Membaca Arah IHSG usai Saham HSC BREN, DCII hingga BYAN Keluar dari Perhitungan

Karunia Putri
20 Oktober 2026, 12:54
Investasi Saham adalah
Pexels
Investasi Saham adalah
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ada tiga saham penyumbang bobot terbesar dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akan dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam perhitungan indeks. Sebab ketiga saham tersebut masuk dalam daftar saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Berdasarkan data IDX Index Fact Sheet Composite per September 2026, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menyumbang 3.31% terhadap indeks dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 87,55 triliun per September 2026, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 1,85% dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 48,81 triliun dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbang bobot 3,16% dengan kapitalisasi pasar Rp 83,66 triliun.

Secara akumulatif, ketiga saham tersebut menyumbang 8,32% dari total bobot IHSG. Nilai kapitalisasi pasar yang diperhitungkan dalam indeks dari ketiganya mencapai Rp 220,02 triliun.

Berikut daftar 10 saham dengan bobot terbesar dalam IDX Index Fact Sheet Composite per September 2026.

No.KodeNama PerusahaanMC Index (IDR)Index WeightSektor
1BBCABank Central Asia Tbk.233.23 T8.82%Financials
2BBRIBank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.199.38 T7.54%Financials
3BMRIBank Mandiri (Persero) Tbk.142.43 T5.39%Financials
4TLKMTelkom Indonesia (Persero) Tbk.91.92 T3.48%Infrastructures
5DCIIDCI Indonesia Tbk.87.55 T3.31%Technology
6BYANBayan Resources Tbk.83.66 T3.16%Energy
7AMMNAmman Mineral Internasional Tbk.82.65 T3.13%Basic Materials
8ASIIAstra International Tbk.81.49 T3.08%Industrials
9SMMASinarmas Multiartha Tbk.61.07 T2.31%Financials
10BRENBarito Renewables Energy Tbk.48.81 T1.85%Infrastructures
 Total 10 1,112.19 T42.06% 

Sumber: IDX Index Fact Sheet Composite per September 2026

Saat ini, terdapat 918 saham yang tercatat dalam perhitungan BEI. Jika 80 saham HSC dikeluarkan maka jumlah saham yang diperhitungkan dalam IHSG akan berkurang menjadi 838 saham.

Jika mengacu pada posisi IHSG saat ini secara intraday Selasa (20/10) di mana indeks berada di level 5.173, dampak keluarnya DCII, BYAN dan BREN dapat disimulasikan metode perhitungan dari data tersebut.

Jika bobot ketiga saham tersebut dihilangkan secara langsung tanpa penyesuaian pembagi indeks, IHSG secara matematis berpotensi turun 8,32% atau sekitar 430,39 poin. Dengan asumsi itu IHSG akan turun ke level 4.742,61 usai tiga saham tersebut dikelaurkan.

Namun, simulasi ini bukan proyeksi penurunan IHSG sebenarnya. Dalam praktiknya, pengeluaran saham dari perhitungan indeks tidak serta-merta membuat IHSG turun sebesar bobot saham yang dihapus.

Dalam dokumen tersebut dicatatkan, IHSG dihitung dnegan menjumlahkan total nilai saham beredar atau free float milik seluruh perusahaan tercatat di bursa kemudian dibagi dnegan nilai kapitalisasi pasar patokan saat IHSG pertama kali. 

Hasil bagi tersebut kemudian dikalikan dengan angka 100. Karena menggunakan bobot saham free float, pergerakan saham berkapitalisasi jumbo yang dimiliki publik akan memberikan pengaruh paling dominan terhadap naik turunnya IHSG. 

Dengan begitu, pengeluaran saham HSC juga berpotensi mengubah distribusi bobot saham yang tersisa dalam IHSG. Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, diperkirakan semakin mendominasi komposisi indeks dengan syarat batas maksimum atau capping mentok di 9%.

Hitung-hitungan Analis Pasar Modal

Para analis pasar modal berpandangan, dikeluarkannya saham-saham HSC dari perhitungan IHSG berpotensi memicu volatilitas dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut justru dinilai dapat meningkatkan kualitas dan kredibilitas indeks dalam jangka panjang.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, kebijakan tersebut merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas indeks. Dengan mengecualikan saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada segelintir pihak, IHSG diharapkan lebih mencerminkan pergerakan saham dengan distribusi kepemilikan yang lebih luas dan likuiditas yang lebih sehat.

“Namun, dampaknya terhadap level indeks perlu dicermati secara proporsional,” kata Nafan dikutip Selasa (20/10).

Menurut Nafan, pengeluaran saham HSC dapat mengubah bobot dan karakter pergerakan IHSG secara signifikan. Jika saham-saham tersebut sebelumnya menjadi sumber tekanan jual dalam beberapa waktu terakhir, pengeluarannya berpotensi mengurangi tekanan aritmetis terhadap indeks. Sebaliknya, jika saham-saham tersebut sedang menguat, kontribusi positifnya juga tidak lagi tercermin dalam IHSG.

Dengan begitu, kebijakan ini tidak otomatis membuat IHSG naik atau turun. Perubahan tersebut lebih berkaitan dengan komposisi indeks agar dinilai lebih mampu menggambarkan kondisi pasar saham.

Nafan menyarankan agar potensi perubahan perhitungan IHSG tidak dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Investor perlu mencermati fundamental emiten, tata kelola, transparansi pemegang saham, likuiditas, serta porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan atau free float.

Pada saham-saham HSC, risiko volatilitas dan ketidakseimbangan antara kapitalisasi pasar dengan likuiditas riil perlu diperhitungkan secara cermat. Sementara itu, koreksi harga saham dengan fundamental kuat dan likuiditas memadai dapat dievaluasi sebagai peluang investasi apabila valuasinya sudah menarik dan prospek bisnisnya tetap terjaga.

Di tengah ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, investor juga perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin, menghindari penggunaan utang berlebihan untuk berinvestasi, dan mempertimbangkan akumulasi saham secara bertahap.

Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su memproyeksikan IHSG berpotensi naik ke level 5.925 dalam jangka panjang. Proyeksi tersebut mengacu pada level IHSG di kisaran 4.997 pada penutupan perdagangan Senin (19/10).

Harry menilai saham-saham HSC selama ini memberikan tekanan terhadap indeks. Karena itu, pengeluaran saham-saham tersebut dari perhitungan IHSG berpotensi membuat pergerakan indeks terlihat lebih baik.

“Kan HSC stocks drop-nya paling banyak, jadi kalau dikeluarkan, indeks kita naik. Saham HSC paling besar menurunkan indeks,” ujar Harry.

Analis pasar modal Hendra Wardana menjelaskan, kebijakan ini dapat membuat IHSG lebih mencerminkan pergerakan saham yang likuid dan memiliki distribusi kepemilikan lebih luas. Sebab, saham yang hanya dimiliki segelintir pihak dan memiliki porsi saham publik terbatas dinilai lebih rentan mengalami pergerakan harga yang tajam.

Jika saham-saham semacam itu memiliki bobot besar dalam indeks, pergerakan IHSG berisiko lebih dipengaruhi oleh perubahan harga pada sejumlah saham, bukan semata-mata kondisi pasar secara keseluruhan.

BEI menyebut bobot saham HSC mencapai sekitar 18% terhadap IHSG. Sebelumnya, bursa juga telah mengeluarkan saham-saham HSC dari sejumlah indeks unggulan, seperti IDX30, LQ45 dan IDX80.

Meski begitu, Hendra mengingatkan bahwa indeks yang lebih representatif tidak serta-merta membuat harga saham menjadi lebih wajar. Saham HSC tetap diperdagangkan sehingga risiko pergerakan harga yang terkoordinasi tidak otomatis hilang. Perubahan ini hanya membatasi dampak pergerakan saham tersebut terhadap IHSG.

Hendra juga menyoroti perbedaan angka dalam informasi mengenai bobot saham HSC. Infografis yang beredar menyebut 80 saham HSC mencakup sekitar 28,78% dari total kapitalisasi pasar per 16 Oktober 2026, sedangkan BEI menyatakan bobot saham HSC terhadap IHSG sekitar 18%.

Ia menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan basis perhitungan yang berbeda, yakni kapitalisasi pasar total dibandingkan bobot dalam indeks setelah penyesuaian saham beredar. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut bukan penjelasan resmi sehingga BEI perlu memerinci metodologi perhitungannya.

Hendra mengidentifikasi sejumlah risiko dari kebijakan tersebut. Dalam jangka pendek, penyesuaian komposisi indeks dapat memicu gejolak teknis, termasuk ketika pengelola dana yang mengikuti indeks perlu menata ulang portofolionya.

Ia juga menilai saham HSC berisiko kurang diminati investor yang lebih memilih saham-saham yang masuk dalam indeks acuan, sehingga likuiditasnya berpotensi menurun dan ruang emiten untuk menghimpun dana dapat terpengaruh.

Selain itu, terdapat risiko bahwa kebijakan tersebut menimbulkan kesan perbaikan tanpa menyelesaikan persoalan mendasar di pasar modal. Menurut Hendra, jika transparansi kepemilikan dan praktik perdagangan tidak ikut dibenahi, perubahan komposisi IHSG belum tentu menjawab kekhawatiran investor global.

“Kebijakan HSC adalah sinyal itikad baik, bukan tiket aman. Tidak ada jaminan MSCI mengubah sikapnya, dan keputusan akhir belum ditetapkan,” kata Hendra.

BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengumumkan dua inisiatif baru untuk melanjutkan reformasi integritas pasar modal Indonesia. Salah satunya adalah mengeluarkan seluruh saham HSC dari perhitungan IHSG.

Inisiatif lainnya adalah menambahkan keterangan mengenai status afiliasi atau nonafiliasi pada publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan 1%.

“Inisiatif pertama, dalam publikasi nama pemegang saham 1%, akan kami tambahkan keterangan apakah nama tersebut terafiliasi atau tidak terafiliasi. Yang kedua, untuk memberikan indeks harga yang lebih kredibel dan berintegritas, kami akan mengeluarkan seluruh saham high shareholding concentration dari Indeks Harga Saham Gabungan,” kata Jeffrey kepada awak media di Gedung BEI, Senin (19/10).

Menurut Jeffrey, kedua inisiatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan integritas data pasar modal. BEI akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai waktu efektif penerapan kebijakan tersebut.

Jeffrey menegaskan, pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti delisting. Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan di bursa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi pergerakan IHSG selama masih masuk dalam kategori HSC.

Ia menjelaskan, sebelumnya saham-saham HSC telah dikeluarkan atau tidak dapat masuk ke sejumlah indeks unggulan BEI, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Kebijakan terbaru ini memperluas cakupan pengeluaran tersebut hingga ke IHSG.

Menurut Jeffrey, langkah ini diambil untuk memberikan gambaran pergerakan pasar saham yang lebih wajar. Sebab, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dinilai memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan indeks.

Jeffrey menyebutkan, saham-saham HSC saat ini menyumbang sekitar 18% terhadap IHSG.

BEI juga membuka kemungkinan untuk memasukkan kembali saham yang sebelumnya masuk kategori HSC ke dalam perhitungan IHSG. Hal itu dapat dilakukan apabila saham tersebut tidak lagi memenuhi kriteria konsentrasi kepemilikan tinggi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...