Laba Astra International (ASII) Susut Jadi Rp 21,6 Triliun, Pendapatan Stagnan
PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 21,60 triliun hingga kuartal III 2026. Perolehan tersebut turun secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 24,47 triliun.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan laba terjadi di tengah pendapatan bersih perseroan yang relatif stagnan.
Astra mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 243,9 triliun, naik tipis 0,10% YoY dibandingkan Rp 243,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi biaya, beban pokok pendapatan meningkat tipis secara tahunan menjadi Rp 191,86 triliun dari Rp 191,36 triliun. Kondisi tersebut membuat laba bruto Astra menyusut menjadi Rp 52 triliun dari sebelumnya Rp 52,28 triliun.
Tekanan terhadap laba juga datang dari kenaikan beban operasional. Beban penjualan meningkat menjadi Rp 10,41 triliun dari Rp 8,50 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 16,94 triliun dari Rp 15,36 triliun.
Di sisi lain, penghasilan bunga Astra turun menjadi Rp 2,55 triliun dari Rp 2,77 triliun. Perseroan juga mencatatkan kerugian selisih kurs bersih sebesar Rp 50 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp 130 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset Astra mencapai Rp 525,72 triliun per akhir September 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang sebesar Rp 507,36 triliun.
Astra Fokus Pada Tiga Bisnis Utama
Di tengah perkembangan kinerja keuangan tersebut, Astra juga mengarahkan kembali fokus bisnisnya. Menjelang usia ke-70 tahun, perusahaan mengerucutkan bisnis inti (core businesses) menjadi tiga segmen, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Ketiga segmen tersebut dinilai memberikan kontribusi besar terhadap bisnis grup. Sementara itu, lini usaha lainnya ditempatkan dalam kelompok wider businesses, yang mencakup agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, properti, Astra Digital, hingga layanan kesehatan.
Selain otomotif yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang utama, grup juga memiliki bisnis di sektor jasa keuangan, pertambangan, konstruksi, energi, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti.
