OJK memahami adanya potensi dana asing yang keluar dari pasar modal RI akibat pembukaan daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan terdapat 53 rencana penawaran umum yang masih berada dalam pipeline alias daftar antrean hingga per akhir Maret 2025.
Dana asing sebesar Rp 23,34 triliun terpantau keluar dari pasar modal Indonesia sepanjang Maret lalu. Kondisi tersebut berbalik dari catatan net buy investor asing Rp 360 miliar pada bulan sebelumnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) dalam menangani tindak pidana di sektor jasa keuangan.
OJK, BEI, dan Kustodian KSEI kini lebih memerinci data pemegang saham di pasar modal. Mereka memperluas klasisfikasi investor dari sebelumnya terbagi 9, lalu 27, hingga menjadi 39 subkategori.
OJK sebelumnya telah menerbitkan dan mulai memberlakukan ketentuan terkait penerbitan ETF emas di pasar modal. Kebijakan itu kini memasuki tahap implementasi.
Analis menilai kebijakan pembatasan free float 15% BEI berpotensi meningkatkan kapitalisasi pasar berbasis free float serta mendorong bobot Indonesia dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE.
Sejumlah analis menilai langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan definisi porsi saham publik atau free float menjadi minimal 15% dapat mendorong kedalaman dan pertumbuhan pasar modal Tanah Air.
Valuasi pasar modal Indonesia saat ini dinilai telah murah imbas tengah gejolak politik dan kondisi penurunan peringkat negatif kredit RI dari lembaga asing.
Kombinasi faktor domestik dan eksternal membuat IHSG mengalami volatilitas tinggi. Namun analis menilai masalah fiskal RI semestinya mendapatkan penanganan prioritas demi penyehatan pasar ke depan.
Pelanggaran di pasar modal melonjak hingga menembus 27 kasus di tengah lesunya aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga kuartal pertama 2026 ini.
Pasar Modal global menghadapi tekanan berat seiring eskalasi konflik Timur Tengah yang picu lonjakan harga minyak dan ketidakpastian, dengan dampak bervariasi di tiap kawasan.