Deret Emiten Gelar Rights Issue Triliunan, MGLV, BUVA, hingga CBRE Mana Menarik?
Sejumlah emiten sedang menggalang dana melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Dalam targetnya, perseroan berencana menghimpun dana hingga triliunan rupiah dan akan digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari ekspansi bisnis hingga akuisisi perusahaan.
Aksi anyar dilakukan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) yang menetapkan harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 8.880 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, perseroan membidik dana maksimal Rp 2,53 triliun.
MGLV akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 285.732.512 saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Jumlah tersebut setara dengan 13,04% dari jumlah saham perseroan setelah pelaksanaan rihts issue perdana ini.
Menariknya harga rights issue tersebut diskon 42,71% dari harga saham MGLV perdagangan ahri ini, Jumat (11/9) senilai Rp 15.500 per saham.
Setiap pemegang 100 saham MGLV yang tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) pada 3 November 2026 pukul 16.00 WIB akan memperoleh 15 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 8.880 per saham.
“Apabila Saham Baru yang ditawarkan dalam PMHMETD I ini tidak seluruhnya diambil bagian oleh pemegang HMETD, maka sisa Saham Baru akan dialokasikan kepada pemegang saham Perseroan lainnya yang telah melaksanakan haknya dan melakukan pemesanan Saham Baru tambahan,” seperti yang ditulis managemen MGLV dalam ketrbukaan informasi BEI dikutip Jumat (11/9).
Sebagian besar dana rights issue akan digunakan untuk memperkuat bisnis pusat data atau data center. Sekitar Rp 1,6 triliun akan disalurkan sebagai setoran modal kepada dua anak usaha MGLV, yakni PT Nextier GenAi Center (NGC) dan PT Nextier Askara Center (NAC).
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 1 triliun akan disetorkan kepada NGC untuk pembangunan fasilitas data center di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Dana tersebut akan digunakan untuk membayar cicilan sewa tanah, bangunan dan prasarana serta pengadaan mesin dan peralatan.
Sementara sekitar Rp 600 miliar akan disalurkan kepada NAC untuk pengembangan fasilitas data center di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan mesin dan peralatan, termasuk mengganti atau mengembalikan biaya pengembangan yang sebelumnya telah dibayarkan oleh PT Nextier Datamate Center (NDC).
Selain itu, sekitar Rp 668,61 miliar dana hasil PMHMETD I akan digunakan MGLV untuk mengambil alih piutang NDC kepada NAC senilai Rp 668,45 miliar dan piutang NDC kepada NGC sebesar Rp 160 juta.
Sisa dana hasil rights issue akan digunakan sebagai modal kerja untuk membiayai kegiatan operasional perseroan, termasuk gaji dan tunjangan karyawan, jasa profesional, pajak, serta biaya keuangan.
KOTA Bidik Dana Rp 4,4 Triliun untuk Akuisisi
Di sektor properti, PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) juga berencana menggelar rights issue dengan target dana lebih dari Rp 4,4 triliun.
Perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 100 miliar saham baru seri B. Jumlah tersebut setara dengan 90,46% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah rights issue, sehingga berpotensi menyebabkan dilusi yang signifikan bagi pemegang saham lama.
"PMHMETD I ini tidak menyebabkan perubahan pengendali di perseroan," kata manajemen KOTA dalam keterbukaan informasi, Jumat (11/9).
Seluruh dana hasil rights issue terutama akan digunakan untuk mengakuisisi dua perusahaan dengan total nilai investasi sekitar Rp4,4 triliun. Sisa dana akan digunakan untuk modal kerja, kegiatan operasional, dan pengembangan usaha.
Dua perusahaan yang akan diakuisisi adalah PT Art Design Indonesia (ADI) dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,2 triliun untuk 99,99% saham serta PT Mandiri Nusa Graha Perkasa (MGNP) senilai Rp 3,2 triliun untuk 99,99% saham. Kedua perusahaan tersebut dimiliki oleh PT Michel Energi (ME).
Emiten Hapsoro BUVA Siapkan Right Issue Rp 1,53 Triliun
Emiten milik Happy Hapsoro yaitu PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga berencana melakukan rights issue.
BUVA akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,15 miliar saham baru atau sekitar 20% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan right issue. Pencatatan saham baru tersebut ditargetkan selesai pada September 2026.
Saham baru akan memiliki nilai nominal Rp 50 per saham dan ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham. Dengan rasio tersebut, BUVA berpotensi menghimpun dana segara maksimal sekitar Rp 1,53 triliun.
Setiap pemegang empat saham lama BUVA berhak memperoleh satu HMETD.
Happy Hapsoro bersama sejumlah pemegang saham lainnya akan bertindak sebagai pembeli siaga untuk saham yang tidak dieksekusi oleh pemegang saham publik.
PT Henan Putihrai Sekuritas, PT Tata Tirta Datun, Hapsoro dan Ferry Sudjono masing-masing memiliki komitmen pembelian maksimum sebesar Rp 100 miliar, Rp 350 miliar, Rp 100 miliar dan Rp 388,57 miliar.
Dana hasil right issue setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk pengembangan proyek, pelunasan utang serta penyertaan modal pada entitas anak.
CBRE Galang Dana Rp 1,27 Triliun
Sementara itu, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) akan menggelar rights issue untuk menghimpun dana maksimal Rp 1,27 triliun.
Dalam aksi tersebut, CBRE akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 11,8 miliar saham baru. Jumlah itu setara dengan 72,22% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan rights issue.
Saham baru tersebut memiliki nilai nominal Rp 25 per saham dan ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp 108 per saham. Dengan harga tersebut, dana maksimal yang dapat dihimpun CBRE mencapai Rp 1,27 triliun.
Adapun rasio rights issue ditetapkan sebesar 260 HMETD untuk setiap 100 saham lama. Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru.
Dana tersebut akan digunakan untuk untuk melakukan konversi utang menjadi modal sebesar 67,4%. Alurnya, perseroan akan mengonversi utang kepada PT Garuda Nusantara Mineral (GNM), PT Saga Investama Sedaya (SIS), Yafin Tandiono Tan dan Hilong Shipping Holding Limited (HSIL) dengan total nilai US$48,5 juta atau Rp 858,6 miliar menjadi modal disetor.
Dana bersih yang diperoleh setelah proses konversi utang dan dikurangi biaya-biaya right issue akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kelangsungan dan pengembangan kegiatan usaha perseroan.
