Saham GOTO Sentuh ARB 3 Hari Beruntun, Bagaimana Nasib Investor dan Kinerjanya?
Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih tersungkur hingga auto reject bawah (ARB) ke Rp 32 atau merosot 13,51% selama tiga hari berturut-turut. Harga saham GOTO masih tertekan usai Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan batas harga minimum baru sebesar Rp 1.
Hingga perdagangan saham siang ini, Rabu (30/9) pukul 13.40 WIB, investor yang ingin menjual saham GOTO mencapai 780,63 juta saham.
Melihat hal itu, Research Analyst Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai investor tak perlu panik melihat pergerakan saham GOTO yang berada di bawah Rp 50. Menurutnya, harga GOTO turun di bawah gocap sudah sesuai ekspektasi sejak perubahan aturan perdagangan diumumkan.
“Ketika batas Rp50 dibuka, pasar memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan harga. Pergerakan dalam beberapa hari pertama ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai perubahan pada prospek bisnis GOTO,” ujar Aditya dalam analisisnya, Rabu (30/9).
Ia justru menilai penghapusan batas harga Rp 50 sebagai perkembangan positif bagi saham GOTO dalam jangka panjang. Menurutnya, harga saham yang dapat bergerak mengikuti permintaan dan penawaran membuat pasar memiliki ruang untuk membentuk harga secara lebih terbuka.
Tak hanya itu, Aditya mengatakan kejelasan harga menjadi penting, terutama bagi investor institusi yang mempertimbangkan masuk ke suatu saham. Mereka dapat menilai harga masuk, risiko, dan peluang keluar dari posisi investasi berdasarkan transaksi yang terbentuk dan dapat diamati di pasar.
“Sekarang proses price discovery terlihat lebih jelas, investor dapat menilai pada harga berapa saham GOTO benar-benar diperdagangkan, lalu menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan investasi,” ucap Aditya.
Sebelumnya, harga GOTO yang tertahan di Rp 50 membuat likuiditas saham di pasar reguler menyusut. Mengacu pada data BEI, sebagian transaksi GOTO justru berlangsung di pasar negosiasi.
Dengan dibukanya batas harga ke Rp 1, Aditya memperkirakan transaksi GOTO berpeluang naik di pasar reguler. Di sisi lain, ia juga memproyeksikan harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan.
Ia mencatat GoTo telah membukukan laba bersih positif selama dua kuartal berturut-turut, sementara pendapatan dan profitabilitas perseroan terus membaik.
Menurut Aditya, volatilitas masih berpotensi terjadi hingga pasar menemukan keseimbangan harga baru. Namun, jika likuiditas di pasar reguler pulih dan kinerja GoTo terus membaik, fundamental perusahaan dapat kembali menjadi faktor utama yang diperhatikan investor dalam menilai saham GOTO.
“Investor perlu melihat kemampuan bisnisnya untuk terus tumbuh dan menghasilkan laba, selain mencermati pergerakan harga saham harian,” katanya.
Sebelumnya Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, mengatakan harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat.
“Penurunan harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp 50,” katanya dalam keterangan resmi.
Ia juga menyebut kinerja bisnis perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal kedua 2026, GOTO mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp 1 triliun.
“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” ucapnya.
