Yield Obligasi AS Naik ke Level Tertinggi 23 Tahun, Wall Street Tertekan
Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Rabu (7/10), seiring tekanan di pasar obligasi yang terus meningkat. Hal ini karena imbal hasil (yielad) obligasi Pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 341,41 poin atau 0,66% ke level 51.179,87. S&P 500 melemah 0,22% ke level 7.801,77, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,22% ke level 27.538,69.
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun menembus 5,365% pada Rabu, level tertinggi sejak April 2002. Imbal hasil obligasi 30 tahun juga mencapai 5,732%, level tertinggi sejak Mei 2002.
Kemudian, imbal hasil Treasury 10 tahun meninggalkan level tertingginya setelah Departemen Keuangan AS menjual obligasi bertenor 10 tahun senilai US$ 39 miliar melalui lelang.
Kepala Riset Pasar Modal U.S. Bank Asset Management Bill Merz mengatakan rasio penawaran terhadap permintaan dan partisipasi penawar dalam lelang ini belum cukup kuat.
Menurut Merz, investor perlu menunjukkan minat terhadap tingkat imbal hasil yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi selama 15 hingga 20 tahun terakhir. Namun, investor juga tetap perlu menyikapinya dengan hati-hati.
“Ada banyak faktor pendorong lain di luar sana yang juga perlu kita pertimbangkan secara terpisah,” kata Merz dikutip CNBC International, Kamis (8/10).
Selain itu, risalah rapat Federal Reserve pada September menunjukkan para pejabat memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, meskipun belum memberikan indikasi waktu kenaikan tersebut.
“Berkenaan dengan prospek kebijakan moneter di luar rapat saat ini, sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan lain pada kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan pada akhir tahun,” demikian tertulis dalam risalah tersebut.
Namun, para pejabat The Fed menegaskan akan tetap membuka opsi kebijakan dan mempertimbangkan data terbaru dalam setiap rapat. Mereka juga akan menilai dampaknya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko.
Kenaikan imbal hasil obligasi kian menekan sejumlah sektor utama di pasar saham. Saham perbankan melemah karena investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi akan menghambat aktivitas pemberian pinjaman.
Saham Goldman Sachs dan Bank of America masing-masing turun 1%. Saham Wells Fargo, Citigroup, dan JPMorgan juga ditutup melemah.
Saham teknologi tertekan karena investor mengkhawatirkan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membatasi pengembangan kecerdasan buatan (AI). Saham CrowdStrike turun hampir 5%, sedangkan Palo Alto Networks dan Meta Platforms masing-masing melemah lebih dari 3% dan 2%.
Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif Horizon Investments Mike Dickson mengatakan kenaikan suku bunga telah mempersempit ruang bagi perusahaan untuk mencetak laba. Namun, menurutnya, laba masih berpotensi mendorong pasar lebih tinggi.
“Dengan tingkat suku bunga saat ini dan kenaikan yang telah kita lihat, saya rasa wajar untuk mengatakan margin kesalahan telah menyempit terkait laba,” kata Dickson dikutip dari CNBC.
Dickson mengatakan ekspektasi inflasi masih terlihat “sangat terkendali” meskipun imbal hasil obligasi kembali meningkat. Menurutnya, kondisi pasar dapat berubah jika kenaikan imbal hasil Treasury 10 tahun mulai mencerminkan lonjakan ekspektasi inflasi.
“Jika imbal hasil obligasi 10 tahun mulai naik karena ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali, nah, sekarang situasinya bisa sedikit lepas kendali,” kata Dickson.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS ditutup turun 1,3% menjadi US$ 88,28 per barel pada Rabu. Sementara itu, minyak mentah Brent turun 0,4% ke US$ 100,20 per barel. Di sisi lain, sehari sebelumnya, indeks S&P 500 untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.800. Kenaikan tersebut terutama ditopang saham-saham produsen chip.
