Danantara Akan Ubah Peran Telkom (TLKM) jadi Strategic Holding, Begini Modelnya
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong perubahan peran PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dari operating holding menjadi strategic holding.
Dengan transformasi tersebut, TLKM akan lebih berfokus pada pengelolaan portofolio dan alokasi modal. Sementara aktivitas operasional akan dijalankan oleh entitas bisnis yang lebih spesifik.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer COO Danantara, Dony Oskaria mengatakan, perubahan peran TLKM itu menjadi bagian dari proses streamlining atau penyederhanaan struktur Telkom.
“Transformasi diarahkan dari operating holding menjadi strategic holding dengan Telkom berfokus pada pengelolaan portofolio, alokasi modal, tata kelola, sinergi grup dan penciptaan nilai,” kata Dony dalam keterangannya dikutip pada Kamis (20/8).
Dia mengatakan telah membahas proses transformasi tersebut bersama Direktur Utama TLKM, Dian Siswarini, pada Rabu (19/8). Dalam pertemuan itu, Dian melaporkan Telkom terus mempercepat penataan struktur grup dengan memangkas jumlah entitas yang dikelola.
Saat ini, TLKM mengelola 67 entitas yang terdiri atas 58 anak perusahaan dan sembilan investasi minoritas. Jumlah tersebut ditargetkan menyusut menjadi 18 entitas.
Penyederhanaan diarahkan untuk membentuk struktur bisnis yang lebih fokus dan efisien sekaligus meningkatkan penciptaan nilai bagi Telkom Group.
Dengan model baru tersebut, Dony menjelaskan aktivitas operasional nantinya akan dijalankan oleh entitas bisnis atau operating company (OpCo) yang lebih fokus sesuai bidang masing-masing. Sementara Telkom sebagai induk akan berperan dalam pengelolaan portofolio, alokasi modal, tata kelola, serta penciptaan sinergi antarentitas.
Langkah tersebut diharapkan membuat struktur grup TLKM lebih ramping dan meningkatkan efektivitas pengelolaan portofolio. Selain itu, transformasi tersebut ditujukan untuk memperkuat sinergi antarentitas dan mengoptimalkan kontribusi Telkom dalam ekosistem Danantara serta perekonomian nasional.
Sejalan dengan transformasi tersebut, TLKM juga melakukan restrukturisasi pada bisnis enterprise. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine mengatakan, penataan dilakukan untuk membenahi organisasi, memperkuat tata kelola serta menyederhanakan proses bisnis di segmen B2B.
Menurut Veranita, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi TLKM 30 sekaligus sinergi Telkom bersama Danantara dalam memperkuat kapabilitas digital nasional.
“Indonesia membutuhkan kapabilitas digital nasional yang kuat untuk menjawab tantangan artificial intelligence (AI), keamanan siber, data sovereignty, hingga AI sovereignty,” ujar Veranita.
Dia mengatakan, TLKM akan memperkuat bisnis enterprise melalui berbagai layanan digital, mulai dari AI, cloud, pusat data, managed services, internet of things (IoT) hingga cyber security. Seluruh layanan tersebut membutuhkan dukungan konektivitas yang tangguh, aman, dan berkapasitas tinggi.
Saat ini, bisnis enterprise menyumbang sekitar 11% terhadap pendapatan Telkom atau sekitar Rp 19 triliun. Kontribusi tersebut masih dinilai memiliki ruang untuk ditingkatkan karena pada sejumlah perusahaan telekomunikasi global, bisnis enterprise dapat menyumbang 20% hingga 30% atau lebih terhadap total pendapatan.
Perubahan struktur Telkom juga berjalan melalui pemisahan sejumlah bisnis. Salah satunya rencana melanjutkan pemisahan unit Wholesale Fiber Connectivity atau InfraCo Tahap II kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia.
Nilai transaksi rencana pemisahan tersebut mencapai Rp 49,86 triliun. Aksi tersebut melanjutkan proses pemisahan InfraCo Tahap I yang telah dilakukan pada Januari 2026.
Hingga pertengahan 2026, Telkom telah memangkas 34 entitas dari struktur grupnya. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan menuju struktur yang lebih sederhana dengan jumlah entitas yang lebih sedikit.
