Mengukur Potensi Cuan BUMI jika Akuisisi Kideco Milik INDY
Aset milik anak perusahaan PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Kideco Jaya Agung, dirumorkan menjadi incaran sejumlah perusahaan tambang. Salah satunya termasuk emiten tambang Grup Bakrie yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Hingga berita ini ditayangkan, manajemen BUMI belum merespons kabar tersebut. Katadata telah menghubungi Corporate Communication BUMI, Renno, untuk meminta konfirmasi, namun belum ada jawaban.
Mengutip laporan DealStreetAsia, sejumlah perusahaan disebut sebagai calon pembeli aset bernilai Rp 18 triliun tersebut. Beberapa di antaranya adalah BUMI, Rio Tinto, dan Emirates Global Aluminium. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai perusahaan yang akan mengakuisisi aset tambang tersebut.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan pada Juli 2026 bahwa INDY tengah mempertimbangkan penjualan Kideco dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Untuk menjajaki opsi divestasi tersebut, INDY disebut telah menggandeng penasihat keuangan dan menghubungi sejumlah calon pembeli guna mengukur minat awal mereka terhadap aset tambang batu bara itu.
“Pembahasan sedang berlangsung dan INDY dapat memilih untuk mempertahankan aset tersebut,” ujar seorang narasumber Bloomberg, dikutip pada Kamis (16/7).
Menanggapi kabar tersebut, manajemen INDY enggan berkomentar mengenai spekulasi pasar. Perseroan menyatakan tetap menjunjung prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan mematuhi seluruh ketentuan pasar modal yang berlaku.
“Setiap informasi atau perkembangan yang bersifat material akan disampaikan kepada publik secara transparan melalui saluran resmi perusahaan, sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ujar manajemen kepada Katadata.co.id, Kamis (16/7).
Kideco merupakan salah satu perusahaan tambang batu bara di Indonesia. Saat ini, INDY menggenggam 91% saham Kideco atau sekitar 537 juta saham. Perusahaan tersebut memiliki wilayah konsesi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) seluas 33.887 hektare yang terbagi menjadi dua blok.
Proyeksi Kinerja BUMI jika Jadi Akuisisi Kideco
Seiring dengan menguaknya rumor tersebut, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai kabar akuisisi Kideco berpotensi menjadi langkah strategis bagi BUMI. Jika terealisasi, transaksi tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi BUMI hingga menembus 100 juta ton per tahun.
Nafan memperkirakan, berdasarkan perhitungan annualisasi, penambahan aset tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan tahunan sebesar US$ 1,7 miliar hingga US$ 1,8 miliar atau setara Rp 32,19 triliun dan laba bersih US$ 180 juta hingga US$ 200 juta.
Nafan menuturkan, angka tersebut bukan proyeksi resmi perusahaan. Kontribusi aktual terhadap kinerja BUMI akan bergantung pada pergerakan harga batu bara, biaya operasional, serta struktur pendanaan akuisisi.
“Ke depan, katalis BUMI mencakup keberhasilan akuisisi pada valuasi yang wajar, peningkatan produksi, dan penguatan arus kas, sedangkan risiko utamanya adalah pelemahan harga batu bara dan meningkatnya leverage,” ujar Nafan.
Sementara itu Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai jika akuisisi Kideco benar-benar dilakukan BUMI, itu akan memperkuat pendapatan, EBITDA, dan arus kas emiten patungan Bakrie-Salim itu. Pasalnya, Kideco adalah aset batu bara produktif.
Sebagai gambaran, Kideco membukukan pendapatan US$ 377,4 juta dan laba bersih US$ 42,4 juta pada kuartal pertama 2026. Namun, Elandry mengatakan, angka tersebut belum bisa langsung dianggap sebagai tambahan laba BUMI karena bergantung pada porsi kepemilikan, harga akuisisi, sumber pendanaan serta kondisi harga batu bara.
Dengan akuisisi Kideco, Elandry melihat ada peluang besar bagi BUMI untuk membagikan dividen pascaabsen 14 tahun. Arus kas dan kondisi neraca BUMI diperkirakan akan semakin kuat.
Namun, peluang itu pun belum tentu otomatis terealisasi karena tetap bergantung pada kewajiban utang, belanja modal, dan kebijakan manajemen. “Investor sebaiknya menunggu konfirmasi resmi dan detail transaksi sebelum menilai dampaknya terhadap valuasi BUMI,” kata dia.
