Wall Street Loyo, Yield Obligasi AS Melonjak Picu Kekhawatiran Bunga The Fed

Nur Hana Putri Nabila
24 September 2026, 06:14
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Wall Street ditutup melemah pada Rabu (23/9) setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak. Kenaikan imbal hasil membuat investor khawatir jika Federal Reserve menaikkan suku bunga.

S&P 500 turun 0,75% ke level 7.706,03 dan Nasdaq Composite melemah 1,13% menjadi 26.936,04. Sedangkan Dow Jones Industrial Average tergelincir 352,10 poin atau 0,68% menjadi 51.511,59.

Tekanan terutama datang dari saham sektor utilitas dan barang konsumsi diskresioner yang masing-masing mengalami penurunan lebih dari 1%.

Adapun kenaikan imbal hasil Treasury setelah rilis data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru yang menunjukkan aktivitas perekonomian masih kuat. Yield Treasury 10 tahun menyentuh 5,135%, level tertinggi sejak Juli 2007 sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar sejak 7 April 2025.

Sementara itu, imbal hasil Treasury 2 tahun mencapai 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024.

Kepala Divisi Ekuitas AS Procyon, Massimo Santicchia, mengatakan kinerja laba korporasi masih kuat, tetapi tekanan inflasi menjadi penghambat pasar. Menurutnya, kedua faktor ini kini saling tarik-menarik.

Di sisi lain, Santicchia juga menyebut tekanan inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak, tetapi kini meluas terutama ke sektor jasa. Kondisi itu membuat ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga atau menghentikan kenaikan suku bunga menjadi semakin terbatas.

“Kemungkinan kita akan melihat dua atau tiga kali kenaikan suku bunga,” tulis Santicchia dikutip CNBC International , Kamis (24/9). 

Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan moneter kemungkinan besar diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi AS masih kuat dan pasar tenaga kerja tetap kokoh. Lalu inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2% dan belum menunjukkan tren yang jelas.

Barr juga mengatakan risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja telah menurun.

Pernyataan itu mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober naik menjadi lebih dari 66%, dari 55,4% sehari sebelumnya dan 8,8% sebulan lalu.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah juga menguat. Kontrak Brent untuk pengiriman November naik sekitar 3,9% menjadi US$103,08 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$92,16 per barel.

Kenaikan harga minyak itu di tengah ketegangan AS-Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan telah berlangsung pertemuan selama tiga jam antara pejabat AS dan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Trump menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan dirinya memiliki keputusan besar terkait kesepakatan dengan Teheran atau akan menindak lebih keras terhadap Iran.

Lalu pada perdagangan Selasa (22/9), Nasdaq mencatat rekor tertinggi intraday sekaligus penutupan, sementara Dow Jones berakhir melemah dan S&P 500 relatif stabil.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...