Gonta-ganti Direktur Utama Garuda Indonesia (GIAA), Apa Rencana di Baliknya?
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kini menunjuk Direktur Utama baru usai perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 8 Oktober 2026. Dalam beberapa tahun terakhir, posisi nomor satu di Garuda gonta-ganti pemain oleh sejumlah nama.
Sebelumnya Irfan Setiaputra yang menjabat sejak Januari 2020 digantikan Wamildan Tsani Panjaitan pada November 2024. Belum genap setahun, Wamildan digantikan Letjen TNI (Purn) Glenny H. Kairupan pada Oktober 2025.
Kini, pada Oktober 2026, Garuda kembali merombak pucuk pimpinannya dengan menunjuk Thomas Sugiarto Oentoro sebagai direktur utama, menggantikan Glenny. Glenny kini menjabat sebagai komisaris utama GIAA.
Manajemen GIAA menyatakan, pergantian direktur utama dilakukan untuk mendukung percepatan restrukturisasi dan transformasi perusahaan. Perseroan membutuhkan pemimpin yang independen, berintegritas, dan memiliki kapabilitas internasional untuk meningkatkan profitabilitas serta kepercayaan investor global.
“Serta keberhasilan program restrukturisasi dan transformasi sesuai best practice industri penerbangan internasional,” ucap manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (12/10).
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti perbaikan pendapatan Garuda Indonesia pada kuartal II 2026 yang tumbuh 36% secara kuartalan dan 25% secara tahunan. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan jumlah penumpang reguler sebesar 15% secara tahunan dan pendapatan penerbangan haji yang melonjak 52%.
Selain itu Garuda juga meningkatkan armada operasional menjadi 102 pesawat pada kuartal IV 2025, dari 90 pesawat pada kuartal sebelumnya, dengan tingkat keterisian penumpang atau load factor stabil di kisaran 78–79%.
Meski begitu, tekanan biaya masih membayangi profitabilitas GIAA. Beban operasional penerbangan nonbahan bakar pada semester I 2026 turun sekitar 3% secara tahunan menjadi US$283 juta. Namun, penurunan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan beban bahan bakar sebesar 44% menjadi US$678 juta.
Dari sisi permodalan, Garuda memperoleh dukungan rekapitalisasi Danantara senilai Rp 23,7 triliun pada Desember 2025 untuk membiayai perawatan dan reaktivasi armada serta menjaga likuiditas operasional.
Perseroan juga menjalankan PMHMETD III melalui penerbitan hingga 124,4 juta saham baru Seri E, dengan Danantara menyetorkan 82,1 juta saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) senilai Rp5,66 triliun sebagai setoran nonkas atau inbreng. Transaksi ini berpotensi meningkatkan kepemilikan GIAA di GMFI menjadi sekitar 93,2%.
“GMFI baru meneken konsesi 20 tahun di Muscat International Airport, memperluas eksposur bisnis MRO pihak ketiga,” tulis BRIDS.
Valuasi Garuda Indonesia
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menilai harga bahan bakar menjadi faktor utama yang menentukan kinerja keuangan Garuda Indonesia. Setiap perubahan rata-rata harga avtur sebesar US$10 per barel pada semester II 2026 diperkirakan berdampak sekitar 10% terhadap estimasi laba sebelum pajak perseroan sepanjang 2026.
BRIDS menyoroti GIAA memang dapat mengompensasi sebagian kenaikan biaya melalui fuel surcharge untuk penerbangan domestik. Namun, tarif batas atas yang tidak berubah membatasi ruang Garuda untuk menyesuaikan harga tiket demi mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan nilai setoran nonkas atau inbreng saham GMFI dalam pelaksanaan PMHMETD III setara sekitar Rp 69 per saham GMFI.
Nilai tersebut menjadi salah satu acuan bagi pemegang saham minoritas untuk menilai kewajaran transaksi dan potensi dilusi kepemilikan akibat penerbitan saham baru.
“Kontribusi laba GMFI yang lebih besar baru signifikan mulai FY27F, sehingga belum menopang valuasi jangka pendek,” kata BRI Danareksa.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pemulihan pendapatan Garuda Indonesia sudah terlihat melalui penambahan armada dan tingkat keterisian penumpang (load factor) yang terjaga. Namun, tantangan berikutnya mengonversi pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi profitabilitas.
Kemudian disiplin biaya operasional di luar bahan bakar juga mulai berjalan. BRIDS menilai hal itu belum cukup untuk mengimbangi lonjakan beban avtur di tengah harga minyak Brent yang berada di kisaran US$100 per barel.
Di sisi lain, konsolidasi GMFI dinilai positif secara struktural. Meski demikian, investor perlu mencermati pelaksanaan PMHMETD III dan besaran potensi dilusi bagi pemegang saham yang tidak menebus haknya.
“Risiko utama yaitu harga avtur, regulasi tarif batas atas, dan eksekusi transformasi,” tulis BRI Danareksa.
