Analis: Pasar Saham RI Dibayangi Arus Keluar Dana Asing Hampir Rp 200 Triliun

Karunia Putri
4 November 2026, 14:40
Pasar Saham
Katadata/ChatGPT
Ilustrasi tekanan arus keluar (outflow) dari pasar modal Indonesia di tengah pembekuan indeks saham RI oleh MSCI.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investor asing berpotensi menarik dana hingga US$ 11 miliar atau setara Rp 199,62 triliun dari pasar saham Indonesia. Ancaman arus keluar ini membayangi di tengah upaya regulator dan Bursa Efek Indonesia (BEI) membenahi pasar modal.

Saat ini, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih terus memperkuat reformasi pasar modal Indonesia. Namun, bayang-bayang risiko kian melebar imbas lembaga pengelola indeks global MSCI mmebuka konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang atau emerging market ke pasar mandiri atau standalone market.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin mengatakan, skenario Indonesia turun menjadi standalone market adalah proyeksi dasar (base case). Penilaian itu mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari posisi awal MSCI yang secara eksplisit membuka opsi penurunan klasifikasi, hingga penegakan hukum terhadap praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) yang dinilai masih tertinggal dibandingkan Turki.

Selain itu, terdapat preseden historis yang memperkuat risiko. Dari 12 konsultasi terkait penurunan klasifikasi pasar yang dilakukan MSCI dalam sekitar 20 tahun terakhir, sebanyak 10 di antaranya berakhir dengan reklasifikasi.

Menurut Wilbert, penegakan hukum terhadap praktik coordinated trading menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam perkembangan status Indonesia di MSCI.

"Penegakan hukum perlu dilakukan secara masif dan menyeluruh. Perkembangan penanganan praktik tersebut serta dampaknya terhadap kondisi pasar akan menjadi hal penting yang perlu dicermati dalam melihat kemungkinan perubahan keputusan MSCI," ungkap Wilbert dalam keterangan resmi, Rabu (4/11).

Mirae Asset memperkirakan potensi reklasifikasi itu dapat menempatkan dana asing senilai US$ 8 miliar hingga US$ 11 miliar dalam risiko. Nilai tersebut termasuk potensi arus keluar dana pasif (forced passive outflow) sekitar US$ 3 miliar.

Wilbert mencermati risiko tekanan terutama terkonsentrasi pada sembilan saham Indonesia yang masuk dalam kategori MSCI Standard. Saham-saham tersebut meliputi:

  1. PT Astra International Tbk (ASII),
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA),
  3. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI),
  4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),
  5. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI),
  6. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS),
  7. PT Barito Pacific Tbk (BRPT),
  8. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan
  9. PT United Tractors Tbk (UNTR).

Berdasarkan pengalaman historis negara-negara yang mengalami penurunan klasifikasi pasar, Mirae Asset memperkirakan pasar saham Indonesia masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan sekitar 20% dalam denominasi dolar AS. Itu akan berlangsung hingga MSCI mengambil keputusan pada Juni 2027.

Kendati demikian, dia mengatakan proyeksi tersebut merupakan skenario yang mengacu pada pengalaman historis. Besaran penurunan di setiap negara dapat berbeda.

Dari sisi valuasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini diperdagangkan pada rasio forward price to earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price to book value (P/BV) 1,36 kali.

Wilbert menilai penurunan valuasi tersebut lebih mencerminkan proses penyesuaian valuasi (derating) akibat tekanan arus dana. Walakin, investor tetap perlu mencermati potensi revisi estimasi laba perusahaan, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang memiliki ekspektasi pertumbuhan laba relatif tinggi.

Cermati Saham Kepemilikan Asing Rendah dan Tinggi Dividen

Di tengah ketidakpastian tersebut, Wilbert menyarankan investor menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas dan menyiapkan dana tunai. Investor juga dapat mulai mencermati saham dengan eksposur kepemilikan asing relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi.

"Investor bisa menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas, mempersiapkan kas untuk sementara waktu, dan mulai mencermati saham dengan eksposur investor asing yang relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi," kata Wilbert.

Mirae Asset juga menilai investor perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah serta arah arus modal asing dalam menentukan strategi investasi. Pendekatan selektif dengan mempertimbangkan fundamental, likuiditas dan valuasi masing-masing emiten tetap diperlukan.

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata  menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi persoalan defisit kepercayaan dari investor institusi global. 

Menurut dia, langkah pembenahan transparansi dan free float sudah mengarah ke jalur yang tepat. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk memastikan seluruh kekhawatiran MSCI telah teratasi.

Menurut Liza, pembukaan konsultasi reklasifikasi menjadi Standalone Market pada 15 Oktober menunjukkan MSCI masih menunggu bukti perbaikan yang konsisten dari Indonesia.

Perbaikan tersebut tidak cukup hanya melalui perubahan aturan. Kepemilikan saham afiliasi harus dapat ditelusuri, porsi free float harus benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, serta penindakan terhadap manipulasi pasar harus mampu mengubah perilaku pelaku pasar.

Liza menjelaskan, risiko pengurangan bobot dan penghapusan saham dari indeks MSCI masih terbuka. Hal ini karena MSCI masih menggunakan data kepemilikan saham di atas 1% untuk menyesuaikan perhitungan free float dan menghapus saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC). Sementara itu, penambahan saham dan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) masih dibekukan.

Kendati demikian, Liza mengingatkan investor agar membedakan hasil tinjauan indeks MSCI pada 11 November 2026 dengan keputusan reklasifikasi pasar yang dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

"Penentunya adalah keandalan data kepemilikan, free float yang riil, serta bukti pengawasan dan penegakan hukum yang efektif di seluruh pasar," ujar Liza.

Menurut dia, besarnya tekanan pasar pada November akan bergantung pada saham-saham yang dihapus dari perhitungan indeks akibat konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC, serta perubahan bobot masing-masing saham. Tanpa perincian tersebut, proyeksi penurunan IHSG maupun arus keluar dana asing berisiko menjadi spekulatif.

Sebagai gambaran skala risiko, Kiwoom memperkirakan eksposur dana pasif Indonesia dalam skenario standalone market mencapai sekitar US$ 5,95 miliar berdasarkan posisi 15 Oktober 2026. Sekitar 64% dari eksposur tersebut terkonsentrasi pada empat saham perbankan besar, yakni BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI.

Liza menegaskan, angka tersebut bukan merupakan estimasi arus keluar dana asing pada November. Namun, konsentrasi tersebut menunjukkan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi saluran tekanan, meskipun memiliki fundamental yang relatif kuat.

Untuk menyikapi kondisi pasar, investor disarankan mengendalikan penggunaan utang atau leverage dan menjaga likuiditas. Pembelian saham juga sebaiknya dilakukan secara bertahap, terutama pada saham-saham likuid yang memiliki valuasi menarik dan pertumbuhan laba teruji.

Liza menyebut strategi speculative buy dapat dipertimbangkan secara terbatas dengan alokasi maksimal 20% hingga 25% dari dana perdagangan. Namun, investor juga dapat memilih menunggu hingga terdapat sinyal pemulihan pasar yang lebih meyakinkan.

"Menurut saya, November lebih merupakan ujian kredibilitas reformasi. Hasil review yang relatif baik dapat membantu sentimen, tetapi pemulihan kepercayaan membutuhkan bukti berkelanjutan," ujarnya.

Liza berpendapat, keberhasilan reformasi pasar modal pada akhirnya harus tercermin dari pengalaman investor dalam bertransaksi. Data kepemilikan harus dapat dipercaya, transaksi dapat dieksekusi dengan baik, dan setiap pelanggaran ditindak secara konsisten.

Sebab, persoalan yang awalnya muncul dari sejumlah saham kini telah berkembang menjadi persoalan kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia secara keseluruhan. Karena itu, reformasi yang dilakukan pemerintah dan regulator perlu dibuktikan melalui kembalinya kepercayaan investor global serta arus modal asing yang masuk secara berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...