Pendapatan HRTA Melonjak 125% di Tengah Fluktuasi Harga Emas, Ini Penopangnya

Karunia Putri
3 Agustus 2026, 18:56
HRTA
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.
Pengunjung melihat gerai emas pada pameran investasi tanpa cemas dengan emas di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022). PT Bank Syariah Indonesia Tbk bekerja sama dengan PT Hartadinata Abadi Tbk untuk memperluas akses investasi emas dengan menggelar pameran serta diksusi investasi tanpa cemas dengan emas guna memberikan edukasi kepada masyarakat agar investasi bisa menjadi pilihan bagi masyarakat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten manufaktur emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) membukukan pendapatan Rp 33,80 triliun pada semester pertama 2026. Torehan tersebut melesat 124,61% secara tahunan (YoY) dari Rp 15,05 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, laba bersih meningkat 100,86% menjadi Rp 700,01 miliar dari Rp 348,51 miliar. Kenaikan tersebut ditopang oleh melonjaknya permintaan dari segmen grosir, terutama institusi keuangan dan bullion bank. Segmen grosir masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan perseroan dengan kontribusi 89,33%. Dari jumlah tersebut, sekitar 80,34% berasal dari transaksi dengan institusi keuangan dan bullion bank.

Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto mengatakan, capaian pada semester pertama itu menunjukkan strategi perseroan membangun ekosistem bisnis emas yang terintegrasi mulai membuahkan hasil. Menurut dia, pertumbuhan permintaan dari institusi keuangan dan Bullion Bank menjadi salah satu penopang utama kinerja perusahaan.

"Kami akan terus berfokus pada penciptaan pertumbuhan yang berkelanjutan, memperkuat daya saing Perseroan, dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemegang saham," ungkap Sandra dalam keterangan resmi, dikutip Senin (3/8).

Selain didorong permintaan dari institusi, kinerja HRTA juga ditopang oleh kenaikan volume penjualan dan harga emas. Volume penjualan emas murni meningkat 46,74% secara tahunan menjadi 13 ton. Sementara itu, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) naik 53,21% menjadi Rp 2,59 juta per gram. Segmen ritel menyumbang 10,31% dari total penjualan, sedangkan bisnis gadai berkontribusi 0,33%.

Dari sisi profitabilitas, HRTA mencatatkan penguatan sejumlah rasio keuangan. Return on assets (ROA) mencapai 12,33%, sedangkan return on equity (ROE) meningkat menjadi 37,37%. Di saat yang sama, rasio utang berbunga terhadap ekuitas (interest bearing debt to equity ratio) tetap terjaga di level 1,11 kali, mencerminkan struktur permodalan yang masih sehat di tengah ekspansi bisnis.

Kinerja tersebut berlangsung di tengah harga emas yang masih bertahan tinggi. Sepanjang Juli 2026, harga emas dunia rata-rata berada di level US$ 4.072,54 per troy ounce, naik 21,99% dibandingkan tahun lalu. Di pasar domestik, harga emas rata-rata mencapai Rp 2,36 juta per gram atau meningkat 34,66% secara tahunan.

Perseroan menilai tingginya harga emas masih didukung oleh pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas, serta ketidakpastian global yang mendorong permintaan aset safe haven.

Ke depan, prospek industri emas dinilai masih positif meski volatilitas jangka pendek berpotensi berlanjut. Survei Reuters terhadap 29 analis memproyeksikan harga emas rata-rata pada 2026 berada di kisaran US$ 4.509 per troy ounce. Sementara itu, UBS, Goldman Sachs dan JPMorgan tetap mempertahankan proyeksi bullish dengan target harga berkisar US$ 4.800 hingga lebih dari US$ 5.400 per troy ounce pada akhir 2026.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...