IHSG Diproyeksi Melemah Jelang RUPSLB BEI, Analis Jagokan Saham CPIN dan AADI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih tertekan pada perdagangan Rabu (28/10). Tekanan berasal dari pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, serta meningkatnya risiko di pasar surat utang domestik.
Investor juga mencermati keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Pada perdagangan Selasa (27/10), IHSG melemah 1,99% ke level 5.266,13 seiring berlanjutnya aksi ambil untung atau profit taking dan tekanan jual di pasar domestik.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG berpotensi menguji level support di rentang 5.182–5.118 setelah gagal bertahan di atas level 5.400. Secara teknikal, tren indeks masih bearish karena berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20 di level 5.731 dan MA200 di level 6.916.
“Sementara MACD masih negatif meski histogram mulai menyusut. Jika support bertahan, peluang konsolidasi atau technical rebound tetap terbuka menuju 5.400–5.455,” tulisnya, dikutip, Rabu (28/10).
Untuk rekomendasi saham, BRI Danareksa Sekuritas memilih PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) untuk dicermati pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji Gusta, memperkirakan penurunan IHSG berpotensi terbatas. Ia menetapkan level support indeks pada 5.192 dan 5.065, sedangkan resistance berada di 5.398 dan 5.524.
“Secara teknikal, adapun pergerakan IHSG berpotensi mengalami penurunan yang terbatas seiring terdeteksinya wave (b) setelah terjadinya koreksi yang signifikan,” kata Nafan.
Menurut dia, indikator Stochastics K_D menunjukkan arah positif. Namun, indikator RSI masih memberikan sinyal negatif dan volume transaksi mengalami penurunan.
Investor Menanti Keputusan The Fed
Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%, setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Sejumlah ekonom memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember meningkat akibat tekanan inflasi yang masih tinggi. Apabila The Fed memberikan sinyal lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah serta pasar saham negara berkembang.
Selain keputusan The Fed, investor global menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft dan Alphabet pada Rabu (28/10), serta Amazon pada Kamis (29/10).
Kinerja ketiga perusahaan tersebut akan menjadi perhatian untuk melihat pertumbuhan pendapatan dari bisnis kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan atau cloud computing, sekaligus mengukur kemampuan investasi infrastruktur AI menghasilkan imbal hasil.
Di pasar domestik, investor juga menantikan laporan keuangan emiten, terutama sektor perbankan. Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan merilis kinerja pada Kamis (29/10), sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Tabungan Negara (BBTN), dan Bank Danamon Indonesia (BDMN) diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10).
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Nafan menyebut meredanya harga minyak mentah seiring upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik berpotensi memberikan dukungan bagi pasar.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,83% ke US$99,90 per barel, sedangkan minyak Brent melemah 1,67% ke US$113,88 per barel.
Dari dalam negeri, investor mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI pada Rabu (28/10) juga menjadi perhatian karena mencakup agenda persetujuan perubahan anggaran dasar dalam rangka demutualisasi, penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan per 30 Juni 2026, serta rencana kerja dan anggaran tahunan 2027.
Menurut Nafan, agenda demutualisasi berpotensi menjadi katalis positif dalam jangka panjang apabila mampu memperkuat independensi bursa, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas tata kelola, serta memisahkan kepentingan bisnis dari fungsi pengaturan dan pengawasan.
Demutualisasi juga berpotensi membuka peluang bagi investor strategis, termasuk Danantara, untuk menjadi pemegang saham BEI. Namun, pelaksanaan proses tersebut masih memerlukan tahapan lanjutan dan pemenuhan ketentuan regulator.
