Prospek 4 Saham Emas: Adu Ekspansi MDKA, AMMN, EMAS dan BRMS, Mana yang Menarik?

Image title
2 November 2026, 15:14
Tambang Emas di Indonesia
PT Freeport Indonesia
Tambang Emas di Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham emiten yang memiliki eksposur bisnis emas bergerak menguat pada perdagangan Senin (2/11). PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sama-sama mencatatkan kenaikan harga saham, meski kinerja sepanjang tahun berjalan masih menunjukkan perbedaan.

Berdasarkan data perdagangan pukul 14.00 WIB, saham EMAS naik 2,75% atau 150 poin ke level Rp 5.600. Secara tahunan, saham perusahaan tersebut masih menguat 0,90% atau 50 poin. Saham MDKA menguat lebih tinggi, yakni 4,31% atau 80 poin ke level Rp 1.935. Namun, secara tahunan saham MDKA masih terkoreksi 15,13% atau 345 poin.

Sementara itu, saham AMMN naik 0,82% atau 30 poin ke level Rp 3.690. Meski menghijau pada perdagangan hari ini, saham AMMN masih melemah 42,72% atau 2.745 poin sepanjang tahun berjalan.

Sementara itu saham emiten emas lainnya PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) mengalami kenaikan pada perdagangan hari ini 7,23% ke Rp 356. Meski begitu saham BRMS sudah turun 67,64% sejak awal tahun dari Rp1.285 pada 5 Januari 2026. 

Dari sisi fundamental, keempat emiten memiliki katalis pertumbuhan yang berbeda. EMAS tengah meningkatkan kapasitas produksi tambang emas Pani di Gorontalo. MDKA mengandalkan portofolio terdiversifikasi, terutama bisnis nikel dan emas. Adapun AMMN mencatatkan peningkatan produksi tembaga dan emas sekaligus perbaikan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Bagaimana kinerja dan prospek produksi emiten emas?

EMAS Genjot Produksi Tambang Emas Pani

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan peningkatan produksi emas sebesar 69% secara kuartalan menjadi 26.331 ons pada kuartal III 2026. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan kapasitas operasi heap leach di Tambang Emas Pani, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Momentum peningkatan produksi juga terlihat pada September 2026. Perseroan menghasilkan 10.952 ons emas pada bulan tersebut, naik 12% dibandingkan Agustus. Produksi berlanjut pada Oktober dengan capaian 6.190 ons dalam dua pekan pertama. Capaian tersebut mengindikasikan tingkat produksi tahunan atau annualised sekitar 149.000 ons.

Di tengah peningkatan volume produksi, EMAS juga berhasil menekan biaya produksi. Biaya tunai atau cash cost, di luar royalti dan kredit perak, turun 13% secara kuartalan menjadi US$778 per ons. Sementara itu, biaya pemeliharaan menyeluruh atau all-in sustaining cost (AISC) turun 12% menjadi US$1.281 per ons.

Perseroan memperkirakan biaya produksi masih berfluktuasi selama periode peningkatan kapasitas atau ramp-up. Namun, biaya setahun penuh diproyeksikan tetap berada dalam rentang target yang telah ditetapkan untuk 2026.

Katalis pertumbuhan berikutnya berasal dari pengembangan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) di Tambang Emas Pani. Fasilitas CIL tahap pertama dirancang memiliki kapasitas pemrosesan hingga 14,4 juta ton per tahun dengan kapasitas cadangan sekitar 20%. Fasilitas tersebut ditargetkan menjalani uji coba operasi atau commissioning pada 2028.

EMAS juga tengah mematangkan rencana pembangunan CIL tahap kedua dengan kapasitas serupa. Jika kedua fasilitas beroperasi sesuai rencana, kapasitas produksi emas tahunan gabungan dari operasi CIL ditargetkan mencapai sekitar 500.000–700.000 ons, belum termasuk produksi dari fasilitas heap leach yang telah berjalan.

Perseroan juga menyiapkan anggaran eksplorasi US$11,4 juta untuk 2027. Dana tersebut akan digunakan untuk program pengeboran sepanjang 50.000 meter guna memperluas sumber daya emas Pani dan mengembangkan target eksplorasi tambahan.

Dengan perkembangan tersebut, EMAS memproyeksikan produksi gabungan emas dari operasi heap leach pada 2026 dan 2027 akan melampaui 250.000 ons. Produksi emas pada 2027 juga diperkirakan jauh di atas estimasi sebelumnya sebesar 150.000 ons, bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

MDKA Andalkan Diversifikasi Emas dan Nikel

Berbeda dengan EMAS yang berfokus pada pengembangan tambang emas Pani, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memiliki portofolio bisnis yang lebih beragam. Selain emas, perusahaan juga mengandalkan produksi nikel, tembaga, dan produk hilirisasi.

Sepanjang kuartal III 2026, MDKA mencatatkan penjualan produk sebesar US$817,3 juta dari seluruh portofolio komoditasnya. Penjualan tersebut terutama ditopang oleh nickel pig iron (NPI), bijih limonit, dan high grade nickel matte (HGNM).

Sektor emas menyumbang pendapatan US$72,9 juta. Total produksi gabungan dari Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons pada kuartal tersebut.

Produksi dari Tambang Emas Pani mencapai 26.331 ons, naik 69% dibandingkan kuartal sebelumnya seiring peningkatan kapasitas operasi heap leach. Sementara itu, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 23.811 ons emas.

Selain emas, bisnis nikel masih menjadi penopang utama kinerja MDKA. Portofolio perusahaan di Sulawesi mencatatkan rekor produksi bijih nikel kuartalan tertinggi. Produksi saprolit meningkat 68% secara tahunan menjadi 3,3 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan produksi limonit naik 62% menjadi 9 juta wmt.

Produksi NPI juga meningkat menjadi 20.553 ton kandungan nikel. Adapun produksi HGNM mencapai 9.436 ton selama kuartal III 2026.

Kontribusi bisnis hilirisasi lainnya berasal dari operasi Acid Iron Metal (AIM). Fasilitas tersebut menjual sekitar 290.000 ton asam sulfat dengan nilai penjualan US$98,4 juta pada kuartal III 2026.

Sementara itu, operasi tembaga MDKA di Wetar menghasilkan 1.265 ton tembaga. Perseroan masih berfokus pada upaya meningkatkan nilai dari material heap leach yang tersedia melalui inisiatif penggemburan ulang atau re-fluffing dan bioleaching.

AMMN Catat Lonjakan Laba dan Produksi Emas

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan peningkatan produksi dan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Pada periode tersebut, produksi konsentrat meningkat 87% secara tahunan menjadi 580.713 metrik ton kering. Produksi tembaga dan emas masing-masing naik 129% menjadi 332 juta pon dan 616% menjadi 541.337 ons.

Peningkatan produksi tersebut didukung oleh kadar bijih yang lebih tinggi serta pelaksanaan kegiatan operasional yang efektif.

Di sisi hilir, fasilitas smelter dan precious metals refinery (PMR) AMMN juga mampu menjaga stabilitas dan keandalan operasi sesuai kapasitas desain sepanjang kuartal III 2026. Selama sembilan bulan pertama 2026, kedua fasilitas tersebut menghasilkan 102.783 ton atau 227 juta pon katoda tembaga dan 296.897 ons emas murni.

Peningkatan produksi dan volume penjualan turut mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan. Penjualan bersih AMMN mencapai US$3,238 miliar, melonjak 494% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut menghasilkan EBITDA sebesar US$1,833 miliar dengan margin 57%. Laba bersih perusahaan mencapai US$880 juta atau setara margin 27%.

Sebagai perbandingan, pada sembilan bulan pertama 2025, AMMN mencatatkan EBITDA sebesar US$279 juta dan masih membukukan rugi bersih US$175 juta.

BRMS Balik Untung, Produksi Emas Poboya Meningkat

Adapun BRMS mencatatkan pemulihan kinerja operasional dan keuangan pada kuartal III 2026. Perusahaan membukukan pendapatan US$71,79 juta, meningkat dibandingkan pendapatan kuartal II 2026 sebesar US$26,32 juta.

Laba operasional BRMS mencapai US$20,06 juta, naik dari US$3,36 juta pada kuartal sebelumnya. Perusahaan juga membukukan laba bersih US$11,01 juta pada kuartal III 2026, berbalik dari rugi bersih US$4,78 juta pada kuartal II 2026.

Peningkatan kinerja tersebut didukung oleh selesainya kegiatan pushback di tambang terbuka River Reef, Poboya, pada Juli 2026. Setelah kegiatan tersebut rampung, BRMS kembali melakukan penambangan terbuka dengan bijih berkadar emas lebih tinggi sejak akhir Juli.

Rata-rata kadar bijih emas yang diolah pada kuartal III 2026 mencapai 1,94 gram per ton, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 0,90 gram per ton. Volume emas yang terjual juga meningkat menjadi 16.748 ons, dari 6.301 ons pada kuartal II 2026.

BRMS menyatakan anak usahanya, PT Citra Palu Minerals, telah mengamankan kontrak penjualan sebagian besar produksi emas kepada pembeli institusi dengan harga kompetitif. Perusahaan memperkirakan hampir seluruh produksi emasnya pada semester II 2026 dapat terserap pasar.

Terowongan tambang bawah tanah River Reef telah mencapai panjang lebih dari 975 meter dari portal. Perusahaan menargetkan penambangan bijih berkadar emas tinggi, yakni di atas 3,2 gram per ton, dapat dimulai pada pertengahan 2027.

Selain itu, peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari ditargetkan selesai pada awal 2027. Pengembangan tambang bawah tanah dan peningkatan kapasitas pengolahan tersebut diharapkan menjadi penopang pertumbuhan produksi BRMS pada tahun-tahun berikutnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...