Wall Street Bergerak Variatif, Harga Minyak Turun di Tengah Kabar Damai AS-Iran

Nur Hana Putri Nabila
23 September 2026, 06:02
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada perdagangan saham Selasa (22/9) ditopang turunnya harga minyak seiring dengan perkembangan hubungan AS dan Iran.

Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,45% menjadi 27.244,28. Kenaikan itu usai saham Sandisk melonjak hampir 7% setelah Rosenblatt memberikan rekomendasi bullish.

Sementara itu, S&P 500 turun tipis ke 7.764,64. Dow Jones Industrial Average juga melemah 185,14 poin atau 0,36% ke level 51.863,69.

Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pejabat AS telah menggelar “pertemuan yang sangat baik” dengan delegasi Iran selama sekitar tiga jam.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,09% menjadi US$ 99,25 per barel. Minyak mentah AS juga melemah 1,24% ke US$ 94,59 per barel. Penurunan itu memperpanjang pelemahan harga minyak selama lima hari berturut-turut.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa, Trump mengatakan dirinya harus mengambil “keputusan besar” terkait langkah AS terhadap Iran, termasuk mengejar kesepakatan atau mengambil tindakan militer.

Trump juga mengatakan AS berpeluang mencapai kesepakatan dengan Iran setelah pemilu. Menurutnya, Iran masih menunggu hasil pemilu untuk menentukan langkah selanjutnya.

Adapun harga minyak sebelumnya sempat tertekan setelah muncul laporan Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Namun, laporan tersebut belum terverifikasi secara independen oleh CNBC. Arab Saudi juga dilaporkan berencana mengaktifkan kembali pipa minyak Timur-Barat paling cepat pekan ini.

Pergerakan Wall Street pada Selasa melanjutkan kenaikan pada sesi sebelumnya. S&P 500 mencatat kinerja terbaik sejak 4 Agustus, sedangkan Nasdaq membukukan rekor penutupan pertama sejak Juni.

Penurunan harga minyak turut menopang pasar saham dan mendorong koreksi imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sebelumnya, imbal hasil Treasury AS terus meningkat di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan utang, harga minyak, dan inflasi yang masih tinggi.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun terakhir turun tipis dan berada di level 4,959%. Ahli strategi portofolio senior bidang strategi pendapatan tetap RBC Wealth Management, Tom Garretson menilai pasar belum sepenuhnya paham dampak siklus kenaikan suku bunga, meskipun imbal hasil obligasi berada di level tinggi. Menurutnya, pasar masih cenderung lengah terhadap potensi imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menembus level 5%.

“Serta risiko yang cukup persisten bahwa The Fed kemungkinan besar akan terus menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi dan berpotensi kembali mendekati 5% pada awal 2027,” kata Garretson dikutip CNBC International, Rabu (23/9).

Perhatian para pasar akan beralih ke pertemuan puncak minggu ini di Washington, DC antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping. Kecerdasan buatan, perang di Iran, tarif, dan logam tanah jarang diperkirakan akan menjadi beberapa topik utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Menteri Keuangan Scott Bessent telah mengadakan pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng sebelum kunjungan Xi ke AS.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...