MSIG Life Kurangi Porsi Investasi Saham Jadi Rp 1,3 Triliun saat IHSG Bergejolak
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) atau MSGI Life mencatatkan penurunan nilai investasi saham menjadi Rp 1,26 triliun per Juni 2026, di tengah gejolak pasar saham domestik akibat ketidakpastian status pasar modal Indonesia menyusul usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan laporan posisi keuangan perusahaan per 30 Juni 2026, investasi saham MSGI Life tercatat sebesar Rp 1,26 triliun, turun 31,8% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang mencapai Rp 1,84 triliun.
Sejalan dengan itu, porsi investasi saham terhadap total investasi perusahaan menyusut dari sekitar 13,1% pada akhir 2025 menjadi 9,3% per Juni 2026. Sementara itu, total investasi perusahaan turun dari Rp 14,08 triliun menjadi Rp 13,51 triliun pada periode yang sama.
Direktur MSGI Life, Eiji Takahashi mengatakan ketidakpastian di pasar saham domestik turut memengaruhi kinerja perusahaan pada semester I 2026. Namun, perusahaan juga memiliki investasi di pasar global yang membantu mengimbangi kerugian dari pasar domestik.
“Alokasi untuk saham di Indonesia terhitung kecil dan di tengah ketidakpastian yang terjadi saat ini, terutama dari MSCI, memang ada impact-nya atau terdampak ke dalam laba semester I 2026 dan ini sedang dalam pengawasan yang ketat oleh kami,” kata Takahashi dalam public expose, Selasa (27/10).
Di sisi lain, dia mengatakan investasi di pasar global memberikan kontribusi positif sehingga dapat menyeimbangkan kerugian dari pasar domestik.
“Pasar global cenderung lebih stabil daripada kondisi di domestik. Dan memang meskipun ada kerugian dari sisi domestik, tetap ada sisi profit dari global. Sehingga dapat menyeimbangkan loss maupun profit perusahaan,” ujarnya.
Utamakan Obligasi Pemerintah dan Diversifikasi
Di tengah ketidakpastian pasar, MSGI Life akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola investasi, baik yang berasal dari dana nasabah maupun dana perusahaan.
Presiden Direktur MSGI Life, Wianto mengatakan dana nasabah yang menjadi kewajiban perusahaan akan dialokasikan secara prudent dengan mempertimbangkan stabilitas aset dan kesesuaian antara aset dan kewajiban atau asset-liability matching.
“Kalau terkait dengan dana nasabah yang merupakan kewajiban perusahaan, tentunya perusahaan akan sangat berhati-hati mengalokasikannya dengan kebijakan yang prudent, diterapkan ke aset-aset yang sangat stabil, terutama surat utang pemerintah atau government bonds, sesuai dengan durasi yang kita jaga, aset-aset matching,” kata Wianto.
Laporan posisi keuangan menunjukkan investasi pada surat berharga yang diterbitkan pemerintah Indonesia mencapai Rp 8,18 triliun per Juni 2026, naik dari Rp 8,06 triliun pada akhir 2025. Nilai tersebut menjadi komponen terbesar dalam portofolio investasi yang tercatat di neraca perusahaan.
Sementara itu, untuk dana perusahaan, MSGI Life mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan kondisi pasar dalam menentukan alokasi investasi. Perseroan juga meningkatkan posisi kesehatan keuangan dan melakukan diversifikasi, termasuk mempertimbangkan investasi di luar negeri.
“Untuk dana perusahaan, tentunya kita juga akan mengalokasikan dengan hati-hati mempertimbangkan kebutuhan likuiditas. Juga situasi sekarang ini kita juga sudah meningkatkan health position kita dan juga mendiversifikasi termasuk pertimbangan untuk offshore,” ujarnya.
Dampak ke Unit Link
Gejolak IHSG juga memengaruhi produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau unit link. Wianto mengatakan, meskipun premi perusahaan secara keseluruhan masih mencatatkan pertumbuhan positif pada 2026, produk unit link menghadapi tekanan. Sebaliknya, produk asuransi tradisional masih tumbuh positif.
“Secara umum, premi di tahun 2026 ini masih tercatat positif, namun tentunya ada dampak dari sisi produk unit link, sementara produk tradisional kita bertumbuh positif. Ini menunjukkan shifting di market, dan juga antisipasi kita terhadap situasi yang mungkin terjadi untuk produk-produk seperti unit link,” kata Wianto.
Dia menambahkan, kinerja sebagian saham dalam portofolio perusahaan masih lebih baik dibandingkan pasar. Selain itu, dana pendapatan tetap dan pasar uang masih memberikan hasil positif.
Wianto menilai pemulihan unit link perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang karena produk tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan investasi nasabah dalam periode yang panjang.
“Unit link ini kan produk jangka panjang, jadi secara historis kita berharap unit link akan pulih secara jangka menengah dan panjang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi perubahan kondisi pasar, MSGI Life juga terus mendampingi nasabah melalui komunikasi, tindak lanjut tenaga pemasaran, serta edukasi mengenai pilihan investasi sesuai profil risiko.
Wianto mengatakan perubahan alokasi dana nasabah mulai terlihat. Jika sebelumnya dana ekuitas cenderung mendominasi, kini nasabah mulai mengalihkan sebagian investasinya ke dana kas dan pendapatan tetap sehingga alokasi ketiga jenis dana tersebut menjadi lebih seimbang.
“Ini memperlihatkan juga kematangan konsumen, nasabah-nasabah yang kita miliki terhadap literasi keuangan ini, sehingga bisa mendiversifikasi, mengalokasi lebih baik lagi,” kata Wianto.
