Ini 5 Saringan Lo Kheng Hong sebelum Membeli Saham untuk Jangka Panjang

Karunia Putri
6 November 2026, 11:14
Investor kawakan Lo Kheng Hong
Foto: Dok. SBM ITB
Investor kawakan Lo Kheng Hong.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investor kawakan Lo Kheng Hong telah melewati lima krisis yang membuat ekonomi Indonesia porak-poranda. Dari pengalamannya selama 37 tahun menjadi investor saham, dia membagikan sederet kiat agar investor dapat bertahan ketika harga saham berguguran.

Dalam acara Capital Market Summit & Expo yang digelar Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (5/11), Lo menceritakan telah menghadapi sederet peristiwa krisis. Dimulai dari Kebijakan Uang Ketat (Tight Money Policy) pada 1991, Krisis 1993, Krisis Moneter 1998, Krisis Keuangan Global 2008, hingga Pandemi Covid-19 pada 2020.

Menurut Lo, salah satu faktor yang membuatnya mampu bertahan melewati berbagai krisis tersebut adalah karena tidak memiliki utang. Ia selalu menggunakan uang sendiri untuk membeli saham sehingga tidak terbebani kewajiban membayar pinjaman ketika pasar mengalami tekanan.

"Jadi saya membeli saham hanya pakai uang saya sendiri. Saya tidak punya utang," ujar Lo di Gedung BEI, Kamis (6/11).

Pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu masih mengingat bagaimana nilai portofolionya sempat anjlok hingga 85% saat Krisis Moneter 1998. Saat itu, Lo mengaku sudah tidak bekerja, sementara istrinya merupakan ibu rumah tangga dan mereka memiliki dua anak.

Meskipun kondisi keuangan tertekan, Lo justru menemukan peluang investasi ketika harga saham jatuh. Ia mengibaratkan situasi tersebut seperti menemukan mobil Mercedes-Benz yang dijual seharga bajaj atau berlian yang dihargai seperti kerikil.

Pengalaman serupa juga terjadi saat Krisis Keuangan Global 2008 melanda dunia, termasuk Indonesia. Meskipun pasar saham RI sempat ikut terkoreksi akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat, Lo menilai kondisi ekonomi Indonesia saat itu relatif lebih sehat dibandingkan ketika krisis pada 1998. Karena itu, tekanan di pasar saham domestik tidak berlangsung terlalu lama.

Lo juga menyinggung investor legendaris Warren Buffett yang memanfaatkan krisis di Amerika Serikat pada 2008 untuk membeli saham perbankan. Saham tersebut kemudian disimpan dalam jangka panjang hingga menghasilkan keuntungan besar.

Saat krisis Pandemi Covid-19 pada 2020, Lo kembali memanfaatkan anjloknya harga saham untuk berinvestasi. Saat itu, dia mengatakan memiliki cadangan kas yang cukup besar sehingga bisa membeli saham perusahaan bagus dengan harga murah.

Strategi serupa kembali diterapkannya ketika pasar saham mengalami tekanan pada tahun ini. Lo mengaku memiliki dana tunai yang cukup untuk membeli saham-saham yang harganya sedang terkoreksi. "Saya bersyukur bisa melewati lima krisis di Indonesia dengan baik," kata Lo.

5 Kriteria Saham Layak Dibeli dan Disimpan Jangka Panjang

Selain berbagi pengalaman menghadapi krisis, Lo juga memaparkan lima kriteria yang menjadi pertimbangannya sebelum membeli saham dan menyimpannya dalam jangka panjang.

Pertama, Lo memastikan perusahaan memiliki pengendali dan manajemen yang jujur dan kompeten. Sebelum membeli saham, Lo selalu membaca laporan tahunan (annual report) untuk mengetahui kondisi perusahaan, pemegang saham mayoritas serta jajaran direksi dan komisarisnya.

Menurut dia, kualitas manajemen menjadi faktor penting karena investor perlu mengetahui siapa pihak yang mengelola perusahaan tempat mereka menanamkan modal.

"Saya tidak mau membeli kucing dalam karung. Jadi, saya harus tahu apa yang saya beli. Saya buka annual report, saya lihat siapa pemegang saham mayoritasnya, siapa direksi dan komisarisnya, apakah mereka orang yang jujur dan kompeten?" ujarnya.

Lo juga mengatakan tidak tertarik membeli saham perusahaan yang dikelola oleh orang-orang yang tidak memiliki integritas.

Kedua, Lo memilih perusahaan dengan bidang usaha yang prospektif. Ia cenderung menghindari perusahaan yang produknya harus bersaing langsung dengan produk asal Cina karena harga produk dari negara tersebut relatif murah sehingga berpotensi menekan daya saing perusahaan.

Sebaliknya, ia lebih menyukai perusahaan yang produknya dibutuhkan oleh Cina dan India. Menurut Lo, komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit memiliki peluang karena kedua negara tersebut membutuhkan pasokan dari negara lain.

"Misalnya batu bara dan kelapa sawit. Kelapa sawit tidak bisa ditanam di Cina dan India, sehingga sekitar 2 miliar penduduk Cina dan 2 miliar penduduk India serta negara-negara lain, harus membeli dari kita," katanya.

Ketiga, ia hanya memilih perusahaan yang mampu menghasilkan laba besar dan terus bertumbuh. Lo menghindari perusahaan yang merugi maupun perusahaan dengan keuntungan yang kecil.

Ia menginginkan perusahaan yang labanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut dia, perusahaan dengan keuntungan besar dan pertumbuhan laba berkelanjutan ibarat mesin pencetak uang bagi pemegang sahamnya.

Keempat, Lo mencari saham perusahaan bagus yang masih dihargai murah di pasar. Ia memperhatikan rasio valuasi, terutama price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV).

Dia menyebut tidak tertarik membeli saham perusahaan bagus jika valuasinya sudah terlalu mahal. Sebaliknya, ia mencari perusahaan berkinerja baik yang memiliki PER dan PBV rendah.

Menurut Lo, harga yang murah dapat membantu menekan risiko investasi. Sebaliknya, membeli saham dengan PER dan PBV tinggi dapat meningkatkan risiko apabila valuasinya terkoreksi.

Kelima, ia mempertimbangkan besaran dividend yield atau imbal hasil dividen yang ditawarkan perusahaan. Lo menyukai saham yang mampu memberikan dividen tinggi kepada pemegang saham.

Bahkan, ia menyebut dividend yield hingga 14% sebagai imbal hasil yang sangat menarik. Dengan dividen besar, investor bisa memperoleh penghasilan tanpa harus aktif bekerja atau menjalankan bisnis.

Lo mengibaratkan investor yang memperoleh dividen sebagai sleeping shareholder, yakni pemegang saham yang tetap mendapatkan penghasilan dari kepemilikan sahamnya.

"Jadi, lima hal itu cukup. Pertama, jujur dan kompeten. Kedua, bidang usahanya bagus. Ketiga, labanya besar dan bertumbuh. Keempat, valuasinya murah. Kelima, dividend yield-nya tinggi," ujar Lo.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...