Wall Street Berguguran Awal Pekan saat Yield Menguat, Saham Boeing Anjlok 7%
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Senin (28/9). Penurunan terjadi karena tertekan kenaikan imbal hasil (yield) Treasury yang kembali menguat di awal pekan.
Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,67% menjadi 51.481,51. S&P 500 turun 0,77% menjadi 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,92% menjadi 26.820,38.
Saham Boeing menjadi pemberat indeks dengan anjlok hampir 7% setelah Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan belum akan memberikan sertifikasi untuk 737 Max 10 hingga lembaga tersebut menyelesaikan penilaian terhadap gangguan perangkat lunak baru.
Pada perdagangan kemarin yield Treasury melanjutkan lonjakan tajam yang terjadi pada pekan lalu. Yield obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik menembus 5,2%, sedangkan yield obligasi bertenor 30 tahun melampaui 5,5%. Keduanya diperdagangkan di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun.
"Yield tersebut kembali naik secara signifikan hari ini dan hal itu menyebabkan pelemahan yang dapat dipahami di pasar," kata manajer portofolio Gabelli Funds Justin Bergner dikutip dari CNBC, Selasa (29/9).
Dia mengatakan, persaingan untuk mendapatkan modal akibat belanja perusahaan hyperscaler AI juga menekan konsumen melalui suku bunga yang lebih tinggi, sehingga kondisi tersebut membuat pasar menjadi lebih satu arah dari sebelumnya.
Sejumlah saham perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) turut memimpin pelemahan indeks utama pada Senin. Saham Advanced Micro Devices dan Micron Technology masing-masing turun 3,6% dan 2,6%.
Saham Amazon dan Microsoft juga melemah sekitar 1%, sedangkan Meta Platforms anjlok 4,8%.
Namun, Nvidia bergerak berlawanan dengan tren saham hyperscaler dan perusahaan AI lainnya. Saham Nvidia naik 1,7% setelah perusahaan mengumumkan pada Senin bahwa mereka berencana membeli kembali saham senilai tambahan US$ 150 miliar. Dengan demikian, total nilai program pembelian kembali saham Nvidia mencapai US$ 235 miliar.
