Konflik Timur Tengah dan Saham Chip Bayangi Pergerakan Wall Street
Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada Jumat (24/7) tertekan oleh saham-saham semikonduktor, seiring para investor menelaah perkembangan terkini terkait konflik di Timur Tengah.
S&P 500 hanya naik 0,05% dan ditutup di level 7.411,98 dan Dow Jones Industrial Average terangkat 235,60 poin, atau 0,46%, dan ditutup di level 51.947,25 ditopang saham Apple yang melonjak 3,5%. Sedangkan Nasdaq Composite turun 0,64% menjadi 24.975,82.
Di sisi lain, saham Intel anjlok hampir 8%, berbalik melemah usai sebelumnya sempat menguat Saham chip lainnya juga babak belur. Broadcom turun 2,7%, Advanced Micro Devices (AMD) melemah 3,3%, Micron Technology merosot 7%, hingga ETF VanEck Semiconductor (SMH) terkoreksi 3%.
Adapun saham-saham sempat naik pada awal perdagangan kala harga minyak turun. Hal itu setelah Reuters, yang mengutip tiga sumber di Pakistan, melaporkan bahwa Pakistan tengah mempertimbangkan upaya untuk memfasilitasi perundingan perdamaian baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Inisiatif tersebut disebut-sebut didorong oleh Tiongkok. Meski begitu, sumber-sumber tersebut mengatakan ada hambatan besar untuk memulai kembali pembicaraan antara AS dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya akan segera memutuskan terkait melancarkan “serangan besar-besaran” terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan usai konflik di Timur Tengah meluas ke medan pertempuran baru di Laut Merah.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump juga mengatakan serangan yang diusulkan akan menjadi serangan terbesar sepanjang konflik sejauh ini. Ia juga menilai Iran belum merasakan penderitaan yang cukup.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap untuk itu,” kata Trump dalam wawancara tersebut, dikutip CNBC International, Senin (27/7).
Selain itu, The New York Times pada Jumat melaporkan Trump tengah bertemu dengan para penasihat utama dan anggota senior kabinetnya untuk memutuskan apakah akan meningkatkan serangan ke Iran.
Harga minyak kemudian pulih dari level terendah setelah laporan tersebut. Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun dari level tersebut dan ditutup pada US$96,78 per barel, atau melemah hampir 4%. Sementara itu, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3% dan ditutup pada US$ 89,31 per barel.
Para pedagang tampaknya enggan mempertahankan posisi beli menjelang akhir pekan yang berpotensi diwarnai serangan lebih agresif terhadap Iran. Apalagi pasukan AS telah menggempur sejumlah sasaran di Iran selama dua pekan terakhir. Komando Pusat AS (Central Command) juga telah menyelesaikan serangan malam ke-13 berturut-turut pada Kamis malam.
Direktur Investasi U.S. Bank Asset Management Group, Bill Northey, mengatakan perkembangan di Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak ekonomi nyata. Terutama pembatasan aliran hidrokarbon dan kemampuan ekonomi global untuk menyerap dampak tersebut.
Meskipun suku bunga akan tetap tidak berubah pada pekan depan di tengah lonjakan harga minyak sepanjang pekan, Northey menilai Ketua Federal Reserve Kevin Warsh telah berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ekonomi AS ke target. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan moneter.
Tak hanya itu, Northey menilai arus dana di sektor tersebut bergerak sangat besar setiap harinya. Namun, menurut dia, investor perlu melihat lebih jauh sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan laba kuat. Sektor-sektor itu yang dinilai berpotensi menjadi penerima diuntungkan dari kondisi ekonomi saat ini dan memiliki prospek pertumbuhan pada 2026 dan 2027.
“Kita hanya perlu memahami bahwa akan ada beberapa arus sentimen yang terjadi di dalam dan di sekitar sektor tersebut,” ucap Northey, dikutip CNBC International, Senin (27/7).
Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan mingguan berturut-turut. Masing-masing turun 0,6% dan 2,1%. Indeks Dow Jones juga melemah 0,4% dalam sepekan, sekaligus mencatatkan penurunan selama tiga pekan beruntun.
