Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow Jones Rontok 4,3% Sepanjang September

Karunia Putri
1 Oktober 2026, 15:23
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (30/9). Namun mayoritas indeks ditutup turun meski data ekonomi terbaru AS menunjukkan inflasi melambat pada bulan lalu.

Indeks S&P 500 turun 0,25% menjadi 7.651,54. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,24% dan ditutup di level 26.861,06. Dow Jones Industrial Average turun 0,86% atau 443,87 poin menjadi 50.906,05.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) pada Agustus naik 3,4% secara tahunan, melambat dari 3,7% pada bulan sebelumnya. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tetap di level 3,7%.

Data yang menunjukkan pertumbuhan adalah pada inflasi inti PCE yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi. Inflasi inti naik 3% secara tahunan, turun dari 3,3% pada bulan sebelumnya dan juga lebih rendah dari perkiraan ekonom.

"Saya tidak melihat ekspektasi inflasi benar-benar melonjak, jadi saya pikir yang benar-benar diperhatikan para trader adalah pertumbuhan,” kata direktur senior strategi investasi di U.S. Bank Asset Management Group Rob Haworth dikutip dari CNBC, Kamis (1/10).

Dia mengatakan investor memiliki ekspektasi  Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun ditutup lebih tinggi pada perdagangan Rabu. Imbal hasil terakhir naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298%. Imbal hasil acuan tersebut sempat menembus 5,3% pada level tertingginya selama sesi perdagangan.

Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun naik hampir 5 basis poin menjadi 5,642%. Perhatian pasar kemudian beralih ke laporan ketenagakerjaan yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (2/10). 

Nonfarm payrolls atau penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian diperkirakan bertambah 84.000 pada September. Jumlah tersebut sekitar setengah dari tambahan tenaga kerja pada Agustus berdasarkan penyesuaian musiman.

Peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga menurun pada Rabu. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan mencapai 35%. 

Angka tersebut turun dari sekitar 51% sehari sebelumnya. Namun, trader masih memperkirakan kenaikan suku bunga lainnya pada Desember meskipun data inflasi yang dirilis Rabu menunjukkan perlambatan.

"Meski data inflasi hari ini sedikit lebih baik dari perkiraan, data tenaga kerja dan PDB yang kuat menunjukkan laporan ini kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi konsensus mengenai kenaikan suku bunga lainnya sebelum akhir tahun," kata kepala global multi-asset dan manajer portofolio Adam Hetts.

Dia mengatakan masig ada peluang 75% untuk tiga kali kenaikan suku bunga ketika kita memasuki pertengahan tahun depan. 

“Jadi, pasar belum menganggap persoalan ini sepenuhnya berlalu, tetapi mungkin isu tersebut tidak lagi dianggap sesegera yang sebelumnya dikhawatirkan," kata Haworth.

Data sektor swasta mengimbangi laporan inflasi yang melandai. ADP melaporkan penambahan 90.000 lapangan kerja pada September, jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus ekonom yang memperkirakan 68.000.

Perdagangan Rabu juga menandai berakhirnya September sekaligus kuartal ketiga 2026. Sepanjang September, S&P 500 turun 0,5%, sementara Dow Jones merosot 4,3%. Nasdaq mencatat kinerja lebih baik dengan naik 1,9% sepanjang bulan tersebut.

Sementara itu pada kuartal ketiga, S&P 500 naik 2%, sedangkan Nasdaq menguat 2,5%. Sebaliknya, Dow Jones mencatat kinerja lebih rendah dengan turun 2,7% sepanjang kuartal.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...