Siasat Amman Mineral (AMMN) Kebut Bisnis Katoda Tembaga, Bagaimana Prospeknya?

Karunia Putri
17 Juli 2026, 16:41
Amman Mineral (AMMN)
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Kepulan asap keluar dari cerobong pabrik smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Dusun Otak Keris, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (31/10/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten tambang kongsi Grup Salim dan Keluarga Panigoro yaitu PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tengah mengebut bisnis hilirisasi katoda tembaga melalui anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Perusahaan ini mengoperasikan tambang Batu Hijau di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Perusahaan menargetkan produksi katoda tembaga meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2026 setelah menyelesaikan proses peningkatan kapasitas produksi smelter. Chief Executive Officer (CEO) Amman Mineral Rachmat Makassau mengatakan, perusahaan menargetkan produksi katoda tembaga sebesar 162.662 ton pada 2026, naik dari 79.848 ton pada 2025.

Selain katoda tembaga, AMMN menargetkan produksi emas sebesar 16.119 kilogram dan perak 45.439 kilogram sepanjang tahun ini. Perusahaan juga menargetkan produksi asam sulfat sebesar 572.036 ton.

“Per Juni 2026, kami mampu memproses seluruh hasil produksi tambang. Kami yakin seluruh konsentrat tembaga yang diproduksi tambang tahun ini dapat terserap sepenuhnya,” ujar Rachmat dalam keterangannya, dikutip Jumat (17/7).

Sejalan dengan peningkatan kapasitas pengolahan, AMNT juga terus melakukan kegiatan eksplorasi untuk memperkuat cadangan mineral perusahaan. Berdasarkan laporan eksplorasi kuartal kedua 2026, AMNT melakukan kegiatan eksplorasi di IUPK Blok I Batu Hijau, Blok II Elang dan Blok III Rinti yang berlokasi di Sumbawa. Sementara itu, tidak terdapat kegiatan eksplorasi di Blok IV Lampui.

Total biaya eksplorasi AMNT pada triwulan kedua tahun ini mencapai sekitar US$ 2,84 juta. Di Blok I Batu Hijau, kegiatan eksplorasi dilakukan di prospek Katala Cu-Au yang berada di sisi timur Pit Batu Hijau. Eksplorasi dilakukan melalui pengeboran inti menggunakan satu rig.

Kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi dan memetakan potensi kesinambungan mineralisasi porfiri tembaga dan emas yang sebelumnya ditemukan melalui pengeboran terdahulu. Hingga kuartal kedua, AMNT telah menyelesaikan satu lubang pengeboran dengan kedalaman 275,7 meter.

Perusahaan berencana melanjutkan pengeboran di prospek Katala dengan tiga lubang bor hingga kedalaman total 2.400 meter. Selain itu, AMNT akan memulai program pengeboran eksplorasi di West Nangka menggunakan satu rig dengan dua lubang bor dan total kedalaman 1.200 meter. 

Sementara itu, di Blok II Elang, AMNT telah mengeluarkan biaya sebesar US$ 2,78 juta untuk kegiatan eksplorasi meliputi pengeboran dan pemetaan geologi. Ke depan, perusahaan akan melanjutkan pengeboran sumber daya di Elang dan pengeboran eksplorasi di Gerbang Timur menggunakan 3 rig.

Adapun katoda tembaga dibutuhkan sebagai bahan baku utama untuk berbagai manufaktur hilir.Logam ini sangat dibutuhkan untuk produksi kabel listrik, komponen elektronik, motor listrik hingga kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Mengandalkan Tambang Batu Hijau

AMNT mengoperasikan tambang Batu Hijau, salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia. Tambang terbuka tersebut menghasilkan konsentrat tembaga berkadar tinggi yang juga mengandung emas dan perak.

Berdasarkan laporan JORC 2023, AMNT memiliki sumber daya tembaga sebesar 16,6 miliar pon dan emas 22,5 juta ons.

Selain Batu Hijau, AMNT juga melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah Elang yang disebut sebagai salah satu sumber daya mineral tembaga dan emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

Adapun AMNT telah menyelesaikan Fase 6 penambangan bijih dan melanjutkan kegiatan penambangan pada Fase 7. Perusahaan juga terus melakukan eksplorasi di area konsesi serta memperbarui pemodelan sumber daya mineral.

Hasil eksplorasi tersebut menambah cadangan sekitar 460 juta metrik ton. Cadangan tambahan yang disebut sebagai Fase 8 tersebut diharapkan dapat memperpanjang usia tambang dan menjaga keberlanjutan produksi bijih hingga 2030. Fase 8 dijadwalkan mulai memproduksi bijih sejak 2025 dan berlanjut hingga 2030.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...