Net Sell Asing Tembus Rp 3,38 T Sepekan, Saham Bank Jumbo BBCA - BMRI Tekan IHSG
Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia sepanjang perdagangan 20–24 Juli 2026. Di tengah tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis ditopang reli sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor energi dan bahan baku.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan jual bersih Rp 3,38 triliun di pasar reguler selama sepekan. Nilai penjualan asing mencapai Rp 32,53 triliun, lebih tinggi dibandingkan pembelian sebesar Rp 29,15 triliun.
Pada perdagangan Jumat (24/7) saja, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 1,36 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun (year to date), nilai jual bersih asing telah mencapai Rp 79,09 triliun.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, meski tekanan jual asing masih berlanjut, IHSG ditutup menguat 0,34% menjadi 6.196,430 pada akhir pekan dari posisi 6.175,535 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI juga meningkat 1,13% menjadi Rp 10.870 triliun.
Kautsar mengatakan aktivitas perdagangan selama sepekan juga menunjukkan peningkatan.
"Peningkatan tertinggi dialami oleh rata-rata volume transaksi harian BEI, yaitu sebesar 66,88% menjadi 43,68 miliar lembar saham dari 26,17 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya," ujar Kautsar seperti dikutip Senin (27/7).
Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 41,21% menjadi Rp 19,76 triliun, sedangkan rata-rata frekuensi transaksi naik 14,4% menjadi 2,67 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut bertambah menjadi Rp 10.870 triliun.
saham
Saham Penopang dan Pemberat IHSG Sepekan
Kenaikan IHSG sepanjang pekan terutama didorong oleh reli sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi penyumbang kenaikan terbesar terhadap indeks dengan kontribusi 15,29 poin setelah melonjak 45,71%.
Di belakangnya terdapat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menyumbang 7,72 poin, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 6 poin, dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) 5,95 poin. Ada pula saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) menyumbang 5,74 poin, PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) dengan 5,03 poin, dan PT Moratelindo Tbk (MORA) dengan 4,60 poin.
Dari sisi nilai transaksi, saham yang paling aktif diperdagangkan adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,49 triliun, diikuti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 6,70 triliun. Ada pula saham BUMI dengan transaksi Rp 5,28 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 5 triliun, dan DSSA Rp 4,57 triliun.
Di sisi lain, pelemahan saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo menahan laju penguatan IHSG. BMRI menjadi saham dengan kontribusi negatif terbesar terhadap indeks setelah turun 7,81%, memangkas IHSG hingga 28,57 poin.
Selanjutnya BBCA mengurangi 17,65 poin, disusul PT Astra International Tbk (ASII) 4,89 poin, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) 3,35 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 3,11 poin dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan pemberat 2,77 poin.
Tekanan pada saham-saham bank besar juga tercermin dari kinerja indeks sektoral. Sepanjang pekan, indeks sektor keuangan melemah 2,08%, menjadi salah satu sektor dengan koreksi terdalam. Sebaliknya, sektor properti dan real estat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,55%, diikuti sektor energi yang menguat 4,99%.
