Saham GOTO Anjlok ke Rp 43 saat BEI Terapkan Batas Baru, Potensi Turun ke Rp 25?

Karunia Putri
28 September 2026, 09:49
GoTo melepas sebanyak 46,7 miliar saham dan meraih dana IPO senilai Rp 15,8 triliun
Dokumentasi GOTO
GoTo melepas sebanyak 46,7 miliar saham dan meraih dana IPO senilai Rp 15,8 triliun
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung anjlok ke batas auto rejection bawah (ARB) 14% menjadi Rp 43 pada pembukaan perdagangan Senin (28/9). Sebelumnya, saham GOTO telah tertahan di level gocap sejak 5 Mei 2026.

Penurunan saham GOTO terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp 50 atau gocap menjadi Rp 1. 

ARB adalah batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari. Jika harga menyentuh batas ini, sistem otomatis menolak order jual di bawah harga tersebut. 

Berdasarkan data bursa, nilai transaksi saham GOTO mencapai Rp 3,13 miliar dengan volume perdagangan 738,88 ribu lot pada perdagangan hari ini. Meski saham GOTO kembali bergerak setelah lama tertahan di level Rp50, kolom bid masih belum terisi.

Sementara itu, antrean jual GOTO membengkak menjadi 1,11 miliar lot dari sebelumnya mencapai 406,20 juta lot pada pukul 07.10 WIB. Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny mengatakan harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang terus menguat.

“Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” kata Audrey dalam keterangan resmi, dikutip Senin (28/9).

Audrey mengatakan kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar dan membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut.

Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp5,7 triliun, sedangkan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun.

“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun,” ujarnya.

Audrey mengatakan GOTO akan tetap fokus memperkuat kinerja bisnis yang diyakini dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.

Sebelumnya, Morgan Stanley memborong saham GOT di level 25 sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan investor akankah  GOTO akan turun ke level tersebu.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai aktivitas Morgan Stanley tersebut belum tepat dibaca sebagai perubahan pandangan secara drastis terhadap prospek GOTO.

Menurut Elandry, transaksi pada kisaran Rp 25-Rp 27 dilaporkan sebagai repurchase agreement (repo), sehingga karakter transaksinya berbeda dengan aksi jual saham biasa di pasar reguler.

“Lebih mencerminkan pengelolaan posisi dan liquidity institusi dibandingkan sinyal langsung bahwa fundamental GOTO memburuk,” kata Elandry.

Dia mengatakan investor perlu melihat GOTO dari sisi fundamental dan pergerakan saham. Dari sisi fundamental, kinerja GOTO mulai menunjukkan perbaikan. Perseroan mencatat laba bersih sekitar Rp 607 miliar pada semester pertama 2026 dengan adjusted EBITDA sekitar Rp 1 triliun.

Namun, saham GOTO masih menghadapi tekanan sentimen pasar setelah keluar dari MSCI Global Standard serta ketidakpastian terkait perubahan mekanisme batas minimum harga saham. Karena itu, Elandry menyarankan investor bersikap wait and see hingga terbentuk price discovery yang lebih jelas.

“Investor dengan profil agresif bisa mulai mencermati apabila tekanan jual mereda dan terlihat akumulasi yang konsisten,” ujarnya.

Kata Analis Soal Turunnya Harga Batas Minimum

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra mengatakan perubahan aturan tersebut memang berpotensi meningkatkan tekanan jual terhadap saham-saham yang selama ini terkunci di level Rp 50.

Tekanan tersebut terutama berpotensi terjadi pada emiten dengan fundamental lemah, likuiditas rendah, sentimen negatif atau memiliki banyak investor yang telah lama menunggu kesempatan untuk keluar.

“Besarnya penurunan nantinya akan sangat bergantung pada perbandingan antara pasokan saham yang ingin dijual dan minat beli setelah harga minimum dihapus,” kata Hendra dalam keterangannya, dikutip Senin (28/9).

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu saham yang kemungkinan mendapat perhatian pasar karena telah lama berada di level Rp 50 dna memiliki antrian jual yang mengular mencapai 406,2 juta lot per hari ini.

Namun Hendra menekankan bahwa tekanan tersebut tak hanya dialami oleh GOTO saja namun juga seluruh saham yang berada di level gocap akan menghadapi mekanisme perdagangan yang sama setelah batas minimum harga diturunkan.

Besarnya tekanan terhadap masing-masing saham akan bergantung pada kondisi fundamental, sentimen pasar, jumlah investor yang ingin menjual serta ketersediaan pembeli pada harga baru.

Hendra menjelaskan, perubahan batas harga minimum ini tidak serta-merta berarti seluruh saham gocap akan langsung jatuh ke Rp 1. Pergerakan harga tetap akan ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran di pasar.

Lebih lanjut Hendra menjelaskan dampak ini bagi investor. Menurutnya, investor yang selama ini masih menyimpan saham di level Rp 50, perubahan aturan tersebut juga mengubah kondisi yang selama ini dikenal sebagai saham “nyangkut” di gocap.

Investor tidak lagi dapat menjadikan harga Rp 50 sebagai patokan tunggal dalam mengambil keputusan. Kondisi bisnis perusahaan menjadi faktor yang lebih penting untuk diperhatikan.

Investor perlu melihat kembali perkembangan bisnis, kinerja laba, arus kas, tingkat utang, prospek industri serta katalis yang berpotensi mendorong perbaikan kinerja perusahaan.

Jika fundamental perusahaan terus memburuk dan tidak terdapat katalis yang jelas, meningkatnya likuiditas setelah perubahan aturan dapat membuka kesempatan bagi investor untuk mengurangi posisi ketika terdapat permintaan beli.

Sebaliknya, penurunan harga pada hari-hari awal penerapan aturan tidak otomatis menjadi alasan untuk menjual apabila fundamental dan prospek bisnis perusahaan masih terjaga.

Investor juga perlu mewaspadai jebakan psikologis ketika harga saham turun menjadi Rp 1, Rp 5 atau Rp 10. Harga yang rendah secara nominal tidak berarti saham tersebut murah secara valuasi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...