Indonesia diturunkan menjadi frontier market. Hal itu di tengah nilai kapitalisasi pasar yang telah menyusut menjadi sekitar US$ 601 miliar dari lebih dari US$ 900 miliar pada Januari 2026.
Ia juga mengatakan sejumlah analis menilai kemajuan reformasi dapat membuka ruang pemulihan. Menurutnya, keputusan MSCI sebelumnya telah meredakan tekanan jangka pendek dan membuka peluang terjadinya rebound teknikal pada IHSG.
“Meski pemulihan yang berkelanjutan tetap bergantung pada perbaikan konkret di sisi tata kelola, transparansi, dan kepercayaan investor asing,” ucap Hendry.
Berikut total 51 emiten yang masuk daftar HSC:
| No. | Kode Emiten | Perusahaan | Terkonsentrasi (%) |
| 1 | AGII | PT Samator Indo Gas Tbk | 97,75% |
| 2 | ALII | PT Ancara Logistics Indonesia Tbk | 97,62% |
| 3 | BBHI | PT Allo Bank Indonesia Tbk | 92,71% |
| 4 | BBSI | PT Krom Bank Indonesia Tbk | 99,95% |
| 5 | BELI | PT Global Digital Niaga Tbk | 93,83% |
| 6 | BINA | PT Bank Ina Perdana Tbk | 94,79% |
| 7 | BNII | PT Bank Maybank Indonesia Tbk | 99,14% |
| 8 | BNLI | PT Bank Permata Tbk | 99,92% |
| 9 | BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 97,31% |
| 10 | BTPN | PT Bank SMBC Indonesia Tbk | 99,78% |
| 11 | BYAN | PT Bayan Resources Tbk | 98,50% |
| 12 | CMNP | PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk | 96,64% |
| 13 | CMNT | PT Cemindo Gemilang Tbk | 99,41% |
| 14 | DCII | PT DCI Indonesia Tbk | 99,96% |
| 15 | DGWG | PT Delta Giri Wacana Tbk | 97,35% |
| 16 | DNET | PT Indoritel Makmur Internasional Tbk | 98,06% |
| 17 | DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% |
| 18 | ELPI | PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk | 98,90% |
| 19 | FAPA | PT FAP Agri Tbk | 99,77% |
| 20 | FILM | PT MD Entertainment Tbk | 92,98% |
| 21 | FITT | PT Hotel Fitra International Tbk | 95,00% |
| 22 | GEMS | PT Golden Energy Mines Tbk | 99,24% |
| 23 | HATM | PT Habco Trans Maritima Tbk | 96,09% |
| 24 | IFSH | PT Ifishdeco Tbk | 99,77% |
| 25 | KING | PT Hoffmen Cleanindo Tbk | 98,40% |
| 26 | KONI | PT Perdana Bangun Pusaka Tbk | 95,08% |
| 27 | LIFE | PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk | 99,21% |
| 28 | MCOL | PT Prima Andalan Mandiri Tbk | 98,62% |
| 29 | MEGA | PT Bank Mega Tbk | 95,68% |
| 30 | MGLV | PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | 95,94% |
| 31 | MGRO | PT Mahkota Group Tbk | 93,76% |
| 32 | MKPI | PT Metropolitan Kentjana Tbk | 97,02% |
| 33 | MLPT | PT Multipolar Technology Tbk | 99,42% |
| 34 | MORA | PT Ekamas Mora Republik Tbk | 95,65% |
| 35 | MPRO | PT Maha Properti Indonesia Tbk | 99,99% |
| 36 | PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | 99,95% |
| 37 | POLU | PT Golden Flower Tbk | 99,94% |
| 38 | PRAY | PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk | 99,84% |
| 39 | RISE | PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk | 98,03% |
| 40 | RLCO | PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | 95,35% |
| 41 | ROCK | PT Rockfields Properti Indonesia | 99,85% |
| 42 | SATU | PT Kota Satu Properti Tbk | 94,27% |
| 43 | SILO | PT Siloam International Hospitals Tbk | 96,70% |
| 44 | SMAR | PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk | 99,58% |
| 45 | SOHO | PT Soho Global Health Tbk | 99,93% |
| 46 | SOTS | PT Satria Mega Kencana Tbk | 98,35% |
| 47 | SRAJ | PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk | 97,21% |
| 48 | STTP | PT Siantar Top Tbk | 94,95% |
| 49 | TCPI | PT Transcoal Pacific Tbk | 94,10% |
| 50 | WBSA | PT BSA Logistics Indonesia Tbk | 95,82% |
| 51 | YUPI | PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk | 99,91% |
Sumber: data BEI
