Wall Street Berbalik Menguat di Tengah Pelemahan Yield Obligasi AS
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Rabu (2/9). Kenaikan ini terjadi usai imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS turun dari kenaikan tajam sebelumnya.
Indeks S&P 500 naik 0,46% menjadi 7.666,60, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,45% ke 26.217,83. Dow Jones Industrial Average tumbuh 295,07 poin atau 0,56% menjadi 53.061,95.
Pergerakan saham belakangan ini tertekan oleh tingginya imbal hasil obligasi karena investor mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun terakhir tercatat relatif tidak berubah.
“Penggerak utamanya adalah minyak,” kata CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield dikutip dari CNBC, Kamis (3/9).
Ia menilai pasar masih bergerak dalam rentang terbatas di tengah periode yang secara musiman cenderung lemah.
“Itulah sebabnya pasar bisa sedikit menguat hari ini, karena harga minyak mulai mencapai puncaknya,” ujarnya.
Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi 4,818% pada Rabu, tertinggi sejak November 2023. Imbal hasil obligasi di Inggris, Jerman dan Prancis juga meningkat.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperdagangkan di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade.
Sementara itu kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik hampir 1% menjadi US$ 91,01 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di level US$ 95,63 per barel setelah naik sekitar 1%.
Kenaikan tersebut terjadi setelah AS melancarkan lebih banyak serangan militer ke Iran, sehingga memicu kekhawatiran konflik kembali meningkat.
Hatfield mengatakan, meskipun ia meragukan akan tercapai kesepakatan damai antara Iran dan AS, kenaikan harga minyak baru-baru ini kemungkinan hanya berlangsung dalam jangka pendek.
Ia memperkirakan indeks S&P 500 akan mencapai titik terendah di level 7.500.
“Kami meyakini harga minyak akan bergerak turun dalam enam bulan ke depan seiring meningkatnya produksi negara-negara non-OPEC dan berkembangnya jalur alternatif pengiriman minyak,” ujarnya.
