MBMA Bidik Himpun Dana Lewat Depository Receipts di Hong Kong
Emiten tambang Merdeka Grup, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) disebut tengah mempertimbangkan untuk penerbitan Hong Kong Depositary Receipts (HDR) untuk menghimpun dana di Hong Kong.
Berdasarkan pemberitaan Bloomberg, langkah itu berpotensi mengikuti jejak sejumlah perusahaan pertambangan Indonesia yang berupaya menghimpun modal di Hong Kong. Salah satunya entitas lain di bawah Grup Merdeka, yakni PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Namun, sumber Bloomberg menyebut nilai dan waktu penawaran masih dibahas.
Adapun sejumlah perusahaan Indonesia mulai mempertimbangkan Hong Kong sebagai alternatif untuk menghimpun dana di tengah tipisnya likuiditas dan rendahnya imbal hasil di pasar domestik.
Apalagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 23% sepanjang tahun ini, sekaligus mencatatkan kinerja terburuk di antara indeks utama kawasan Asia-Pasifik.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berada di bawah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), lebih dulu menghimpun sekitar HK$ 2,4 miliar atau US$ 306 juta melalui penerbitan Hong Kong Depositary Receipts pada Juni 2026.
Sumber Bloomberg juga menyebut PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tengah mempertimbangkan untuk melantai di Hong Kong.
Adapun MBMA merupakan salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia dengan tambang utama dan fasilitas pengolahan di Sulawesi. Saham MBMA telah terkoreksi sekitar 10,5% sepanjang tahun ini dan kapitalisasi pasar MBMA saat ini mencapai sekitar US$ 3,1 miliar.
Kinerja Bisnis Nikel MBMA
Performa bisnis PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditopang dari peningkatan produksi bijih saprolit dan limonit dari Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Sepanjang April–Juni 2026, produksi bijih saprolit tambang SCM melonjak 130% YoY menjadi 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan produksi bijih limonit naik 87% YoY menjadi 4,7 juta wmt.
Kenaikan harga jual bijih turut mengerek profitabilitas. Cash margin bijih saprolit melonjak menjadi US$ 26,7 per wmt dari US$ 1,0 per wmt pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, cash margin bijih limonit meningkat 135% YoY menjadi US$ 10,4 per wmt, meski perseroan menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.
Di segmen pengolahan (smelter), MBMA memproduksi 19.505 ton nikel (tNi) dalam bentuk NPI, termasuk low-grade nickel matte (LGNM). Produksi tersebut meningkat 16% YoY dibandingkan 16.748 tNi pada kuartal II 2025.
Di tengah kenaikan biaya bijih, cash margin NPI tetap naik 11% YoY menjadi US$ 1.981 per tNi, didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata sebesar 28% YoY.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan, keningkatan produksi SCM, membaiknya harga bijih nikel, dan kemajuan proyek-proyek hilir mencerminkan kuatnya platform bisnis nikel terintegrasi yang dimiliki MBMA.
Perseroan juga terus berfokus pada eksekusi operasional yang disiplin dan memastikan pasokan bijih dari tambang SCM untuk memenuhi kebutuhan penuh operasi rotary kiln electric furnace (RKEF).
“Dan ramp-up kapasitas HPAL secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dalam rantai pasok material baterai global,” kata Teddy.
Sementara itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) saat masih fokus pada pembangunan proyek high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 90.000 ton per tahun. Hingga kuartal II 2026, konstruksi proyek tersebut telah memasuki tahap penyelesaian substansial.
Perseroan menargetkan produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP) dimulai pada paruh kedua 2026, sebelum seluruh lini produksi ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun. Saat ini, pengajuan Izin Usaha Industri (IUI) untuk proyek tersebut masih dalam proses.
Sedangkan operasi PT Acid Iron Metal (AIM) juga mencatat kinerja positif. Pabrik asam (acid plant) memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan membukukan penjualan 383.177 ton pada kuartal II 2026. Sepanjang 2026, MBMA mempertahankan target operasionalnya.
Perseroan memperkirakan pengiriman bijih saprolit mencapai 8 juta–10 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan penjualan bijih limonit ditargetkan 20 juta–25 juta wmt.
Produksi NPI diproyeksikan berada di kisaran 70.000–80.000 ton nikel (tNi), dengan seluruh kebutuhan bahan baku smelter RKEF ditargetkan dipenuhi dari Tambang SCM. Selain itu, produksi HGNM ditargetkan mencapai 44.000–48.000 ton, sementara produksi MHP dari PT ESG diperkirakan berada pada kisaran 27.000–30.000 ton.
