Daftar Emiten Pembagi Dividen Jumbo dalam 5 Tahun, BMRI, TLKM Mana Menarik?
Di tengah tekanan di pasar saham Indonesia akibat rencana penurunan status oleh MSCI, saham-saham dengan pembagian dividen jumbo menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatian investor. Sejumlah emiten menawarkan dividend yield di atas 10%, mulai dari sektor perbankan, telekomunikasi, hingga pertambangan.
Berdasarkan analisis BRI Danareksa Sekuritas, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memimpin daftar saham dengan dividend yield 12 bulan terakhir atau trailing twelve months (TTM) hingga masing-masing sebesar 14,8%. Namun, besarnya imbal hasil dividen tidak serta-merta menjamin keuntungan investor pada masa mendatang karena juga perlu memperhatikan tekanan jual dan perubahan kemampuan perusahaan.
Lantas, emiten mana saja yang membagikan dividen jumbo dari laba tahun buku 2025, dan saham mana yang menawarkan imbal hasil menarik di tengah gejolak pasar?
Selain BMRI dan UNVR, BRI Danareksa juga menyoroti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan dividend yield 12,6%. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masing-masing mencatatkan imbal hasil dividen sebesar 11,7% dan 11,6%. Adapun PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menawarkan dividend yield sebesar 11,3%.
Berikut daftar emiten pembagi dividen jumbo
| Kode | Bobot | Harga 16 Okt (Rp) | DPS TTM (Rp) | Yield TTM | Komponen DPS |
| BBRI | 15.00% | 2,750 | 346 | 12.6% | Interim 137 + final 209 (FY25) |
| BMRI | 15.00% | 3,660 | 542 | 14.8% | Interim 100 + final 376 (FY25) + interim 66 (FY26) |
| BBCA | 14.85% | 5,175 | 381 | 7.4% | Interim 55 + final 281 (FY25) + interim 20 + 25 (FY26) |
| ASII | 12.44% | 4,100 | 390 | 9.5% | Final 292 (FY25) + interim 98 (FY26) |
| TLKM | 8.96% | 1,900 | 223.17 | 11.7% | Final FY25 |
| UNTR | 7.52% | 21,575 | 1,526 | 7.1% | Final 1.096 (FY25) + interim 430 (FY26) |
| BBNI | 4.79% | 3,000 | 349.41 | 11.6% | Final FY25 |
| ADRO | 4.76% | 2,320 | 263.26 | 11.3% | Interim 145 + final 118,26 (FY25) |
| PTBA | 3.35% | 2,730 | 114.51 | 4.2% | Final FY25 |
| ITMG | 2.72% | 23,025 | 1,730 | 7.5% | Interim 738 + final 992 (FY25) |
| PGAS | 2.56% | 1,300 | 125.61 | 9.7% | Final FY25 |
| ANTM | 2.27% | 2,550 | 209.99 | 8.2% | Final FY25 |
| INDF | 1.72% | 6,550 | 290 | 4.4% | Final FY25 |
| AKRA | 1.23% | 1,250 | 100 | 8.0% | Final 50 (FY25) + interim 50 (FY26) |
| TAPG | 0.80% | 1,765 | 151 | 8.6% | Final 91 (FY25) + interim 60 (FY26) |
| HMSP | 0.79% | 590 | 56.3 | 9.5% | Final FY25 |
| UNVR | 0.70% | 1,355 | 201 | 14.8% | Interim 87 + final 114 (FY25) |
| ACES | 0.20% | 340 | 32.01 | 9.4% | Final FY25 |
| ERAA | 0.18% | 545 | 25 | 4.6% | Final FY25 |
| SCMA | 0.14% | 148 | 12 | 8.1% | Final FY25 |
| Catatan: yield TTM = DPS ex-date 17 Okt 2025-16 Okt 2026 / harga close 16 Okt 2026; makin gelap = yield makin tinggi. Sumber: BEI, keterbukaan informasi emiten;BRI Danareksa Sekuritas | |||||
Tingginya imbal hasil dividen juga terlihat pada sebagian besar saham dalam daftar analisis BRIDS. Sebanyak 14 dari 20 saham mencatatkan dividend yield TTM minimal 8%. Sebaliknya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatatkan imbal hasil dividen terendah, masing-masing sebesar 4,2%, 4,4%, dan 4,6%.
Namun ia menyoroti risiko pada emiten batu bara seperti ADRO, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PTBA. Pergerakan harga komoditas dapat memengaruhi profitabilitas perusahaan dan aksi emiten mempertahankan pembagian dividen dalam jumlah besar.
“Yield TTM mengukur dividen yang sudah dibayar, bukan jaminan dividen ke depan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam analisisnya, dikutip Selasa (27/10).
Di sisi lain, saham-saham berdividen tinggi juga menghadapi risiko arus keluar dana asing apabila rencana penurunan kelas pasar saham Indonesia oleh MSCI terealisasi. Pasalnya BMRI, BBRI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), dan TLKM menguasai sekitar 66% dari total bobot daftar saham tersebut.
BRI Danareksa menyoroti yield tinggi berfungsi menjadi bangan valuasi, meski tak mampu menahan tekanan jual jangka pendek.
“Akumulasi bertahap pada emiten dengan neraca kuat dan payout stabil lebih rasional daripada membeli sekaligus selama ketidakpastian MSCI belum selesai,” tulis BRIDS.
Adapun emiten perbankan, telekomunikasi, pertambangan hingga barang konsumsi tercatat membagikan dividen jumbo dari laba tahun buku 2025 yang dibayarkan sepanjang 2026.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi emiten dengan nilai dividen terbesar. Perseroan membagikan dividen sebesar Rp 44,47 triliun atau Rp 376,96 per saham dengan dividend payout ratio mencapai 79%.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang membagikan dividen Rp 41,3 triliun atau Rp 336 per saham dengan payout ratio sebesar 72%. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengalokasikan dividen Rp 21,99 triliun atau Rp 223,17 per saham.
Menariknya, dividend payout ratio TLKM mencapai 123,5%, lebih tinggi dibanding laba bersih tahun buku 2025 karena perusahaan turut memanfaatkan saldo laba ditahan.
Di sektor sumber daya alam, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membagikan dividen Rp 8,05 triliun atau Rp263,4 per saham dengan payout ratio hampir 100%. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga mengalokasikan dividen Rp 7,9 triliun atau Rp 463,32 per saham.
Adapun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membagikan dividen Rp 5,05 triliun atau Rp 209,99 per saham. Sedangkan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menyalurkan Rp 2,06 triliun atau Rp992 per saham.
Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menetapkan dividen Rp 114,51 per saham dengan total Rp 1,32 triliun. Nilai dividen yang sama juga dibagikan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) sebesar Rp 1,32 triliun atau Rp 60 per saham.
| Emiten | Total Dividen Tahun Buku 2025 | Nilai Dividen per Saham | Payout ratio |
| PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) | Rp 21,99 triliun | Rp 223,17 per saham | 123,5% |
| PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 41,3 triliun | Rp 336 per saham | 72% |
| PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) | Rp 7,9 triliun | Rp 463,32 | 59% |
| PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) | Rp 8,05 triliun | Rp 263,4 per saham | 99,96% |
| PT Mayora Indah Tbk (MYOR) | Rp 1,32 triliun | Rp 60 per saham | 45,42% |
| PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) | Rp 5,05 triliun | Rp 209,99 per saham | 70% |
| PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) | Rp 2,06 triliun | Rp 992 per saham | 60% |
| PT Bukit Asam Tbk (PTBA) | Rp 1,32 triliun | Rp 114,51 per saham | 45% |
| PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) | Rp 44,47 triliun | Rp 376,96 per saham | 79% |
Sumber: Diolah penulis/Katadata
