Akrobat Morgan Stanley Jual-Beli Saham GOTO di Rp 25, Potensi Jadi Harga Acuan?
Aksi Morgan Stanley & Co International Plc memperdagangkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada kisaran Rp 25 menyita perhatian investor. Pasalnya, transaksi tersebut dilakukan saat Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan perubahan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per saham.
Akrobat Morgan Stanley itu memicu pertanyaan di kalangan investor, apakah harga transaksi Morgan Stanley dapat menjadi harga patokan GOTO setelah aturan baru BEI itu terbit?
Head of Equity Research Liza Camelia Suryanata mengatakan transaksi Morgan Stanley di level Rp 25 belum dapat dijadikan patokan harga baru saham GOTO. Menurut Liza harga tersebut terbentuk melalui transaksi di pasar negosiasi dengan mekanisme yang berbeda dari pasar reguler.
“Harga Rp 25 belum dapat disebut sebagai harga patokan GOTO karena transaksi NG merupakan kesepakatan bilateral atau block trade, bukan hasil pembentukan harga melalui antrean terbuka di pasar reguler,” kata Liza kepada Katadata.co.id, Kamis (10/9).
Berdasarkan data perdagangan 10 September, transaksi terbesar GOTO di pasar negosiasi terjadi pada harga Rp 25 dengan volume 3,722 miliar saham atau sekitar 37,22 juta lot. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 93,1 miliar.
Menurut Liza, aktivitas Morgan Stanley yang sebelumnya membeli lalu menjual kembali saham GOTO pada kisaran Rp 25-Rp 27 juga belum dapat langsung diartikan sebagai perubahan pandangan investasi terhadap emiten teknologi tersebut.
Pasalnya, nama institusi asing dalam transaksi saham dapat muncul dalam kapasitas berbeda, termasuk sebagai kustodian, broker maupun perantara transaksi nasabah. Karena itu, investor perlu menunggu keterbukaan informasi kepemilikan berikutnya untuk melihat apakah terjadi pengurangan posisi secara konsisten.
“Investor sebaiknya menunggu keterbukaan kepemilikan berikutnya untuk melihat apakah terjadi pengurangan posisi secara konsisten,” ujarnya.
Aksi Borong-Jual Morgan Stanley di Saham GOTO Rp 25 per Saham
Dalam transaksi pada Rabu (2/9), Morgan Stanley membeli saham GOTO di harga Rp 25 per saham melalui tiga transaksi.
Pada transaksi pertama, Morgan Stanley membeli 12,58 miliar saham GOTO dengan nilai Rp 314,44 miliar. Selanjutnya, perseroan membeli 119,95 juta saham senilai Rp 2,99 miliar. Pada transaksi ketiga, Morgan Stanley kembali membeli 9,22 miliar saham GOTO dengan nilai transaksi Rp 230,52 miliar.
Dengan demikian, total dana yang dikeluarkan Morgan Stanley dalam tiga transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 547,95 miliar.
Aksi tersebut membuat kepemilikan Morgan Stanley di GOTO meningkat dari 65,80 miliar saham atau 5,71% menjadi 87,48 miliar saham atau setara 7,59%.
“Tujuan transaksi adalah investasi,” demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Rabu (9/9).
Namun, posisi tersebut kemudian kembali berkurang. Pada 4 September 2026, Morgan Stanley menjual saham GOTO melalui dua transaksi.
Pada transaksi pertama, Morgan Stanley menjual 1,45 miliar saham GOTO di harga Rp 27. Kemudian sebanyak 5,95 miliar saham dijual pada harga Rp 25 per saham.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley di GOTO berkurang dari 84,97 miliar saham atau 7,38% menjadi 80,48 miliar saham atau 6,98%.
Harga Rp 25 Jadi Harga Patokan?
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai aktivitas Morgan Stanley tersebut belum tepat dibaca sebagai perubahan pandangan secara drastis terhadap prospek GOTO.
Menurut Elandry, transaksi pada kisaran Rp 25-Rp 27 dilaporkan sebagai repurchase agreement (repo), sehingga karakter transaksinya berbeda dengan aksi jual saham biasa di pasar reguler.
“Lebih mencerminkan pengelolaan posisi dan liquidity institusi dibandingkan sinyal langsung bahwa fundamental GOTO memburuk,” kata Elandry.
Dia mengatakan investor perlu melihat GOTO dari sisi fundamental dan pergerakan saham.
Dari sisi fundamental, kinerja GOTO mulai menunjukkan perbaikan. Perseroan mencatat laba bersih sekitar Rp 607 miliar pada semester pertama 2026 dengan adjusted EBITDA sekitar Rp 1 triliun.
Namun, saham GOTO masih menghadapi tekanan sentimen pasar setelah keluar dari MSCI Global Standard serta ketidakpastian terkait perubahan mekanisme batas minimum harga saham.
Karena itu, Elandry menyarankan investor bersikap wait and see hingga terbentuk price discovery yang lebih jelas.
“Investor dengan profil agresif bisa mulai mencermati apabila tekanan jual mereda dan terlihat akumulasi yang konsisten,” ujarnya.
Sementara itu Liza mengatakan penghapusan batas minimum harga saham Rp 50 tidak secara langsung mengubah fundamental GOTO. Namun, kebijakan tersebut dapat membuka kembali proses pembentukan harga atau price discovery yang selama ini terbatas di pasar reguler.
Dalam jangka pendek, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan jual dan volatilitas. Sebab, pemegang saham yang sebelumnya kesulitan menjual saham pada harga di atas batas minimum akan memperoleh ruang lebih besar untuk bertransaksi.
Di sisi lain, setelah fase penyesuaian berakhir, likuiditas berpotensi membaik dan harga saham dapat lebih mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
“Transaksi jumbo tersebut tetap memberi indikasi bahwa sebagian supply institusi saat ini bersedia berpindah tangan dengan diskon sekitar 50% dari harga reguler Rp 50,” kata Liza.
BEI sebelumnya berencana menerapkan perubahan batas minimum harga saham menjadi Rp 1 mulai 7 September 2026. Namun, implementasi tersebut ditunda karena delapan dari 91 Anggota Bursa belum siap.
Target terbaru penerapan kebijakan tersebut adalah pada pekan ketiga atau keempat September 2026. Hingga saat ini, BEI belum menetapkan tanggal efektif secara pasti.
Aturan baru tersebut akan berlaku untuk pasar reguler dan pasar tunai. Sementara itu, pasar negosiasi sejak awal telah memungkinkan transaksi saham di bawah Rp 50.

