IHSG Rontok Tinggalkan Level 6.000, Sinyal Bearish dan Risiko Koreksi Membesar?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga ke bawah level psikologis 6.000 setelah ditutup turun 1,94% ke level 5.975 pada perdagangan sesi pertama, Senin (12/10).
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 166,22 miliar pada perdagangan sesi pertama. BRI Danareksa Sekuritas menyoroti IHSG kian tertekan dan masih berpotensi berlanjut karena indeks bergerak di bawah moving average 20 hari (MA20) di level 6.216, yang mengindikasikan tren bearish.
Secara teknikal, BRI Danareksa menilai level support IHSG berikutnya berada di 5.850, berdasarkan Fibonacci 0,618. Apabila level tersebut ditembus, risiko koreksi lebih dalam akan meningkat. Adapun area resistance terdekat berada di kisaran 6.154–6.214.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga masih menunjukkan sinyal bearish, dengan garis MACD berada di bawah signal line dan histogram negatif.
BRI Danareksa sekuritas menyebut kondisi ini mengindikasikan ruang kenaikan IHSG berpotensi terbatas sebelum IHSG mampu kembali menembus area resistance tersebut.
“Rebound berpotensi terbatas selama IHSG belum kembali di atas 6.154–6.214,” tulis BRI Danareksa Sekuritas, Senin (12/10).
Sentimen IHSG
Di samping itu, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia. Salah satunya meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan Houthi ke Riyadh yang menambah risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
BRIDS menilai kondisi ini berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan mendorong investor menghindari aset berisiko.
Dari Amerika Serikat, investor akan mencermati rilis data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) September pada 14 Oktober. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.
BRI Danareksa juga menyoroti inflasi kembali meningkat, bank sentral AS berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat. Hal itu dinilai dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, dari Cina, rilis data CPI, indeks harga produsen (producer price index/PPI), dan neraca perdagangan September pada 14 Oktober akan menjadi perhatian pasar.
Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan domestik dan kebutuhan komoditas Cina. Permintaan yang kuat berpotensi menopang ekspor Indonesia, sedangkan pelemahan ekonomi Cina dapat menekan saham-saham berbasis komoditas.
Investor juga akan mencermati rangkaian pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12–18 Oktober. Agenda tersebut menjadi perhatian untuk melihat prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, serta respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik.
Selain itu, pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14–16 Oktober akan menjadi petunjuk tambahan bagi pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga AS setelah rilis data inflasi.
“Dolar yang bertahan dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi risiko bagi rupiah dan aliran dana asing,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
