Boy Thohir Masuk NextAI MGLV di Tengah Geliat Data Center, Bagaimana Prospeknya?
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) sedang merombak bisnisnya secara besar-besaran. Dari perusahaan perlengkapan rumah tangga, perseroan akan menjadi pemain baru penyedia infrastruktur pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI data center.
Perubahan bisnis tersebut turut menarik perhatian investor. Harga saham MGLV bahkan telah melonjak ratusan persen sepanjang tahun ini, termasuk dengan masuknya kendaraan investasi keluarga Thohir sebagai salah satu pemegang saham perseroan.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/9), saham MGLV bertengger di level Rp 15.000 per saham. Padahal, pada awal tahun atau 2 Januari 2026 saham MGLV masih berada di level Rp 2.200.
Bila dilihat lebih jauh harga saham MGLV telah melonjak 581,82% sejak awal tahun. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp 28,57 triliun, dengan porsi saham yang beredar di publik atau free float sebesar 32,92%.
MGLV sebelumnya berdiri pada 1990 dengan nama PT Pancamagram Wisesa. Perseroan awalnya bergerak di bidang impor marmer dan granit untuk memasok kebutuhan proyek perumahan hingga gedung bertingkat. Namun, perseroan kini mengubah kegiatan usahanya dan mengembangkan bisnis di sektor infrastruktur komputasi, pusat data serta konsultasi manajemen.
MGLV akan menjalankan bisnis infrastruktur komputasi melalui anak usahanya, yakni PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC). Kedua perusahaan ini diakuisisi perusahaan dan diumumkan pada 9 September 2026.
NAC akan mengoperasikan fasilitas pusat data di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi. Perusahaan tersebut mengelola proyek JababekaDC yang saat ini dalam tahap ekspansi dengan penambahan kapasitas listrik sebesar 36 megawatt (MW). Setelah ekspansi selesai, total kapasitas JababekaDC ditargetkan mencapai 42 MW.
Sementara itu, NGC akan mengembangkan pusat data di luar wilayah Jabodetabek, tepatnya di Jawa Tengah. NGC bertanggung jawab atas pembangunan BatangDC di Kawasan Industri Terpadu Batang dengan target kapasitas hingga 60 MW.
NAC dan NGC merupakan anak usaha yang dikendalikan MGLV dengan kepemilikan masing-masing sebesar 99,9%. Penambahan modal tersebut setara dengan 99% dari modal disetor masing-masing perusahaan.
Dengan pengembangan kedua proyek tersebut, MGLV tengah membangun portofolio infrastruktur pusat data yang berfokus pada kebutuhan komputasi AI.
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut MGLV tengah melakukan pivot ke bisnis AI data center. Berdasarkan perhitungan discounted cash flow (DCF), nilai ekuitas MGLV diperkirakan berada pada kisaran Rp 4,9 triliun untuk kapasitas 102 MW hingga Rp 106 triliun untuk kapasitas 900 MW pada 2031.
Dengan kapitalisasi pasar MGLV yang saat ini sekitar Rp 27,8 triliun, BRI Danareksa Sekuritas menilai valuasi dengan basis kapasitas 102 MW sudah tercermin dalam harga saham.
Keluarga Thohir Masuk MGLV
Transformasi bisnis MGLV juga menarik perhatian investor sekaligus pengusaha kakap, keluarga Thohir. Keluarga Thohir kemudian menanamkan investasi ke perusahaan ini.
Berdasarkan data pemegang saham per 29 September 2026, dalam struktur pemegang saham perseroan terdapat Trinugraha Thohir dan Trinugraha Thohir Harmoni. Keduanya adalah kendaraan investasi keluarga Thohir di sejumlah perusahaan tercatat di BEI.
Garibaldi Thohir alias Boy Thohir tercatat sebagai salah satu pengelola utama kendaraan investasi tersebut.
Trinugraha Thohir Harmoni menggenggam 92,5 juta saham MGLV atau setara 4,86% dari total saham perseroan. Sementara Trinugraha Thohir memiliki 42,86 juta saham atau setara 2,25%.
Pada 9 September 2026, Boy Thohir secara pribadi ikut masuk investasi ke MGLV. Dia tercatat memborong 30 juta saham MGLV. Dia mengatakan melihat prospek yang menjanjikan di tengah melesatnya perkembangan infrastruktur.
“Saya melihat prospek perusahaan menjanjikan di tengah pesatnya perkembangan infrastruktur teknologi masa depan,” kata Boy dalam keterangannya dikutip Selasa (29/9).
Kantongi Kredit Jumbo Rp 10,75 Triliun
Untuk mendukung pengembangan bisnis pusat data, MGLV juga memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melalui dua anak usahanya tersebut, yaitu NAC dan NGC.
NAC mengantongi fasilitas pinjaman dari BNI dengan nilai maksimal Rp 4,125 triliun. Fasilitas tersebut akan digunakan antara lain untuk membiayai sebagian pengambilalihan fasilitas data center di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi.
Dana tersebut juga akan digunakan untuk membiayai sebagian proyek pengembangan JababekaDC, termasuk belanja modal untuk penambahan kapasitas sebesar 36 MW sehingga total kapasitas pusat data tersebut mencapai 42 MW. Sebagian dana juga digunakan untuk membiayai bunga selama masa konstruksi.
Sementara itu, NGC memperoleh fasilitas pinjaman dari BNI dengan nilai maksimal Rp 6,629 triliun. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk membiayai sebagian pembangunan BatangDC hingga mencapai kapasitas 60 MW, termasuk biaya dan pengeluaran terkait fasilitas pinjaman serta sebagian bunga selama masa konstruksi.
Sehingga total fasilitas pinjaman yang diperoleh NAC dan NGC dari BNI mencapai sekitar Rp 10,75 triliun.
Sebelum memperoleh fasilitas kredit tersebut, MGLV juga menambah modal kepada NAC dan NGC dengan total Rp 98 miliar.
Penambahan modal tersebut diputuskan pada 17 September 2026. Masing-masing anak usaha memperoleh tambahan modal Rp 49 miliar atau setara dengan 49.000 saham.
MGLV menyatakan penambahan modal dilakukan untuk mendukung pengembangan dan peningkatan skala usaha NAC dan NGC. Dana tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan perizinan usaha, termasuk penyesuaian data serta dokumen master list yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha kedua anak perusahaan.
Right Issue 285,73 Juta Saham
Perseroan juga akan melakukan penambahan modal melalui penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Perseroan akan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru dengan target dana mencapai Rp 2,54 triliun.
Dalam prospektus ringkas yang diterbitkan, NexAI menetapkan harga pelaksanaan rights issue Rp 8.880 per saham. Jumlah saham baru yang ditawarkan sebanyak-banyaknya 285.732.512 saham atau setara 13,04% dari jumlah saham setelah aksi korporasi.
Harga pelaksanaan tersebut berada jauh di bawah harga saham MGLV di pasar. Berdasarkan data perdagangan Jumat (11/9) pukul 09.25 WIB, saham MGLV berada di level Rp15.400 per saham. Bila merujuk harga hari ini maka pelaksanaan right issue berada dengan diskon sekitar 42%.
Presiden Direktur NexAI Ahmad Zulfikar mengatakan, dana yang dihimpun melalui rights issue ini akan langsung mendukung pembangunan AI data center yang dirancang untuk standar tier III. Langkah ini sejalan dengan arah bisnis baru yang telah disetujui pemegang saham.
“Ini adalah langkah konkret bagi kami untuk merealisasikan visi transformasi Perseroan. Data center kami dirancang untuk mendukung kebutuhan hosting chip AI dengan teknologi terbaru yang tersedia di industri saat ini,” ujar Zulfikar seperti dikutip Jumat (11/9).
Dalam aksi ini, setiap pemegang 100 saham lama akan memperoleh 15 HMETD, sedangkan setiap satu HMETD memberikan hak untuk membeli satu saham baru. Sebaliknya, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan atau dilusi maksimum 13,04%.
