BBRI Diburu Asing Dua Hari Beruntun, Net Buy Tembus Rp102 Miliar
Saham bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diakumulasi investor asing selama dua hari terakhir. Pemborongan asing tersebut terjadi di tengah tekanan terhadap kinerja BBRI pada awal kuartal ketiga 2026 akibat kenaikan biaya dana atau cost of funds (CoF).
Pada perdagangan Selasa (29/9), investor asing membukukan pembelian saham BBRI senilai Rp 243,53 miliar dengan net buy Rp 52,2 miliar. Sehari sebelumnya, Senin (28/9) asing membeli saham BBRI senilai Rp 195,42 miliar dengan net buy Rp 49,7 miliar. Alhasil, nilai net buy selama dua hari tersebut tembus Rp 101,9 miliar.
Akumulasi asing selama dua hari berturut-turut mengerek naiknya saham BBRI pada perdagangan Rabu (30/9). Berdasarkan data intraday pukul 09.12 WIB, saham BBRI naik 0,95% ke level Rp 3.200. Nilai transaksi saham BBRI tercatat Rp 71,05 miliar dengan volume perdagangan mencapai 222,82 ribu lot.
BBRI membukukan laba bersih Rp 34,77 triliun sepanjang Januari sahmpai Agustus 2026, tumbuh 6,63% secara tahunan atau year on year (yoy).
Pendapatan bunga BBRI tercatat Rp 109,66 triliun, tumbuh 0,22% yoy. Sementara itu, beban bunga turun 6,70% menjadi Rp 32,41 triliun.
Penurunan beban bunga tersebut menopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 3,44% yoy menjadi Rp 77,25 triliun. Smeentara itu penyaluran kredit BBRI mencapai Rp 1.446,98 triliun atau tumbuh 13,66% yoy. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 12,59% menjadi Rp 1.655,84 triliun.
Adapun total aset BBRI mencapai Rp 2.127 triliun per Agustus 2026. Meski kinerja secara kumulatif masih tumbuh, Tim Riset Stockbit Sekuritas mencatat adanya perlambatan pada awal kuartal ketiga 2026.
“Laba bersih selama periode Juli - Agustus 2026 turun -7% selama 1H26. Penurunan kinerja selama 2 bulan pertama 3Q26 tersebut utamanya didorong oleh kenaikan beban bunga,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas dalam risetnya dikutip Rabu (30/9).
Dia mengatakan perlambatan tersebut terutama disebabkan kenaikan beban bunga sebesar 9% yoy pada Juli-Agustus 2026. Padahal, pada paruh pertama tahun ini beban bunga masih turun 12% yoy.
Kenaikan beban bunga tersebut terjadi seiring peningkatan time deposits yang naik 15% sejak Juni 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan kredit dan dana murah atau current account savings account (CASA) yang masing-masing hanya sekitar 1%.
Kondisi tersebut turut menekan net interest margin (NIM). Pada Juli-Agustus 2026, NIM BBRI berada di bawah 6%, lebih rendah dibandingkan NIM semester I 2026 sebesar 6,4%. Di tengah tekanan biaya dana, kualitas aset BBRI menunjukkan perbaikan.
Beban pencadangan turun 11% yoy dan 14% secara bulanan atau month on month (mom) menjadi Rp3,1 triliun. Penurunan tersebut membuat credit cost (CoC) berada di level 2,6%.
CoC BBRI juga terus menurun dalam tiga bulan terakhir sejak Juni 2026. Secara kumulatif, CoC sepanjang delapan bulan pertama 2026 berada di level 3,2%, lebih rendah dibandingkan 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan CoC tersebut terjadi meskipun kredit BBRI tumbuh sekitar 14% yoy.
Tim Riset Stockbit Sekuritas juga mengatakan peningkatan time deposits BBRI dilakukan sebagai langkah persiapan menghadapi potensi penarikan kembali sebagian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah pada kuartal IV 2026.
Berdasarkan diskusi Stockbit Sekuritas dengan investor relations BBRI, dari sekitar Rp 300 triliun dana penempatan SAL pemerintah di bank-bank Himbara hanya sekitar Rp 200 triliun yang akan diperpanjang hingga Juli 2027.
Selain potensi penarikan dana SAL, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kembali mendekati level Rp 18.000 per dolar AS juga membuat risiko pengetatan likuiditas kembali menjadi perhatian.
Namun, Stockbit Sekuritas menilai kondisi likuiditas saat ini masih sangat dinamis dengan visibilitas yang rendah. Perkembangan geopolitik yang signifikan dan terjadi secara tiba-tiba dapat mengubah prospek inflasi, kebijakan suku bunga hingga kondisi likuiditas.
“Dalam waktu dekat, kami cenderung wait and see,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.
Untuk rekomendasi saham ke depan, analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova menyematkan target harga BBRI ke level 3.310, 3.410, 3.510 dan 3.630. Sementara itu CGS International Sekuritas Indonesia mengatakan spec buy BBRI di support 3.110 hari ini. Target harga jangka pendek ke level 3.230-3.290.
