Telkom (TLKM) Ungkap Nasib Investasi di GOTO saat Floating Loss Rp 5,22 Triliun
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengungkapkan nasib dan strateginya di tengah posisi investasi anak usahanya, Telkomsel, di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Hingga kini, investasi Telkomsel di GOTO masih mencatatkan rugi sementara atau floating loss hingga Rp 5,22 triliun.
Kondisi itu berlangsung seiring tertahannya harga saham GOTO dalam waktu cukup lama di level gocap alias Rp 50 per saham.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan mengatakan, investasi Telkomsel di GOTO menjadi bagian dari kemitraan strategis jangka panjang yang berfokus pada optimalisasi potensi, sinergi, dan penciptaan nilai bagi perusahaan. Menurut dia, pergerakan harga saham GOTO mencerminkan dinamika pasar dan tidak sepenuhnya menggambarkan manfaat strategis dari kemitraan kedua perusahaan. Ke depan, ia menyatakan Telkomsel akan terus melakukan evaluasi secara disiplin terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi perusahaan.
“Setiap keputusan terkait investasi akan diambil secara pruden berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip data kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku,” kata Daru dalam konferensi pers paparan publik 2026, Senin (7/9).
Pada perdagangan Senin (7/9) siang, saham GOTO masih bertengger di Rp 50 dengan antrean jual mencapai 403 juta lot. Saat ini, Telkomsel menggenggam sebanyak 23,72 miliar saham GOTO atau sekitar 1,99% di harga Rp 270 per saham. Apabila dikalkulasikan, floating loss Telkomsel di saham GOTO sudah mencapai Rp 5,22 triliun.
Meskipun secara pergerakan pasar saham GOTO saat ini berada di Rp 50 per unit, posisi itu belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan Telkom.
Dalam catatan laporan keuangannya, investasi Telkomsel pada GOTO masih dinilai menggunakan metode nilai wajar (fair value) level 1, dengan acuan harga pasar pada periode pelaporan. Pada 31 Desember 2025, nilai wajar saham GOTO yang digunakan Telkomsel tercatat sebesar Rp 64 per saham, sedangkan pada 31 Desember 2024 berada di level Rp 70 per saham.
Berdasarkan penilaian itu, Telkomsel membukukan kerugian yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar investasi masing-masing sebesar Rp 142 miliar pada 2025 dan Rp 380 miliar pada 2024. Kerugian ini dicatat dalam laporan laba rugi konsolidasian sebagai unrealized loss.
