Adu Laba 3 Emiten Boy Thohir ADRO, AADI, ADMR, Siapa Paling Untung?
Tiga emiten milik konglomerat Garibaldi Thohir alias Boy Thohir telah melaporkan kinerja keuangan pada semester pertama 2026. Ketiga perusahaan itu mencatatkan pertumbuhan kinerja meski harga komoditas bergerak volatil sepanjang tahun.
Boy Thohir memiliki saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Ketiganya membukukan kenaikan laba dan pendapatan selama semester pertama 2026.
Berikut kinerja keuangan lengkap tiga emiten Boy Thohir:
AADI
Merujuk laporan keuangan semester pertama 2026, AADI membukukan laba bersih US$ 473,76 juta atau setara Rp 8,47 triliun (asumsi kurs Rp 17.899 per dolar AS). Torehan tersebut melonjak 10,51% dari laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 428,68 juta.
Pertumbuhan laba bersih AADI diperoleh karena perseroan membukukan kenaikan pendapatan menjadi US$ 2,54 miliar dari US$ 2,39 miliar secara tahunan atau year on year (YoY). Pundi-pundi rupiah itu didapatkan perseroan dari penjualan batu bara domestik serta pendapatan dari pihak berelasi. Sementara itu, penjualan batu bara untuk ekspor kepada pihak ketiga justru mengalami penurunan.
Penjualan batu bara kepada pihak ketiga menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$ 2,22 miliar, naik tipis dari US$ 2,20 miliar YoY. Di dalamnya, penjualan batu bara ekspor tercatat US$ 1,82 miliar, turun sekitar 2,03% dari US$ 1,86 miliar. Sebaliknya, penjualan batu bara domestik meningkat 16,49% menjadi US$ 400,43 juta dari US$ 343,75 juta.
Pendapatan dari bisnis logistik kepada pihak ketiga tercatat US$ 21,85 juta, turun dari US$ 23,32 juta. Pendapatan lain-lain juga turun menjadi US$ 6,72 juta dari US$ 8,09 juta.
Di sisi lain, pendapatan dari pihak berelasi menunjukkan pertumbuhan lebih kuat. Penjualan batu bara domestik kepada pihak berelasi melonjak 76,08% menjadi US$ 154,12 juta dari US$ 87,53 juta. Penjualan ekspor kepada pihak berelasi juga naik 41,44% menjadi US$ 3,77 juta dari US$ 2,66 juta.
Perseroan juga mulai membukukan pendapatan US$ 44,21 juta dari penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa penunjangnya. Pos tersebut belum tercatat pada semester pertama 2025.
Pendapatan logistik dari pihak berelasi turut meningkat 29,38% menjadi US$ 87,35 juta dari US$ 67,51 juta. Sementara pendapatan lain-lain dari pihak berelasi turun menjadi US$ 6,33 juta dari US$ 7,07 juta.
Seiring dengan naiknya pendapatan, beban pokok pendapatan AADI ikut melonjak menjadi US$ 1,76 miliar dari US$ 1,70 miliar secara YoY.
Di lantai bursa, harga saham AADI terpantau naik 1,62% menjadi Rp 11.000 per saham pada sore ini. Sahamnya melonjak 57,71% sejak awal tahun.
ADRO
Sementara itu, ADRO membukukan laba bersih menjadi US$ 309,36 juta, nilai tersebut naik 76,83% dibandingkan laba bersih perseroan pada periode sebelumnya sebesar US$ 174,94 juta.
Lonjakan laba seiring dengan naiknya pendapatan perseroan menjadi US$ 999,24 juta dari US$ 857,69 juta secara tahunan. Penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga mencapai US$ 370,27 juta, melonjak 58,15% dari US$ 234,11 juta.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari penjualan domestik yang mencapai US$ 244,95 juta. Sementara penjualan hasil tambang untuk ekspor meningkat 40,42% menjadi US$ 125,32 juta.
Selain itu, ADRO membukukan pendapatan US$ 210,12 juta dari penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi.
Pendapatan dari penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi terutama berasal dari ekspor yang mencapai US$ 208,65 juta. Sebaliknya, penjualan domestik kepada pihak berelasi turun menjadi US$ 1,47 juta dari US$ 2,25 juta.
Di sisi lain, jasa pertambangan tetap menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar ADRO. Segmen ini menghasilkan pendapatan US$ 397,30 juta pada semester pertama 2026, naik tipis dari US$ 393,79 juta setahun sebelumnya.
Pendapatan jasa pertambangan tersebut terdiri atas jasa pertambangan sebesar US$ 393,93 juta, jasa sewa US$ 159 ribu, dan pendapatan lain-lain US$ 3,20 juta. Sementara pendapatan lain-lain dari pihak ketiga tercatat US$18,15 juta, turun dari US$22,27 juta pada semester I 2025.
Seiring dengan naiknya pendapatan, beban pokok pendapatan juga menebal menjadi US$ 576,55 juta, dari US$ 573,42 secara YoY.
Sementara itu, harga saham ADRO justru turun 1,76% ke level 2.790 pada sore ini. Sejak awal tahun, sahamnya melesat 54,14%.
ADMR
Kemudian, ADMR membukukan laba bersih menjadi US$ 174,17 juta hingga akhir Juni 2026. Perolehan itu naik dari US$ 140,49 juta secara YoY. Kenaikan aba seiring d engan naiknya pendapatan perseroan menjadi US$ 583,87 juta dari US$ 443,94 juta secara YoY.
Kenaikan pendapatan ADMR terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga. Pos ini mencapai US$ 370,27 juta, naik 58,15% dibandingkan US$ 234,11 juta pada semester pertama 2025.
Selain itu, pendapatan dari pihak berelasi juga meningkat menjadi US$ 213,61 juta dari US$ 209,83 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan tersebut terdiri atas penjualan hasil tambang sebesar US$ 211,54 juta dan jasa lainnya US$ 2,07 juta.
Jika diperinci, penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi tercatat US$ 211,54 juta pada semester I 2026, naik tipis dari US$ 207,76 juta setahun sebelumnya. Sementara pendapatan jasa lainnya relatif stabil di US$ 2,07 juta dibandingkan US$ 2,07 juta pada semester I 2025.
Pada sore ini, harga saham ADMR juga turun 1,71% ke level 1.720 per saham. Secara ytd, sahamnya menguat 10,26%.
