Jungkir Balik IHSG di Era 2 Tahun Pemerintahan Prabowo
"IHSG telah tembus 8.000, tertinggi sepanjang sejarah. Ini juga di luar dugaan, saya kira ini karena kerja keras para Menteri di bidang ekonomi,” ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Senin, 20 Oktober 2025 lalu.
Setahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 8.000 sebagai pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. IHSG kemudian mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) di level 9.134 pada 20 Januari 2026. Saat itu, kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp 16.590 triliun.
Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo, IHSG justru ditutup anjlok 3,64% atau 188,50 poin ke level 4.996,61 pada perdagangan Senin (19/10). Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi hari itu mencapai Rp 25,02 triliun dengan volume 33,84 miliar saham dan frekuensi 1,61 juta kali. Kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp 8.863 triliun.
Dengan posisi tersebut, IHSG telah merosot 4.137,39 poin atau sekitar 45,3% dari rekor tertingginya pada Januari 2026. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI menyusut Rp 7.727 triliun atau sekitar longsor 46,6% dari posisi saat mencetak rekor.
Anjloknya IHSG kali ini bahkan lebih dalam dibandingkan saat krisis finansial global 2008. Berdasarkan catatan Katadata, IHSG sempat merosot ke level 5.342,14 pada 8 Juni 2026, setara dengan posisi indeks pada 2016.
Di sisi lain, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia mulai terlihat sekitar sepekan setelah Pemilu Presiden 2024. Sejak saat itu, tekanan jual investor asing terus membayangi pasar modal domestik dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Senin (19/10), investor asing membukukan net sell sebesar Rp 1,72 triliun atau sekitar US$ 95,24 juta.
Berdasarkan data BEI, secara akumulatif sejak awal tahun atau year to date (ytd), tekanan jual asing sudah mencapai Rp 89,91 triliun atau setara US$ 4,98 miliar. Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian sepanjang tahun berjalan tercatat 39,66 miliar saham, turun dibandingkan periode sebelumnya.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga melemah menjadi 2,38 juta kali. Dari sisi valuasi, pasar saham domestik diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 10,97 kali dan price to book value (PBV) 1,33 kali.
Menyoroti hal itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, melihat tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia saat ini secara nominal telah melampaui net sell pada 2008. Ia menyebut kondisi tersebut tidak bisa diklaim menunjukkan pasar modal maupun perekonomian Indonesia saat ini lebih buruk dibandingkan saat krisis keuangan global 2008.
Menurutnya, ukuran pasar saham Indonesia saat ini jauh lebih besar dibandingkan 18 tahun lalu. Ia mengatakan perbandingan yang lebih relevan tidak hanya melihat nilai nominal arus dana keluar, tetapi juga proporsinya terhadap kapitalisasi pasar, likuiditas perdagangan, hingga dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan.
Meskipun begitu, Rully menilai krisis 2008 merupakan guncangan besar terhadap sistem keuangan global yang ditandai tekanan likuiditas dan meningkatnya risiko sistemik. Sementara itu, tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan kombinasi perubahan alokasi portofolio global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
“Jadi, besarnya outflow tetap perlu menjadi perhatian serius, tetapi kami tidak melihat angka net sell saja sebagai dasar yang cukup untuk menyimpulkan Indonesia sedang menghadapi krisis yang lebih buruk dibandingkan 2008,” kata Rully kepada Katadata.co.id, Kamis (15/10).
Dari sisi global, kata Rully, kenaikan suku bunga The Fed, tingginya yield US Treasury, dan penguatan dolar AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan mengurangi minat investor terhadap emerging markets. Melemahnya nilai tukar Rupiah juga menambah risiko investor asing karena return investasinya harus diperhitungkan dalam mata uang asal.
Rully mengatakan, alokasi investasi global semakin terkonsentrasi di pasar yang memiliki eksposur besar terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Tren ini relatif kurang menguntungkan Indonesia dibandingkan sejumlah bursa Asia lainnya.
Dari dalam negeri, investor juga mencermati prospek pertumbuhan laba emiten, arah kebijakan ekonomi, dan kualitas dan transparansi pasar modal. Selain itu, isu free float, konsentrasi kepemilikan saham, dan evaluasi MSCI juga memengaruhi kepercayaan investor institusional.
“Kami melihat foreign selling saat ini bukan semata-mata akibat satu kebijakan atau satu peristiwa, melainkan akumulasi berbagai faktor yang membuat investor global lebih selektif dalam mengalokasikan dananya,” ucap Rully.
Tak hanya itu, Rully mengatakan investor perlu lebih selektif dalam mengambil keputusan di tengah kondisi pasar saat ini. Ia tidak menyarankan investor melakukan panic selling, tetapi juga belum melihat alasan untuk membeli saham secara agresif.
Menurutnya, koreksi IHSG yang cukup dalam telah membuat valuasi sejumlah saham lebih menarik. Investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang dapat mulai mengakumulasi saham secara bertahap. Terutama emiten dengan fundamental kuat, prospek laba terjaga, dan valuasi yang telah turun signifikan.
Meski begitu, ia menyarankan investor tetap menjaga sebagian likuiditas dan menghindari konsentrasi portofolio yang berlebihan. “Volatilitas masih berpotensi tinggi, sehingga disiplin dalam menentukan valuasi dan ukuran posisi investasi menjadi penting,” kata Rully.
Mirae Asset Sekuritas masih mempertahankan target IHSG di level 6.800 pada akhir tahun, meski mengakui pencapaian target tersebut semakin menantang di tengah kondisi pasar saat ini. Rully pun belum melihat alasan fundamental yang cukup untuk merevisi target tersebut.
Menurutnya, tekanan pasar belakangan ini lebih banyak dipicu memburuknya sentimen dan meningkatnya persepsi risiko. Sementara itu, prospek fundamental sejumlah emiten belum berubah sebanding dengan koreksi harga sahamnya.
Mirae Asset Sekuritas tetap mewaspadai pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Rully mengatakan, pemulihan pasar yang berkelanjutan membutuhkan stabilisasi rupiah, meredanya tekanan imbal hasil US Treasury, dan membaiknya kepercayaan investor.
“Jadi, kami masih konstruktif terhadap peluang pemulihan pasar, tetapi lebih optimistis terhadap saham-saham pilihan dibandingkan IHSG secara keseluruhan,” ujar Rully.
Tak Ada Ruang Investasi Aman
Di tengah tekanan pasar dan ketidakpastian arah IHSG, investor juga menghadapi tantangan dalam menentukan instrumen investasi. Namun sayangnya menurut Komika sekaligus Financial Content Creator, Yudha Ramadhan Keling, di situasi sekarang tak ada ruang investasi yang aman.
“Situasi sekarang untuk berinvestasi yang aman? Tidak ada,” kata Yudha ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (14/10).
Namun, Yudha menyebut apabila investor belum memiliki saham dan belum berkecimpung di dunia investasi, ia menyarankan untuk bisa melirik saham-saham perbankan.
“Mungkin beli saham-saham perbankan bisa jadi pilihan karena di harga sekarang kan dividend yield-nya juga mungkin di 10-11% itu udah bagus banget,” ucap Yudha.
Namun apabila menilik salah satu cengkraman portofolionya di saham, Komika yang akrab disapa Yudha Keling itu pun sedih dari pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang hingga kini babak belur.
Bahkan ia menyebut GOTO sebelumnya pernah menjadi salah satu saham andalannya. Menurut Yudha, saat ini ia masih mengalami floating loss atau nyangkut di saham GOTO.
“Ya gimana? Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi “Boy” Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” pasrah Yudha kepada Katadata.
Namun Yudha enggan menjawab berapa lembar saham yang dimilikinya. Meski begitu sebelumnya Yudha Keling memberikan 1.412.025 lembar saham GOTO sebagai mahar pernikahannya dengan Fadhilah Eryanda di Hotel Grand Savero, Bogor, Minggu (14/12/2025).
Lebih jauh, ia menilai strategi yang paling tepat di tengah kondisi pasar saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai atau stay cash di rekening dana nasabah (RDN). Menurutnya, investor tidak harus selalu membeli saham, sebab tidak melakukan apa-apa juga termasuk dari strategi investasi.
Adapun bagi investor yang sudah nyangkut, ia menyarankan untuk mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham. Menurutnya, apabila penurunan harga hanya dipicu sentimen pasar, sementara fundamental perusahaan tidak berubah, investor disarankan untuk wait and see.
Sebaliknya, jika harga anjlok dan mengubah tesis dari awal untuk trading, investor dapat mempertimbangkan untuk cut loss. Ia menyebut keputusan membeli saham perlu disesuaikan dengan tujuan awal, baik untuk trading maupun investasi berdasarkan fundamental perusahaan.
“Kalau tesisnya untuk trading, ya berarti penurunannya memang harus di cut loss gitu. Tapi kalau benarnya karena fundamentalnya dan sejauh ini fundamentalnya gak berubah, ya mungkin bisa jadi pilihan untuk wait and see atau mungkin tambah,” ucap Yudha.
Cerita Investor Retail: Frustasi Investasi di Saham
Investor ritel, Wahyu (29), mengaku frustasi dan cemas melihat portofolio sahamnya terus merosot dalam beberapa waktu terakhir. Setelah berinvestasi selama sekitar satu setengah tahun, penurunan nilai portofolionya babak belur hingga minus 60–70% usai gejolak koreksi pasar.
“Awalnya Februari sedikit anjlok saya pikir ini koreksi sehat seperti kata orang orang, tau-taunya ini koreksinya toxic karena saya lihat ini opportunity jadi saya tambah lagi,” ucap Wahyu kepada Katadata.co.id, Minggu (18/10).
Kondisi itu membuat Wahyu mulai meragukan tesis investasinya. Ia sebelumnya menaruh harapan besar pada saham sektor mineral dan batu bara. Ia menilai krisis energi akan mendorong harga batu bara, ketidakstabilan ekonomi global meningkatkan kebutuhan emas, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) memicu permintaan tembaga untuk kebutuhan cip.
Namun, ia mengaku tidak memperhitungkan dampak persoalan MSCI, FTSE, dan penyedia indeks global lainnya terhadap pergerakan saham. Akibatnya, tesis investasi yang semula ia yakini kuat tidak berjalan sesuai harapan.
“Dan saya pikir saya perlu lebih berhati-hati lagi, apakah ini jadi peluang baru untuk kembali serok bawah atau average down, saya masih mikir-mikir, mungkin akan lebih berhati-hati dan disiplin,” ucap Wahyu.
Ia berharap pasar saham Indonesia kembali berjalan secara sehat, transparan, adil, dan didorong oleh fundamental perusahaan di era pemerintahan Prabowo Subianto. Ia juga berharap investor domestik, baik institusi maupun ritel, dan investor global dapat menilai pasar saham Indonesia secara lebih adil dan rasional.
Menurutnya, valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada di level enam hingga tujuh kali, lebih murah dibandingkan bursa lain di Asia. Padahal, sejumlah emiten besar mencatatkan pertumbuhan kinerja hingga satu, dua, bahkan tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia menilai kondisi tersebut menarik untuk dicermati, terutama dengan potensi imbal hasil dividen saham perbankan yang mencapai 13–15%.
“Semoga investor bisa melihat ini sebagai peluang baru sehingga akan ada rebound di dalam jangka menengah maupun jangka panjang, harapannya semuanya akan baik pada waktunya,” ucap Wahyu.


